SATUMEDIA.ID – Puluhan orang peserta tur edukasi Geotrek Sesar Lembang yang diiniasi Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung mengunjungi Gunung Batu di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Minggu (24/8/2025) pagi,
Pada kegiatan ini, peserta yang berjumlah 60 orang diperlihatkan perubahan permukaan tanah, jenis batuan, hingga potensi getaran yang bisa terjadi.
Gunung Batu menjadi bukti aktivitas Sesar Lembang. Batuan itu timbul akibat aktivitas gempa bumi sejak jutaan tahun lalu.
Diketahui, Gunung Batu merupakan bagian dari Sesar Lembang yang dulunya berada satu level. Kemudian terangkat akibat tektonik, bergeser sekitar 120 sampai 460 meter. Dari penelitian, ada pergeseran vertikal sekitar 40 sentimeter, yang kemungkinan akibat gempa magnitudo 6,5–7.
Sesar Lembangi membentang sepanjang 29 kilometer dari ujung utaranya di Cilengkrang, Kabupaten Bandung, hingga ujung baratnya di Padalarang, KBB.
Turut serta dalam rombongan,
peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Mudrik Rahmawan Daryono.
“Kami sengaja membawa rombongan untuk melihat langsung Gunung Batu yang menjadi bukti aktivitas Sesar Lembang. Sengaja dibawa biar mereka percaya,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi saat ditemui.
Selain itu, lanjut Didi, pihaknya ingin mendapatkan penjelasan dari peneliti BRIN. Menggali keterangan kejadiannya Sesar Lembang
“Jadi Kang Mudrik menjelaskan di sini, Sesar Lembang itu kejadiannya seperti apa, fungsinya seperti apa, kemudian kalau ada dampak negatifnya bagaimana,” tuturnya.
Peneliti Sesar Lembang dari BRIN, Mudrik Rahmawan Daryono menjelaskan, beberapa kali kejadian gempa Sesar Lembang tidak dapat disimpulkan sebagai foreshock atau gempa pendahuluan.
“Namun demikian, rentetan gempa Sesar Lembang yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir harus tetap diwaspadai oleh pemerintah maupun masyarakat Bandung Raya. Yang jelas, kita sebagai scientist belum bisa memastikan apakah ini akan disusul gempa besar, atau hanya gempa kecil terus diam, dua hal yang bisa terjadi,” terang Mudrik.
Ia mengingatkan, kejadian gempa bumi dari Sesar Lembang dan Sesar Baribis yang mengguncang Kabupaten Bekasi merupakan hal yang patut diwaspadai. Pasalnya, gempa yang berulang merupakan salah ciri utama sebelum adanya gempa utama dengan magnitudo yang cukup besar.
“Saya sepakat dengan BMKG, mereka khawatir ini sebagai foreshock. Kejadian lalu, setelah terjadi gempa Sesar Lembang ada gempa di Bekasi yang juga bisa sebagai foreshock. Kita enggak tahu gempa besarnya di sini atau Sesar Baribis,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, Sesar Lembang telah masuk dalam rentang waktu pelepasan energi besar sejak abad 15, tepatnya dalam tentang tahun 1450-1460. Dari penelitian, Sesar Lembang memiliki siklus pelepasan energi 170 hingga 560 tahun.
“Bagi kita sekarang, langkah yang paling bijaksana adalah tetap waspada. Yang terpenting sekarang, kita menyadari bahwa kita tinggal di daerah yang berdampingan dengan sumber gempa bumi. Menjadikan kita harus tahu cara survive dan aman dengan ancamannya,” pungkasnya.*






