SATUMEDIA.ID – Di balik padatnya permukiman, gedung, jalan, dan infrastruktur modern, Kota Bandung menyimpan jejak sejarah geologi yang terbentuk selama puluhan ribu tahun.
Wilayah yang kini dikenal sebagai Cekungan Bandung tersebut dulunya merupakan danau purba. Endapan yang tersisa dari Danau Bandung Purba hingga kini masih berada di bawah permukaan dan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam mitigasi bencana gempa bumi.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Hidayat, mengatakan keberadaan Danau Bandung Purba telah dibuktikan melalui berbagai penelitian geologi.
Salah satunya melalui pengeboran yang menemukan lapisan endapan danau serta rawa yang terbentuk dalam proses geologi selama puluhan ribu tahun.
Menurut Edi, Danau Bandung Purba terbentuk akibat aktivitas vulkanik Gunung Sunda. Material hasil letusan gunung tersebut membendung aliran Sungai Citarum purba sehingga air menggenangi kawasan Cekungan Bandung.
“Letusan gunung itu membendung sungai yang ada di tengah Danau Bandung. Aliran air terus-menerus ada, menggenang seluruh dataran Bandung, menjadi sebuah danau,” ujar Edi dikutip dari laman BRIN, Jumat (21/8/2026).
Danau tersebut diperkirakan mulai terbentuk sekitar 90.000 tahun lalu dan bertahan hingga sekitar 16.000 tahun lalu.
Seiring waktu, air danau menemukan jalur keluar dengan mengikis batuan melalui struktur rekahan di kawasan yang kini dikenal sebagai Curug Jompong. Proses tersebut membuat genangan perlahan menyusut hingga membentuk bentang Cekungan Bandung seperti sekarang.
Namun, mengeringnya danau tidak berarti seluruh material yang mengendap di dasarnya ikut menghilang.
Endapan lunak di bawah Bandung
Hasil pengeboran menunjukkan adanya lapisan endapan rawa yang kaya material organik, lempung, material vulkanik, hingga sisipan pasir.
Sebagian endapan tersebut belum mengalami litifikasi, konsolidasi, dan pemadatan secara sempurna. Kondisi itu membuat material di dalam cekungan relatif lebih lunak dibandingkan batuan keras yang mengelilinginya.
“Posisi endapan ini sebenarnya sekarang belum terlitifikasi, belum terkompaksi dan terkonsolidasi dengan baik. Kalau diibaratkan seperti agar-agar, sebagian masih lunak,” kata Edi.
Menurut dia, permukaan tanah yang menjadi tempat berdirinya berbagai bangunan saat ini tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi bawah permukaan Cekungan Bandung.
“Bagian permukaan saja yang keras yang kita tinggali, tetapi sebenarnya di bawah itu masih ada bagian-bagian endapan yang belum terkonsolidasi dan terkompaksi dengan baik,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi penting ketika Cekungan Bandung menerima gelombang gempa.
Perbedaan karakter antara batuan keras di sekitar cekungan dan endapan yang lebih lunak di bagian tengah dapat memunculkan fenomena amplifikasi atau penguatan guncangan gempa pada lapisan tanah tertentu.
Edi mengibaratkan material lunak di dalam cekungan seperti benda yang akan ikut bergerak ketika wadahnya diguncang.
“Cekungan Bandung ini hampir seluruh bagian dasar dan sekelilingnya disusun batuan-batuan keras dari produk gunung api dan batuan sedimen yang jauh lebih tua, sementara di tengahnya adalah batuan yang masih relatif lunak dengan umur yang jauh lebih muda,” katanya.
“Kalau dikasih getaran, ada efek namanya amplifikasi. Amplifikasi ini yang akan berbahaya bagi Kota Bandung kalau ada gempa,” lanjut Edi.
Sesar Lembang jadi perhatian
Risiko tersebut menjadi penting karena Cekungan Bandung berada tidak jauh dari sejumlah sumber gempa di daratan.
Salah satu yang paling mendapat perhatian adalah Sesar Lembang. Menurut Edi, sesar tersebut membentang sekitar 29 kilometer dengan arah barat-timur dan berjarak sekitar 10 kilometer di utara Kota Bandung.
Selain Sesar Lembang, penelitian geofisika juga menunjukkan adanya indikasi patahan lain di bawah permukaan Cekungan Bandung yang tidak seluruhnya dapat diamati secara langsung di permukaan.
Edi mengatakan risiko gempa di Bandung tidak dapat hanya dilihat berdasarkan lokasi sumber gempa. Kondisi geologi wilayah yang menerima guncangan juga harus diperhitungkan.
“Ini yang menjadi perhatian khusus karena Sesar Lembang paling dekat dengan Bandung. Sementara Bandung ini adalah danau purba yang kalau bergetar ada efek amplifikasinya,” ungkapnya.
Ada potensi likuifaksi
Selain amplifikasi, keberadaan lapisan pasir yang memiliki porositas tinggi di dalam endapan Danau Bandung Purba juga perlu menjadi perhatian.
Lapisan pasir yang jenuh air dapat mengalami perubahan tekanan ketika menerima guncangan gempa. Tekanan air di dalam material dapat meningkat sehingga mendorong air dan pasir ke arah permukaan.
Kondisi tersebut berpotensi memicu penurunan tanah atau fenomena likuifaksi.
Meski demikian, Edi tidak menyamakan potensi likuifaksi di Bandung dengan peristiwa likuifaksi berskala besar yang pernah terjadi di Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Ia menekankan bahwa keberadaan lapisan pasir dan air tanah jenuh di dalam endapan Danau Bandung Purba merupakan salah satu kondisi geologi yang perlu diperhitungkan dalam kajian risiko kegempaan di Bandung.
Bangunan harus disesuaikan
Karakter bawah permukaan Cekungan Bandung menjadi semakin penting karena kawasan tersebut kini berkembang menjadi wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk dan infrastruktur yang tinggi.
Berbagai bangunan berdiri di atas lapisan tanah dengan karakter geologi yang berbeda-beda. Karena itu, pemahaman mengenai kondisi bawah permukaan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bencana.
Edi mengingatkan pembangunan di Bandung perlu memperhatikan kondisi geologi dan menerapkan standar teknis bangunan tahan gempa.
“Pembangunan di Bandung ini harus melihat kode bangunan. Harus diperhatikan kekuatan secara tekniknya seperti apa, kalau ada gempa besar bagaimana bangunannya,” tegasnya.
Menurut dia, gempa bumi memang tidak selalu terjadi dalam waktu berdekatan. Namun, ketika terjadi gempa kuat, dampaknya dapat menjadi besar, terutama di kawasan perkotaan yang padat.
Karena itu, sejarah Danau Bandung Purba bukan sekadar cerita mengenai masa lalu wilayah Bandung. Jejak geologi tersebut menjadi informasi penting untuk memahami karakter tanah yang kini menopang kehidupan jutaan penduduk.
“Cekungan Bandung ini rentan terhadap bencana geologi, terutama gempa bumi, likuifaksi, penurunan tanah dan longsor di bagian batas cekungan,” kata Edi.
Ia menilai mitigasi perlu dilakukan melalui langkah struktural maupun nonstruktural, mulai dari memperkuat bangunan dan infrastruktur hingga meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai risiko bencana di lingkungan tempat tinggalnya.*





