SATUMEDIA.ID – Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan besarnya potensi ekonomi yang dapat digarap melalui hilirisasi komoditas perkebunan, terutama kelapa.
Menurutnya, pengolahan kelapa dalam menjadi produk turunan bernilai tinggi seperti coconut milk dan Virgin Coconut Oil (VCO) bisa mendongkrak nilai jual hingga seratus kali lipat.
“Kalau dari kelapa dalam diolah jadi VCO, harganya bisa naik 100 kali lipat. Hitungan kasarnya, potensi nilai tambahnya bisa mencapai Rp2.400 triliun. Bahkan jika hanya separuhnya saja yang terealisasi, itu tetap menghasilkan sekitar Rp1.200 triliun devisa. Dan itu baru dari kelapa,” ujar Amran dalam keterangannya yang dikutip dari laman Setpres, Sabtu (11/10/2025).
Selain kelapa, pemerintah juga tengah menyiapkan hilirisasi untuk komoditas gambir, yang selama ini menyuplai 80 persen kebutuhan dunia. Produk turunannya dapat dimanfaatkan untuk berbagai industri, mulai dari bahan tinta pemilu hingga produk rumah tangga.
Langkah serupa juga dilakukan terhadap komoditas sawit. Amran menjelaskan, tandan buah segar (TBS) akan diolah menjadi berbagai produk turunan seperti biofuel, minyak goreng, margarin, hingga mentega.
“Kami kini melakukan akselerasi hilirisasi untuk kakao, mente, kelapa dalam, lada, dan komoditas lainnya. Misalnya kelapa dalam, produksinya tahun lalu 29 juta ton, sekarang sudah mencapai 33 juta ton,” tuturnya.
Untuk mendukung percepatan program tersebut, pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp9,95 triliun bagi pengembangan perkebunan dan hortikultura. Dana itu antara lain digunakan untuk penyediaan benih dan bibit gratis bagi petani di seluruh Indonesia.
“Kita akan berikan benih untuk kakao, kopi, kelapa dalam, mente, dan pala di lahan sekitar 800 ribu hektare di seluruh Indonesia. Program ini akan membuka lapangan kerja bagi 1,6 juta orang dalam waktu paling lambat dua tahun,” pungkasnya.*




