SATUMEDIA.ID – Terletak di pesisir Cilegon, Banten, Stasiun Merak berdiri kokoh sebagai saksi perjalanan panjang konektivitas antara Pulau Jawa dan Sumatera. Lebih dari satu abad beroperasi, stasiun yang diresmikan pada 1 Desember 1914 ini bukan sekadar tempat naik-turun penumpang, melainkan juga simpul strategis yang menyatukan jalur rel dan jalur laut Indonesia.
Dibangun oleh Staatsspoorwegen Hindia Belanda, Stasiun Merak sejak awal dirancang untuk melayani mobilitas penumpang dan barang menuju Pelabuhan Merak, gerbang utama menuju Sumatera. Keindahan arsitektur bergaya Indische Klasik masih dipertahankan hingga kini, menghadirkan nuansa nostalgia di tengah geliat modernisasi transportasi.
Kini, stasiun bersejarah ini melayani KA Commuter Line Merak dengan relasi Merak–Rangkasbitung sebanyak 14 perjalanan setiap hari. Setiap bulannya, tak kurang dari 40 ribu penumpang memanfaatkan layanan ini, baik untuk aktivitas komuter harian maupun perjalanan wisata dan penyeberangan ke Sumatera.
Vice President Public Relations KAI Anne Purba menyampaikan bahwa Stasiun Merak menjadi simbol keterpaduan transportasi di Indonesia.
“Stasiun Merak memiliki nilai sejarah yang tinggi sekaligus fungsi strategis sebagai gerbang konektivitas Jawa dan Sumatera. KAI berkomitmen menjaga nilai historis bangunan ini sambil memastikan layanan yang aman, nyaman, dan tepat waktu bagi seluruh pelanggan,” ujar Anne dalam siaran pers yang dikutip Jumat (31/10/2025).
Keunggulan utama Stasiun Merak adalah lokasinya yang bersebelahan langsung dengan Pelabuhan Penyeberangan Merak–Bakauheni. Integrasi ini memudahkan penumpang berpindah moda transportasi dengan cepat, baik menuju kapal laut, bus antarkota, maupun angkutan lokal.
Untuk mendukung kenyamanan pelanggan, stasiun ini dilengkapi berbagai fasilitas seperti loket tiket, ruang tunggu, fasilitas boarding, musala, toilet, dan pos kesehatan. Sistem keamanan juga ditunjang oleh CCTV 24 jam serta layanan lost and found bagi pelanggan.
“KAI terus memastikan agar setiap layanan memenuhi standar keselamatan dan kenyamanan yang tinggi. Kami ingin pelanggan merasakan pengalaman perjalanan yang mudah, efisien, dan menyenangkan,” tambah Anne.
Sebagai salah satu dari lebih dari 600-an stasiun aktif yang dioperasikan KAI di Jawa dan Sumatera, Stasiun Merak menjadi contoh nyata bagaimana aset bersejarah dapat terus berperan dalam sistem transportasi modern. Melalui inovasi digital seperti aplikasi Access by KAI, masyarakat kini dapat memesan tiket, mengecek jadwal perjalanan secara real-time, memilih tempat duduk, hingga mengakses informasi promo dengan lebih mudah.
“KAI ingin terus menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini, tanpa meninggalkan nilai sejarah dan jati diri perkeretaapian nasional,” tutup Anne.
Meski usianya lebih dari seratus tahun, Stasiun Merak tetap menjadi nadi transportasi dan simbol keterhubungan antarpulau, menjembatani masa lalu dan masa depan perkeretaapian Indonesia.*





