Cuaca Ekstrem Mengintai, Dispernakan KBB Imbau Stop Sementara Budidaya Ikan di Saguling–Cirata

Kolam jaring apung di Waduk Saguling, Kecamatan Cihampelas, KBB.(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat meminta para peternak ikan keramba jaring apung (KJA) di Waduk Saguling dan Cirata untuk menghentikan sementara aktivitas budidaya. Imbauan ini dikeluarkan sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi kematian massal ikan akibat cuaca ekstrem.

Kepala Bidang Perikanan Dispernakan KBB, Dindin Rustandi, menjelaskan bahwa wilayah Saguling dan Cirata saat ini memasuki periode rawan kematian ikan yang berlangsung selama lima bulan, mulai November hingga Maret 2026. Kondisi cuaca tidak menentu dan fenomena alam tertentu dapat memperparah risiko kerugian bagi para peternak.

“Kami mengimbau para pembudidaya KJA untuk menghentikan sementara kegiatan budidaya, termasuk tidak menebar benih baru dan segera memanen ikan yang sudah siap panen,” ujar Dindin, Rabu (19/11/2025).

Salah satu ancaman utama adalah fenomena umbalan atau upwelling, yakni naiknya air dari dasar waduk ke permukaan yang membawa material dan senyawa berbahaya. Kejadian ini umum muncul pada musim hujan dan dapat menyebabkan kematian ikan secara serentak.

“Berdasarkan laporan yang kami terima, upwelling sudah terjadi di Waduk Cirata pada bulan Oktober lalu. Meski jumlah kematian ikan belum signifikan, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan,” kata Dindin.

Untuk mengantisipasi dampak lingkungan, Dispernakan telah menyebarkan rekomendasi teknis penanganan bangkai ikan melalui para penyuluh di setiap kecamatan.

Dindin menekankan bahwa ikan yang masih hidup harus segera dipisahkan dari yang mati untuk mencegah penularan penyakit dan penurunan kualitas air. Sementara itu, bangkai ikan mesti segera diangkat dari perairan dan tidak dibuang sembarangan.

“Jika jumlah bangkai ikan sangat banyak, langkah paling efektif adalah menguburnya. Lokasi penguburan juga harus diperhatikan agar tidak mencemari perairan dan tidak menimbulkan bau yang mengganggu masyarakat,” tandasnya.

Dengan periode rawan yang masih panjang, Dispernakan mengajak seluruh peternak KJA meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan teknis agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan sekaligus menjaga ekosistem waduk tetap sehat.*

Pos terkait