Kemarau Panjang Hantam Perikanan KBB, Produksi Ikan KJA Anjlok 902 Ton

Warga dengan menggunakan rakit mencoba menjaring iklan yang lepas di perairan Waduk Saguling, Kecamatan Cililin, KBB, Kamis (10/9/2026).(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Kemarau panjang memukul sektor perikanan di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Produksi ikan dari keramba jaring apung (KJA) tercatat turun 902 ton dalam setahun.

Data Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB menunjukkan, produksi ikan KJA di Waduk Saguling dan Cirata  pada triwulan I 2025 mencapai 9.922 ton. Namun, pada periode yang sama 2026, produksinya turun menjadi 9.020 ton. Penurunan tersebut mencapai sekitar 9,1 persen.

Kepala Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti mengatakan, kemarau panjang berdampak langsung terhadap kegiatan budidaya ikan. Berkurangnya ketersediaan air membuat ruang budidaya ikut menyusut.

“Musim kemarau panjang sangat berdampak terhadap produksi ikan, baik pada budidaya maupun perairan umum. Dampaknya bisa langsung terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan,” ujar Wiwin.

Menurut dia, penurunan debit air terjadi di sejumlah sumber air, termasuk sungai, kolam, dan waduk.

Kondisi tersebut menyebabkan luas maupun volume area yang dapat digunakan untuk budidaya ikan berkurang. Dampaknya kemudian berantai hingga produksi dan hasil panen.

“Kalau lahan budidaya berkurang, tentunya sangat berpengaruh terhadap produksi ikan. Produktivitas turun dan hasil panen juga ikut turun,” kata dia.

Wiwin memperkirakan, secara umum penurunan produksi ikan akibat kondisi tersebut berada di kisaran 10-20 persen.

“Ketika lahan budidaya berkurang, produktivitas juga turun. Akibatnya, hasil panen ikan mengalami penurunan sekitar 10 sampai 20 persen,” kata dia.

Dampak kemarau juga terlihat pada budidaya ikan di kolam air tenang. Pada triwulan I 2025, produksi ikan dari kolam air tenang tercatat sebanyak 1.550 ton. Setahun kemudian, angka tersebut turun menjadi 1.290 ton.

Artinya, produksi ikan kolam air tenang berkurang 260 ton atau sekitar 16,8 persen.

Wiwin mengatakan, keterbatasan sumber air menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produktivitas pembudidaya.

“Ketersediaan air sangat menentukan kegiatan budidaya. Ketika debit air menurun, luas atau volume budidaya juga ikut berkurang,” ujar dia.

Penurunan produksi tersebut menjadi salah satu dampak yang dirasakan sektor perikanan KBB di tengah kondisi kemarau panjang yang menyebabkan ketersediaan air semakin terbatas.*

Pos terkait