BMKG Terus Pantau Bibit Siklon Tropis 91S, Sejumlah Wilayah Sumatra Berpotensi Diguyur Hujan Lebat

Ilustrasi cuaca ekstrem.(Pixabay).**

SATUMEDIA.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan pemantauan intensif 24 jam terhadap perkembangan Bibit Siklon Tropis 91S yang terdeteksi di Samudera Hindia, tepatnya di sebelah barat Provinsi Lampung. Hasil analisis menunjukkan, sistem ini berpotensi memicu peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah Sumatra.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, meminta masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan. Menurutnya, dinamika atmosfer yang tengah aktif dapat memperkuat intensitas hujan, terutama di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, dan Lampung.

“Selain hujan lebat, masyarakat juga perlu mewaspadai potensi peningkatan tinggi gelombang di Samudra Hindia, mulai dari barat Nias hingga selatan Banten, serta di perairan Selat Sunda bagian selatan,” ujar Faisal di Sibolga, Sumatra Utara, Rabu (10/12/2025).

BMKG telah memantau keberadaan 91S sejak 7 Desember 2025 melalui Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta. Sejak awal pembentukan, monitoring dilakukan secara berlapis untuk mengamati perubahan intensitas dan potensi dampaknya.

Meski demikian, BMKG menegaskan peluang 91S berkembang menjadi siklon tropis yang masuk ke daratan Indonesia masih dalam kategori rendah. Masyarakat diimbau tidak panik dan selalu memperbarui informasi cuaca secara resmi melalui kanal BMKG.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menambahkan bahwa 91S diperkirakan bergerak ke arah selatan hingga barat daya mulai 11 Desember 2025 siang atau sore hari. Sistem ini diprediksi kemudian menjauhi wilayah Indonesia pada 12 Desember 2025.

“BMKG pusat dan daerah telah berkoordinasi dengan BNPB serta BPBD wilayah terdampak untuk memastikan langkah mitigasi dapat berjalan optimal,” kata Guswanto.

Sementara itu, Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, mengingatkan masyarakat di pesisir barat–selatan Sumatra hingga Banten untuk mewaspadai cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi. Pelaku sektor pelayaran, perikanan, dan transportasi laut juga diminta menyesuaikan kegiatan operasionalnya berdasarkan peringatan gelombang tinggi yang berlaku.

Pemerintah daerah melalui BPBD turut diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir dan gangguan cuaca lainnya. Menurut Andri, kolaborasi lintas sektor menjadi elemen vital dalam memperkuat respons cepat terhadap ancaman cuaca ekstrem.

“Sinergi ini memastikan informasi ancaman tersampaikan dengan cepat dan ditindaklanjuti secara efektif, sehingga risiko dapat diminimalkan dan keselamatan masyarakat tetap terjaga,” ujarnya.*

Pos terkait