Limbah Sawit Jadi Rompi Antipeluru, Inovasi IPB Lolos Uji Balistik TNI AD Batujajar

Ilustrasi pohon sawit.(Pixabay).**

SATUMEDIA.ID – Limbah kelapa sawit yang selama ini kerap dipandang sebelah mata kini menunjukkan potensi strategis bagi pertahanan nasional. Tim peneliti IPB University berhasil mengembangkan rompi antipeluru berbahan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang dinyatakan lolos uji balistik dan tersertifikasi militer.

Rompi inovatif tersebut berhasil melewati serangkaian pengujian ketat di Laboratorium Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Darat (Dislitbang TNI AD) di Batujajar, Bandung, Jumat (19/12/2025). Keberhasilan ini menandai tonggak penting riset biomaterial berbasis sumber daya lokal dalam mendukung kemandirian industri pertahanan Indonesia.

Riset rompi antipeluru TKKS merupakan hasil pengembangan bertahun-tahun, dengan fokus khusus pada material balistik sejak 2023. Setelah melalui berbagai tahapan pengujian, material tersebut akhirnya dinyatakan memenuhi standar kualifikasi militer.

Inovasi ini dikembangkan oleh tim multidisiplin IPB University yang diketuai Dr Siti Nikmatin, peneliti Pusat Studi Sawit sekaligus dosen Departemen Fisika. Tim peneliti terdiri atas Dr Irmansyah, Rima Fitria Adiati, MT, Dr Agus Kartono dari Departemen Fisika, serta Tursina Andita Putri, MSi dari bidang Agribisnis.

Proyek ini juga melibatkan mitra industri, PT Interstisi Material Maju, melalui Andika Kristinawati, MSi, untuk memperkuat proses hilirisasi hasil riset. Proses sertifikasi disaksikan langsung oleh pimpinan IPB University, di antaranya Kepala Lembaga Riset Internasional Teknologi Maju Prof Anas Miftah Fauzi dan Kepala Pusat Studi Sawit Prof Budi Mulyanto.

Pengujian balistik dipantau oleh jajaran perwira peneliti TNI AD, yakni Kolonel Cpl Kries Kambaksono, Kolonel Yayat Priatna P, Kolonel Hiras M.S Turnip, dan Kolonel Tri Handoko.

Dalam pengujian tersebut, rompi berbahan serat TKKS diuji menggunakan amunisi kaliber 9×19 mm dari jarak tembak 5 meter, baik dalam kondisi kering maupun basah. Selain itu, rompi juga menjalani uji ketahanan terhadap tusukan dan bacokan senjata tajam.

Hasilnya, rompi dinyatakan lulus karena mampu menahan proyektil tanpa tembus dengan tingkat deformasi bagian belakang di bawah 44 milimeter. Performa ini dinilai kompetitif dengan rompi antipeluru level IIIA yang beredar di pasaran.

Tak hanya unggul dari sisi perlindungan, rompi TKKS juga memiliki kelebihan dari aspek ergonomi. Bobotnya tercatat di bawah 2 kilogram dengan ketebalan kurang dari 2 sentimeter, sehingga dinilai lebih nyaman digunakan dalam jangka waktu lama.

Riset ini didanai melalui Program Dana Padanan (Kedaireka) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk tahun anggaran 2024–2025.

Ketua tim peneliti, Dr Siti Nikmatin, menegaskan bahwa tantangan selanjutnya adalah mendorong proses komersialisasi. Menurut dia, ketersediaan bahan baku serat sawit di Indonesia sangat melimpah, namun produksi massal masih membutuhkan dukungan investasi permesinan dan modal.

“Harapannya, inovasi ini mampu mengubah limbah kelapa sawit menjadi kekuatan baru bagi kedaulatan industri pertahanan Indonesia di masa depan,” ujar Siti dikutip dari laman IPB University.*

Pos terkait