SATUMEDIA.ID – Persepsi masyarakat terhadap ular yang identik dengan bahaya mematikan tidak sepenuhnya tepat. Hal ini mengemuka dalam kegiatan edukasi penanganan konflik ular dan manusia di IPB University, Jumat (25/4/2026).
Ahli herpetofauna sekaligus Executive Director Indonesia Herpetofauna Foundation, Nathan Rusli, menilai ketakutan berlebihan terhadap ular sering kali muncul dari kurangnya pemahaman.
“Banyak orang menganggap semua ular berbahaya, padahal tidak semuanya memiliki risiko tinggi. Ini yang kami sebut sebagai ‘risiko semu’,” ujar Nathan dikutip dari laman IPB University.
Menurut dia, persepsi tersebut membuat masyarakat cenderung panik, bahkan mengambil tindakan yang justru meningkatkan risiko, seperti mencoba membunuh atau menangkap ular tanpa pengetahuan memadai.
Padahal, secara umum ular terbagi dalam tiga kategori, yakni ular tidak berbisa dengan risiko rendah, ular besar atau pembelit dengan risiko sedang, serta ular berbisa dengan tingkat risiko tinggi.
Nathan menjelaskan, sebagian besar insiden gigitan ular bukan karena hewan tersebut agresif, melainkan akibat interaksi manusia yang tidak tepat. Ia mencontohkan king cobra yang dikenal cenderung menghindari manusia dan hanya menyerang saat merasa terancam.
Selain itu, faktor lingkungan juga turut memengaruhi persepsi. Kemampuan kamuflase ular yang menyerupai daun atau tanah kerap membuat keberadaannya tidak disadari, sehingga ketika terjadi kontak, manusia menganggap ular sebagai ancaman tiba-tiba.
Dalam kegiatan yang diinisiasi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) bersama Kantor Manajemen Keamanan, Keselamatan, dan Perlindungan Kampus (KMKKPK) IPB tersebut, Nathan menekankan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat.
Ia menyarankan langkah sederhana untuk mengurangi risiko, seperti menggunakan alas kaki tebal saat berada di area bervegetasi, membawa senter di tempat gelap, serta tidak sembarangan menyentuh area yang tidak terlihat jelas.
Lebih jauh, ia mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan penanganan mandiri terhadap ular. “Jika tidak yakin, jangan disentuh. Biarkan petugas yang menangani,” tegasnya.
Terkait pertolongan pertama pada korban gigitan, Nathan juga menyoroti masih banyaknya praktik keliru di masyarakat, seperti menyayat luka atau mengisap racun.
“Penanganan seperti itu tidak tepat dan justru berbahaya. Yang benar adalah meminimalkan pergerakan dan segera mencari bantuan medis,” katanya.
Melalui edukasi ini, diharapkan masyarakat dapat memiliki pemahaman yang lebih rasional terhadap ular, sehingga tidak lagi didominasi rasa takut, melainkan sikap waspada yang proporsional.*




