SATUMEDIA.ID – Fenomena sinkhole atau lubang runtuhan menjadi ancaman nyata di kawasan karst Indonesia. Amblesan tanah ini dapat terjadi secara perlahan maupun tiba-tiba, bergantung pada kondisi geologi dan aktivitas manusia di sekitarnya.
Koordinator Tim Geologi Tata Lingkungan Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Kementerian ESDM, Tantan Hidayat, menjelaskan bahwa sinkhole terbentuk melalui dua mekanisme utama, yakni solution sinkhole dan collapse sinkhole.
“Solution sinkhole berkembang perlahan akibat proses pelarutan batu kapur oleh air yang bersifat asam. Proses ini menciptakan rongga bawah tanah yang semakin besar dari waktu ke waktu,” kata Tantan dikutip dari laman Badan Geologi pada Selasa (20/1/2026).
Adapun collapse sinkhole, lanjut dia, terjadi secara mendadak. “Ketika atap rongga bawah tanah sudah tidak mampu menahan beban di atasnya, runtuhan bisa terjadi tiba-tiba dan membentuk lubang besar di permukaan,” ujarnya.
Gunung Kidul Termasuk Wilayah Rawan
Menurut Tantan, di Indonesia sinkhole kerap muncul di wilayah dengan karakteristik batuan karbonat, terutama kawasan karst seperti Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros. Salah satu wilayah yang memiliki intensitas kejadian cukup tinggi adalah Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pada 6 Januari 2025, sebuah sinkhole berdiameter sekitar 4 meter dengan kedalaman 4 meter muncul di Kwangen Kidul, Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul.
“Bagi warga setempat, kejadian seperti ini bukan hal baru. Daerah tersebut memang sering tergenang air, yang dalam jangka panjang dapat memicu amblesan tanah,” ujar Tantan.
Ia mencatat, kejadian serupa juga pernah terjadi pada 2017 di Desa Semanu, dengan diameter amblesan sekitar 6 meter dan kedalaman 3 meter. Lokasinya tidak jauh dari sinkhole terbaru.
“Pola kejadian ini menunjukkan bahwa sinkhole bukan kebetulan, melainkan bagian dari dinamika alam kawasan karst yang harus dipahami dan dikelola dengan baik,” katanya.
Karst Gunungsewu: Indah tapi Rapuh
Tantan menjelaskan, Gunung Kidul merupakan bagian dari Bentang Alam Karst Gunungsewu, kawasan karst yang membentang dari Bantul, Gunung Kidul, Wonogiri, hingga Pacitan. Kawasan ini terbentuk dari proses pelarutan batu kapur selama ribuan tahun.
“Karst itu ibarat keju Swiss raksasa—indah, berongga, tetapi sangat rapuh dan bisa runtuh tanpa peringatan,” ujar Tantan.
Ia menambahkan, di wilayah Semanu, sinkhole umumnya dipicu oleh air hujan yang menggenangi dolina atau cekungan tertutup di permukaan karst. Air tersebut kemudian menyusup ke rongga bawah tanah sambil membawa material tanah di atasnya.
Fenomena sinkhole, menurut Tantan, juga terjadi di berbagai daerah lain di Indonesia. Pada 2023, sebuah telaga di Desa Blembeng, Kebumen, mengering akibat retakan tanah yang membuka jalur air ke sistem drainase bawah tanah.
Masih pada tahun yang sama, di Blitar, runtuhnya gua bawah tanah menyebabkan Sungai Kaliasat Tenggong mengering dan mengganggu pasokan air irigasi.
“Selain faktor alam, aktivitas manusia seperti pengambilan air tanah berlebihan dapat mempercepat terbentuknya sinkhole karena melemahkan struktur rongga bawah tanah,” kata dia.
Fenomena Global
Tantan menyebut, sinkhole juga terjadi di berbagai negara lain. Di Florida, Amerika Serikat, pada 2013, sinkhole berdiameter lebih dari 30 meter muncul di kawasan perkotaan. Di China, Malaysia, Thailand, hingga Filipina, kejadian serupa terjadi akibat kombinasi kondisi karst, hujan ekstrem, dan aktivitas manusia.
“Ini menunjukkan bahwa sinkhole adalah fenomena global, terutama di wilayah dengan bentang alam karst,” ujarnya.
Untuk mengurangi risiko, Tantan menekankan pentingnya mitigasi. Salah satunya dengan pengelolaan air tanah yang bijak serta pemantauan kondisi bawah tanah menggunakan teknologi seperti georadar.
Ia juga mengingatkan agar pembangunan di Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) sebisa mungkin dihindari.
“Jika pembangunan tidak dapat dihindari karena kebutuhan strategis nasional, maka harus didahului kajian geologi dan hidrogeologi karst yang mendalam serta analisis risiko bencana,” tegasnya.
Selain itu, edukasi masyarakat dinilai tak kalah penting. Tanda-tanda awal seperti retakan tanah, tiang atau pohon yang miring, serta genangan air yang tidak biasa perlu segera dilaporkan.
“Mitigasi sinkhole bukan hanya soal teknologi dan regulasi, tetapi juga soal kesadaran untuk hidup selaras dengan alam,” pungkas Tantan.*





