Dosen UGM: Pelemahan Rupiah Bisa Dongkrak Harga Pangan hingga 8 Persen

Ilustrasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.(Dok.UGM).**

SATUMEDIA.ID – Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Hani Perwitasari, mengingatkan pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga pangan di dalam negeri hingga 2–8 persen, terutama pada komoditas yang bergantung pada impor.

Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS pada pertengahan Maret kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga pangan nasional. Fluktuasi kurs dinilai memberi tekanan langsung pada sistem pangan, terutama karena Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas strategis seperti kedelai, gandum, dan bawang putih.

Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan pangan maupun input produksi meningkat. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen, sekaligus menunjukkan betapa gejolak ekonomi global dapat berdampak langsung pada ketahanan pangan domestik.

“Fluktuasi nilai tukar akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi sekitar 2 hingga 8 persen tergantung jenis komoditas,” ujar Hani dikutip dari laman UGM, Sabtu (28/3/2026).

Menurut dia, dampak pelemahan rupiah tidak merata pada seluruh komoditas. Produk dengan pasokan domestik yang memadai cenderung lebih stabil meski terjadi tekanan kurs. Sebaliknya, komoditas dengan ketersediaan terbatas berpotensi mengalami lonjakan harga lebih tinggi.

Hani menjelaskan, komoditas seperti daging, telur, dan susu termasuk yang paling rentan terhadap gejolak nilai tukar. Hal ini karena produk tersebut sulit disubstitusi dan memiliki ketergantungan tinggi terhadap input tertentu.

“Komoditas yang sulit disubstitusi akan lebih cepat terdampak, sehingga kenaikan biaya bisa langsung diteruskan ke harga jual,” katanya.

Ia menambahkan, kerentanan ini tidak lepas dari struktur pangan nasional yang masih bergantung pada impor. Ketika produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan, impor menjadi solusi menjaga pasokan. Namun di sisi lain, ketergantungan tersebut membuat harga domestik semakin sensitif terhadap fluktuasi kurs.

“Semakin tinggi ketergantungan impor, semakin besar risiko terhadap gejolak nilai tukar,” ujarnya.

Selain berdampak pada harga pangan, pelemahan rupiah juga meningkatkan biaya produksi di sektor pertanian dan peternakan. Sejumlah input produksi yang terhubung dengan pasar global menjadi lebih mahal, sehingga total biaya produksi ikut naik.

Dalam jangka pendek, Hani menekankan pentingnya langkah pengendalian harga melalui ketersediaan data yang akurat terkait produksi dan kebutuhan pangan. Monitoring yang baik akan membantu pemerintah mengambil kebijakan yang tepat, termasuk dalam menentukan kebutuhan impor.

“Kalau pasokan kurang, impor diperlukan. Tapi kalau cukup, tidak perlu impor. Kebijakan harus berbasis data,” tuturnya.

Untuk jangka panjang, ia menilai penguatan produksi pangan domestik menjadi kunci utama. Dukungan terhadap petani melalui akses pembiayaan, subsidi input seperti pupuk dan benih, serta perlindungan lewat asuransi pertanian perlu diperkuat.

Selain itu, stabilitas harga di tingkat petani juga penting agar sektor ini tetap menarik secara ekonomi.

“Peran semua pihak, termasuk konsumen, sangat penting. Memilih produk dalam negeri bisa mendorong penguatan produksi pangan nasional,” kata Hani.*