SATUMEDIA.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menyiapkan sebanyak 57 tempat tidur isolasi di sejumlah rumah sakit guna mengantisipasi lonjakan pasien campak.
Plt Kepala Dinkes KBB, Lia N Sukandar, mengatakan fasilitas tersebut tersebar di rumah sakit milik pemerintah daerah, yakni RSUD Cililin, RSUD Lembang, dan RSUD Cikalongwetan, serta didukung sejumlah rumah sakit swasta.
“Kami sudah menyiapkan ruang isolasi di beberapa rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta, untuk memastikan penanganan pasien campak berjalan optimal,” ujar Lia, Selasa (31/3/2026).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes KBB, Enung Masruroh, menambahkan pihaknya juga tengah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat terkait pengadaan vaksin campak bagi tenaga kesehatan (nakes).
Menurut dia, nakes menjadi kelompok yang paling rentan tertular karena intensitas kontak yang tinggi dengan pasien di fasilitas layanan kesehatan.
“Vaksin campak untuk tenaga kesehatan di kabupaten saat ini belum tersedia, sehingga kami berkoordinasi dengan provinsi. Perlindungan nakes harus dipastikan karena risiko penularan cukup tinggi,” kata Enung.
Berdasarkan data Dinkes KBB, sejak Januari hingga 31 Maret 2026 tercatat sebanyak 287 kasus suspect campak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 44 sampel telah diuji di laboratorium Bio Farma.
Hasilnya, 30 sampel dinyatakan positif campak, dengan rincian 14 kasus dari pengujian pertama dan 16 kasus dari pengujian kedua.
“Alhamdulillah, saat hasil laboratorium keluar, seluruh pasien yang terkonfirmasi positif sudah dinyatakan sembuh,” ujar Enung.
Meski demikian, hingga kini masih terdapat empat pasien suspect campak yang menjalani perawatan di rumah sakit, masing-masing dua orang di RS Kharisma dan dua lainnya di RS Mitra Kasih.
Dinkes memastikan pembiayaan perawatan pasien campak masih ditanggung oleh BPJS Kesehatan, mengingat status Kejadian Luar Biasa (KLB) belum ditetapkan.
Dari sisi riwayat imunisasi, mayoritas kasus terjadi pada kelompok yang belum mendapatkan vaksin campak. Tercatat 223 pasien belum pernah diimunisasi, delapan orang sudah divaksin namun tetap terinfeksi, dan 56 lainnya tidak memiliki data riwayat imunisasi.
Enung menegaskan, program imunisasi rutin tetap digencarkan, khususnya untuk anak usia 9 bulan serta dosis lanjutan (booster) pada usia 18 bulan. Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran pentingnya vaksinasi.
Ia menjelaskan, gejala khas campak meliputi demam, munculnya ruam merah yang berawal dari belakang telinga lalu menyebar ke seluruh tubuh, serta konjungtivitis.
“Campak menular melalui udara. Meski umumnya dapat sembuh dengan imunitas yang baik, penyakit ini berisiko menimbulkan komplikasi serius, terutama pada pasien dengan penyakit penyerta seperti pneumonia,” katanya.
Dinkes KBB mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai langkah pencegahan, mengingat faktor musim bukan penentu utama dalam penyebaran campak.*



