SATUMEDIA.ID – Isak tangis tak terbendung saat ambulans yang membawa jenazah Mayor Infanteri (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar tiba di rumah duka di Kampung Cikendal, Kelurahan Cipageran, Kota Cimahi, Sabtu (4/4/2026) malam.
Jarum jam menunjukkan pukul 21.15 WIB ketika kendaraan itu perlahan berhenti di depan rumah. Suasana yang semula hening seketika berubah haru. Sejumlah prajurit berseragam Kopassus sigap menyambut, mengangkat peti jenazah dengan penuh penghormatan, lalu membawanya masuk ke ruang tamu yang telah dipersiapkan keluarga.
Di tengah suasana duka, sosok istri almarhum, Habibah Apriliani, tampak berjalan tertatih. Balutan pakaian hitam yang dikenakannya seakan menyatu dengan kesedihan yang ia rasakan. Tangisnya pecah saat melangkah masuk ke rumah, disambut pelukan dan isak keluarga yang sejak lama menanti kepulangan sang perwira—kali ini untuk yang terakhir.
Tangisan pun menjalar ke seluruh sudut rumah. Keluarga yang berkumpul tak kuasa menahan duka saat peti jenazah diletakkan. Beberapa di antaranya terlihat saling menguatkan, sementara yang lain hanya terdiam, menatap penuh kehilangan.
Di luar rumah, ratusan warga telah memadati jalan sempit menuju lokasi. Mereka berdiri berdesakan, sebagian mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen, sebagian lain hanya menunduk hening, menyaksikan kepulangan seorang putra daerah yang gugur dalam tugas.
Malam itu, rumah sederhana di sudut Cimahi berubah menjadi ruang perpisahan yang penuh haru—tempat keluarga, sahabat, dan warga memberi penghormatan terakhir.
Jenazah Mayor Zulmi akan disemayamkan semalam sebelum diberangkatkan menuju Taman Makam Pahlawan Cikutra, Kota Bandung, Minggu (5/4/2026) pagi. Rencananya, iring-iringan akan berangkat sekitar pukul 07.00 WIB.
Upacara pemakaman dijadwalkan berlangsung pukul 09.00 WIB dan akan dipimpin langsung oleh Agus Subiyanto.
“Rencananya berangkat dari sini jam 7 atau setengah 8 pagi, karena di sana mulainya jam 9. Informasinya, iya langsung Panglima TNI yang memimpin,” ujar perwakilan keluarga, Risman Efendi.
Kepergian Mayor Zulmi bukan hanya meninggalkan luka bagi keluarga, tetapi juga duka bagi warga yang mengenalnya seorang prajurit yang kini pulang dengan kehormatan, diiringi doa dan air mata.*


