SATUMEDIA.ID – Dinas Kesehatan Kota Cimahi mencatat 155 kasus suspek campak sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, 16 orang dipastikan positif setelah melalui pemeriksaan laboratorium.
Kepala Dinkes Kota Cimahi, Mulyati, mengatakan data itu merupakan akumulasi laporan dari sejumlah rumah sakit di wilayah Cimahi. Karena itu, pasien yang tercatat tidak seluruhnya warga setempat, melainkan juga berasal dari luar daerah yang menjalani perawatan di Cimahi.
“Yang positif ada 16 orang, dan semuanya sudah sembuh. Namun, itu bukan hanya warga Cimahi,” kata Mulyati, Senin (6/4/2026).
Temuan lain yang menjadi sorotan adalah status imunisasi pasien. Dari 16 kasus positif, sebanyak 15 di antaranya belum pernah menerima vaksin campak atau vaksin MR (measles-rubella).
Kondisi tersebut, menurut Mulyati, menunjukkan masih adanya celah dalam perlindungan kesehatan anak. Padahal, imunisasi merupakan langkah paling efektif untuk mencegah penularan campak sekaligus memperkuat daya tahan tubuh.
Vaksin MR diberikan saat bayi berusia 9 bulan, dilanjutkan booster pada usia 18 bulan, serta pada rentang usia 5–7 tahun melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah. Ia menegaskan, layanan imunisasi tersedia luas, mulai dari rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga praktik bidan mandiri.
Meski cakupan imunisasi dasar lengkap di Cimahi pada 2025 telah melampaui 95 persen, Mulyati mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah. Selain imunisasi, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat juga menjadi kunci pencegahan.
Penularan campak terjadi melalui droplet atau percikan saat penderita batuk dan bersin. Karena itu, masyarakat diminta membiasakan etika batuk, mencuci tangan secara rutin, serta menghindari kontak dengan individu bergejala.
Gejala campak umumnya meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, hingga muncul bercak putih di dalam mulut. Jika gejala muncul, pasien dianjurkan segera melakukan isolasi mandiri setidaknya empat hari setelah ruam muncul.
“Segera periksa ke fasilitas kesehatan. Biasanya akan diberikan vitamin A untuk mencegah komplikasi seperti pneumonia atau radang otak,” ujar Mulyati.
Ia menambahkan, pemenuhan cairan dan nutrisi selama masa sakit juga penting guna mencegah dehidrasi. Campak, kata dia, tidak bisa dianggap remeh karena berpotensi menimbulkan komplikasi serius hingga kematian jika tidak ditangani secara tepat.*
