Paris Van Java Mall Bangun Sistem Pengolahan Sampah Mandiri

Selama hampir satu dekade terakhir, PVJ mal yang berada di Kota Bandung itu konsisten mengelola sampah secara mandiri.(Dok PVJ).**

SATUMEDIA.ID – Di tengah meningkatnya persoalan sampah perkotaan, pusat perbelanjaan Paris Van Java Mall atau PVJ menunjukkan langkah berbeda. Selama hampir satu dekade terakhir, mal yang berada di Kota Bandung itu konsisten mengelola sampah secara mandiri dengan sistem berkelanjutan yang tak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu menekan biaya operasional hingga puluhan juta rupiah setiap bulan.

General Affairs PVJ, Budi Santosa mengatakan, pengelolaan sampah terpadu di PVJ mulai dijalankan sejak 2014 dan terus dikembangkan hingga kini.

“Setiap hari timbulan sampah mencapai sekitar 3 sampai 4 ton. Saat akhir pekan jumlahnya bisa meningkat cukup signifikan,” ujar Budi dikutip dari laman Humas Pemkot Bandung, Sabtu (9/5/2026).

Dari total sampah harian tersebut, sekitar 60 persen merupakan sampah organik yang sebagian besar berasal dari tenant makanan dan minuman. Sampah organik itu kemudian diolah menggunakan metode maggotisasi dengan memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF).

Menurut Budi, sistem tersebut berjalan efektif untuk mengurai limbah organik sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi berupa kasgot atau pupuk organik.

“Hasil pengolahan kami manfaatkan kembali untuk kebutuhan perkebunan milik PVJ di kawasan Lembang,” katanya.

Ia menjelaskan, dari sekitar 3,5 ton sampah yang dihasilkan setiap hari, sekitar 2 ton di antaranya merupakan sampah organik yang diproses di fasilitas pengolahan milik PVJ. Dari proses tersebut, dihasilkan sekitar 13 hingga 15 kilogram kasgot per hari.

Sementara itu, sampah anorganik dikelola melalui kerja sama dengan pihak ketiga, sedangkan sampah residu yang tidak dapat diolah tetap dikirim ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Meski begitu, volume sampah yang dibuang ke TPA kini jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya.

Pengelolaan sampah di PVJ juga melibatkan seluruh tenant secara terintegrasi. Dari sekitar 350 tenant yang beroperasi, sekitar 30 persen merupakan tenant makanan dan minuman yang menjadi penyumbang terbesar sampah organik.

Setiap tenant diwajibkan memilah sampah sejak dari sumbernya. PVJ bahkan menyiapkan ember khusus untuk sampah organik dan menerapkan pengangkutan sampah secara rutin setiap malam.

Tak hanya itu, manajemen juga menerapkan aturan tegas bagi tenant yang tidak disiplin memilah sampah.

“Kalau masih tercampur, sampahnya tidak kami angkut. Bahkan ada denda Rp500 ribu dan dibuatkan berita acara pelanggaran,” ujar Budi.

Menurut dia, aturan tersebut menjadi bagian dari komitmen PVJ membangun budaya pengelolaan sampah yang disiplin dan berkelanjutan di lingkungan pusat perbelanjaan.

Upaya tersebut terbukti berdampak signifikan terhadap efisiensi operasional. Sebelum memiliki sistem pengolahan mandiri, biaya pengelolaan sampah di PVJ bisa mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta per bulan.

“Sekarang bisa ditekan menjadi sekitar Rp20 juta per bulan. Jadi manfaatnya bukan hanya untuk lingkungan, tapi juga efisien secara biaya,” katanya.

Budi menegaskan, pihaknya akan terus menjaga konsistensi pengelolaan sampah di tengah tingginya aktivitas pengunjung, terutama saat akhir pekan.

“Kami setiap hari berjibaku dengan sampah. Tapi kami akan terus berupaya memberikan yang terbaik untuk lingkungan,” ucapnya.*

Pos terkait