SATUMEDIA.ID – Kota Bandung baru saja memperingati hari jadi ke 214 yang jatuh pada tanggal 25 September 2024. Usia kota Bandung sudah cukup tua, kota yang berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya Sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkubanparahu yang lalu membentuk telaga.
Berdasarkan filosofi Sunda, kata Bandung juga berasal dari kalimat Nga-Bandung-an Banda Indung, yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung nilai ajaran Sunda. Nga-Bandung-an artinya menyaksikan atau bersaksi.
Bandung jauh lebih sejuk daripada Jakarta, suhu harian rata-rata Bandung sekitar 20-28 ºC. Hal ini dikarenakan Bandung terletak 768 meter di atas permukaan laut. Cuaca Bandung yang sejuk, pusat kuliner, fashion, factory outlet dan distro, industri kreatif, objek wisata beragam dan akses mudah ke Bandung via tol atau kereta cepat Whoosh via stasiun Padalarang dan Stasiun Tegalluar, menjadikan Bandung sebagai salah satu tempat yang cocok untuk menghabiskan liburan sebagai destinasi wisata.
Kota Bandung dijuluki sebagai kota kembang, karena pada zaman dahulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu, Kota Bandung dahulunya disebut juga dengan Paris van Java karena keindahannya yang mirip seperti Kota Paris di Prancis.
Bandung penuh dengan rumah-rumah Belanda yang kokoh dan jalan-jalan yang dipenuhi pepohonan, toko-toko yang modis, dan arsitektur yang elegan , sehingga dulunya disebut sebagai Parijs van Java. Beberapa peninggalan masa keemasan Bandung adalah Gedung Sate, Villa Isola, dan kampus ITB.
Mengutip laman Kementerian ATR/BPN memberi label kota masa depan pada empat kota di Indonesia yaitu Bandung, Semarang, Surakarta/Solo dan IKN Nusantara. Kota Bandung sebagai Kota Masa Depan berdasarkan Top 50 Smart City Government Rankings yang dirilis Eden Strategy Institute dimana Bandung menempati urutan ke 28 dari 230 kota besar di dunia.
Ibukota Jawa Barat ini dinilai mampu berkolaborasi dengan sektor publik dan swasta lain menggunakan solusi dan data digital. Kota kedua adalah Semarang, selanjutnya, kota lainnya di Jawa Tengah yakni Surakarta/Solo, dan ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi kota keempat yang mendapat gelar Kota Masa Depan.
Kota di Pulau Kalimantan ini dirancang menjadi smart city yang didukung oleh smart transportation dan green building. IKN dilihat sebagai kota yang akan terus aktif mendukung kampanye global, termasuk biodiversity, sustainable development global dan climate change.
Sebagai kota masa depan tentu bicara tentang tantangan lima tahun kedepan karena kota Bandung yang berada di dataran tinggi mampu menyediakan aksesibilitas baik sehingga berpotensi menjadi pusat pertumbuhan.
Kota Bandung juga memiliki perkembangan layanan pendidikan, industri, dan pemerintahan sehingga mendorong kota menjadi pusat pertumbuhan yang terus berkembang. Sebagai kota yang dikenal di seluruh dunia, Bandung saat ini lebih dikenal dengan Konferensi Bandung yang bersejarah atau dikenal sebagai Konferensi Asia Afrika pertama pada tahun 1955, yang mempertemukan 29 negara yang baru merdeka dari dua benua yang mewakili lebih dari separuh populasi dunia.
Seperti diutarakan oleh Guruh Muamar Khadafi, S.IP., M.M., Kota Bandung, sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan populasi yang pesat di Indonesia, menghadapi tantangan serius terkait infrastruktur yang belum memadai. Meskipun telah terjadi perkembangan dalam pembangunan jalan dan transportasi umum seperti Bus Rapid Transit (BRT), namun infrastruktur masih belum mampu menanggapi dengan cepat laju pertumbuhan penduduk dan perkembangan kota.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung Tahun 2022, jumlah penduduk Kota Bandung dari hasil sensus penduduk tahun 2021 sebanyak 2.527.854 jiwa yang terdiri atas 1.267.661 jiwa penduduk laki-laki dan 1.260.193 jiwa penduduk perempuan. Dan pada akhir tahun 2023 , jumlah penduduk Kota Bandung sebanyak 2.569.107 orang.Dengan luas wilayah 167,67 km² dan sebaran penduduk 14.341 jiwa/km².
Dalam beberapa dekade terakhir, pertumbuhan penduduk yang cepat dan transformasi ekonomi yang pesat telah menimbulkan tekanan besar terhadap infrastruktur kota, ketersediaan air bersih, pendidikan, kesehatan, lingkungan, ekonomi, serta partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. Sejak tahun 2020 terdapat 3 (tiga) lapangan usaha yang memiliki kontribusi terbesar dalam struktur perekonomian Kota Bandung yaitu Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor (25,33 persen), Industri pengolahan (18,73 persen), dan informasi dan komunikasi (14,69 persen).
Masalah utama dihadapi Kota Bandung saat ini adalah jalan-jalan yang sempit yang tidak lagi mampu menampung volume kendaraan yang tinggi, menyebabkan kemacetan yang kronis di banyak titik. Sebagai contoh bila Anda melintas jalan Soekarno-Hatta / Buahbatu, baik pagi hari saat jam kerja dan masuk sekolah atau sore hari saat pulang kerja akan dihadapkan dengan kemacetan yang masif apalagi di perapatan Buahbatu banyak lampu merah yang waktu gilirannya tidak sama. Kemacetan lalu lintas menjadi masalah klasik yang belum kunjung terselesaikan.
Jumlah kendaraan pribadi meningkat setiap tahun, sementara infrastruktur jalan tidak berkembang seimbang. Bandung telah mencoba berbagai solusi untuk mengatasi kemacetan, seperti pembangunan jalan layang (flyover) dan pengembangan transportasi umum/ BRT.
Namun, hasilnya belum terlihat signifikan. Hal ini tidak hanya memperlambat mobilitas harian penduduk, tetapi juga menghambat pertumbuhan ekonomi dan investasi di kota ini.
Selain itu, infrastruktur drainase yang kurang memadai menyebabkan masalah banjir juga sering terjadi, terutama saat musim hujan. Banjir ini tidak hanya merugikan secara ekonomi tetapi juga mengancam keselamatan penduduk dan merusak lingkungan kota. Banyak trotoar yang tidak layak terutama bagi kaum distabilitas, gorong-gorong penuh pasir dan sampah sehingga bila hujan air meluap ke jalan.
Selain itu Kota Bandung mengalami masalah serius terkait ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak bagi seluruh penduduknya. Beberapa daerah di kota ini masih mengalami krisis air, terutama pada musim kemarau yang panjang.
Masalah lingkungan di Kota Bandung mencakup polusi udara yang meningkat, perubahan iklim, dan manajemen sampah yang belum optimal. Penggunaan kendaraan bermotor yang tinggi dan kurangnya kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan berkontribusi pada tingginya tingkat polusi udara di kota ini.
Selain itu, sistem pengelolaan sampah yang masih terpusat pada pembuangan akhir dan minimnya fasilitas daur ulang juga menyebabkan penumpukan sampah yang berlebihan. Bandung belum mencapai target minimal 30 persen RTH yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekologi kota.
Alih-alih bertambah, area hijau justru menyusut seiring dengan pesatnya pembangunan infrastruktur. Dampak dari berkurangnya RTH ini memperburuk kualitas udara kota. Tingginya penggunaan kendaraan pribadi membuat tingkat polusi udara semakin meningkat, memberikan dampak langsung pada kesehatan warga Bandung.
Pemilihan kepala daerah melalui pemilihan umum merupakan momentum penting untuk memilih pemimpin yang memiliki visi jelas dan kemampuan untuk memimpin perubahan positif dalam berbagai sektor. Pilkada serentak tanggal 27 November 2024 yang akan memilih calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung bukan hanya sekadar kontestasi politik, tetapi juga momentum untuk memilih pemimpin yang memiliki keberanian untuk menghadapi tantangan dan visi untuk menciptakan kota Bandung sebagai kota masa depan yang lebih baik.
Ini banyak PR bagi para kandidat dan tantangan bagi calon walikota dan wakil walikota yakni Dandan Riza Wardana – Arif Wijaya, Haru Suhandaru – Ridwan Dhani Wiriananta, Muhammad Farhan – H. Erwin dan Arfi Rafnialdi – Yena Iskandar Masoem. Apabila nanti terpilih seyogyanya agar menentukan skala prioritas termasuk PR tadi.
Meskipun dihantui berbagai permasalahan, kota Bandung masih memiliki potensi besar untuk bangkit dan menjadi kota masa depan menyongsong Indonesia Emas pada tahun 2045. Pada tahun 2045 mendatang, Indonesia genap berusia 100 tahun alias satu abad. Pada tahun tersebut, ditargetkan Indonesia sudah menjadi negara maju, modern, dan sejajar dengan negara-negara adidaya di dunia. Semoga kota Bandung kota masa depan termasuk didalamnya.Aamiin….*
*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM





