1 Anak Meninggal Tiap 43 Detik karena Pneumonia, Ini Cara Mencegahnya

(ki-ka) Farida Malawi, Speciality, Pharma, and Infectious Disease Director MSD Indonesia; Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.Inf.P.T.(K), Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Padjajaran dan Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis; dan dr. Amrilmaen Badawi, MBiomedSc, Country Medical Lead MSD Indonesia, dalam kegiatan Edukasi Kesehatan “Bantu Cegah Pneumonia, Berikan Perlindungan Lebih Luas pada Anak Sejak Dini” yang diinisiasi oleh MSD Indonesia di Bandung.(doc MSD Indonesia).**

SATUMEDIA.ID – Pneumonia masih menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan anak. Secara global, penyakit yang menyerang paru-paru ini disebut menyebabkan kematian satu anak setiap 43 detik. Kondisi tersebut mendorong MSD Indonesia menggelar edukasi bagi komunitas ibu di Kota Bandung bertajuk “Bantu Cegah Pneumonia, Berikan Perlindungan Lebih Luas pada Anak Sejak Dini” untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan pneumonia sejak usia dini.

WHO mencatat pneumonia berkontribusi terhadap sekitar 14 persen kematian anak di bawah usia lima tahun. Penyakit ini dapat berkembang dengan cepat hingga menimbulkan komplikasi serius, tetapi risikonya dapat ditekan melalui langkah pencegahan, salah satunya imunisasi. Di Indonesia, pemerintah bahkan menargetkan penurunan kasus pneumonia pada balita hingga 70 persen. Sementara itu, data BPJS Kesehatan menunjukkan pneumonia menjadi salah satu penyakit dengan beban biaya pengobatan tertinggi pada 2023.

External Affairs Director MSD Indonesia, Dudit Triyanto, mengatakan tantangan pencegahan pneumonia tidak hanya berkaitan dengan akses layanan kesehatan, tetapi juga pemahaman masyarakat. Menurutnya, kesenjangan informasi dan maraknya misinformasi dapat membuat orang tua terlambat mengambil langkah perlindungan bagi anak. Di Jawa Barat sendiri, tercatat 578.490 kasus pneumonia pada balita sepanjang 2019 hingga 2024. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, dr. R. Vini Adiani Dewi, MMRS, menilai komunitas ibu, kader, dan puskesmas memiliki posisi penting dalam memperkuat literasi kesehatan di tingkat keluarga.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Padjadjaran sekaligus Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.Inf.P.T.(K), turut mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan upaya pencegahan. Balita dinilai lebih rentan mengalami infeksi berat karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang. Ia juga menjelaskan bahwa pemberian beberapa imunisasi dalam waktu bersamaan dapat dilakukan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Melalui edukasi berbasis sains dan kolaborasi berbagai pihak, kesadaran masyarakat diharapkan meningkat sehingga perlindungan terhadap anak, khususnya di Jawa Barat, dapat semakin optimal.*

Pos terkait