Kebakaran 282 Hektare Savana Sembalun Berhasil Dipadamkan, 25 Pendaki Dievakuasi

Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan berhasil memadamkan kebakaran hutan yang melanda kawasan Savana Bukit Sempana, Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).(Dok.Kemenhut).**

SATUMEDIA.ID – Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan berhasil memadamkan kebakaran hutan yang melanda kawasan Savana Bukit Sempana, Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam operasi tersebut, sebanyak 25 pendaki dan wisatawan juga berhasil dievakuasi guna menghindari risiko akibat meluasnya kobaran api.

Operasi pemadaman melibatkan Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Balai KPH Wilayah II NTB, TNI, dan Polri.

Berdasarkan data di lapangan, kebakaran menghanguskan sekitar 282 hektare kawasan hutan lindung yang didominasi vegetasi savana, semak belukar, dan pohon cemara. Kebakaran terjadi pada tipe kebakaran permukaan di lahan mineral dengan kondisi topografi pegunungan yang terjal.

Hingga Kamis (11/6/2026), kebakaran dinyatakan berhasil dipadamkan sepenuhnya. Meski demikian, proses penanganan berlangsung cukup berat karena tim harus bekerja di medan pegunungan yang curam, berkabut, serta disertai kecepatan angin mencapai sekitar 12 kilometer per jam.

Selama operasi berlangsung, personel gabungan melakukan pemadaman langsung, penyisiran titik api, mopping up, serta pengamanan pengunjung untuk mencegah api kembali menyala maupun meluas ke area lain.

Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Selasa (9/6/2026) sekitar pukul 17.00 WITA dari arah Swela Pringabaya sebelum menjalar ke kawasan Bukit Sempana. Petugas Resort Sembalun segera melakukan upaya pemadaman awal hingga malam hari. Namun, keterbatasan personel dan logistik, kondisi medan yang berat, serta minimnya pencahayaan menjadi kendala dalam penanganan awal.

Setelah menerima laporan kejadian, tim Balai Dalkarhut Jabalnusra bergerak menuju lokasi pada malam hari dan bergabung dengan unsur terkait untuk memperkuat operasi pemadaman. Keesokan harinya, tim gabungan mendaki menuju titik kebakaran dengan membawa berbagai peralatan pemadaman seperti jet shooter, gepyok, parang, dan perlengkapan lapangan lainnya.

Pemadaman lanjutan dilakukan pada Kamis sejak pagi hingga sore hari. Tim akhirnya berhasil memadamkan titik api terakhir sebelum kobaran api meluas ke kawasan lain.

Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, mengatakan operasi di Bukit Sempana difokuskan pada dua prioritas utama, yakni menghentikan penyebaran api dan menjamin keselamatan para pendaki yang berada di sekitar lokasi.

Menurut Bambang, kondisi medan yang didominasi savana dan lereng terjal mengharuskan petugas bekerja ekstra untuk memutus jalur rambatan api sekaligus memastikan tidak ada bara yang berpotensi memicu kebakaran ulang. Selain itu, sebanyak 25 pendaki dievakuasi sebagai langkah antisipasi terhadap perubahan arah angin maupun perluasan area kebakaran.

Usai pemadaman, petugas terus melakukan pemantauan melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) milik Kementerian Kehutanan untuk mendeteksi kemungkinan munculnya titik panas baru.

Terkait penyebab kebakaran, Bambang menyebutkan pihaknya masih melakukan penyelidikan bersama instansi terkait. Informasi awal mengarah pada dugaan aktivitas perburuan liar di sekitar kawasan hutan.

“Jika dugaan tersebut terbukti, maka kejadian ini menjadi perhatian serius karena tidak hanya menyebabkan kerusakan ekosistem hutan, tetapi juga membahayakan keselamatan pendaki, masyarakat sekitar, serta petugas yang bertugas di lapangan,” ujarnya dalam siaran pers yang dikutip Minggu (14/6/2026).

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan bahwa pengendalian kebakaran hutan merupakan bagian penting dari upaya perlindungan kawasan hutan dan keselamatan masyarakat. Karena itu, Kementerian Kehutanan terus memperkuat kesiapsiagaan Manggala Agni sebagai garda terdepan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Menurutnya, kawasan hutan Sembalun memiliki nilai ekologis dan sosial yang sangat penting bagi masyarakat NTB. Oleh sebab itu, perlindungan hutan tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas lapangan, tetapi juga memerlukan dukungan aktif dari masyarakat.

Kementerian Kehutanan mengajak pemerintah daerah, aparat kewilayahan, pengelola kawasan, masyarakat sekitar hutan, serta para pengunjung untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan. Pelaporan dini, penggunaan api secara bijak, dan disiplin menghindari sumber-sumber pemicu kebakaran dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga kelestarian hutan dan keselamatan masyarakat.*

 

Pos terkait