SATUMEDIA.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menghancurkan ekosistem dan mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memperparah perubahan iklim akibat pelepasan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer.
Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengingatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan merupakan bagian dari krisis ekologis yang dapat mengganggu keseimbangan biosfer. Kerusakan tersebut semakin mengkhawatirkan karena Indonesia memiliki kawasan hutan gambut tropis yang luas serta hutan hujan tropis yang menjadi salah satu penyangga penting iklim global.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Eko Agus Suyono, mengatakan, Indonesia perlu memperkuat perannya dalam mitigasi perubahan iklim. Karena itu, kebakaran hutan dan lahan harus ditangani sebagai persoalan ekologis jangka panjang, bukan sekadar bencana yang membutuhkan penanganan darurat.
“Pencegahan karhutla harus menjadi agenda permanen yang didukung penguatan kelembagaan dan regulasi. Pemerintah tidak cukup bergerak ketika api sudah meluas, tetapi perlu memastikan sistem pencegahan berjalan secara konsisten,” kata Eko dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).
Menurut Eko, karhutla juga menyebabkan hilangnya fungsi ekosistem sebagai laboratorium alam. Kebakaran merusak struktur dan fungsi lingkungan sekaligus menghilangkan informasi ekologis yang dibutuhkan untuk memahami serta memulihkan ekosistem.
Salah satu dampak serius karhutla adalah kerusakan ekosistem gambut dan mikrobioma tanah akibat paparan suhu ekstrem. Mikroorganisme yang berperan dalam siklus unsur hara, termasuk bakteri pengikat nitrogen dan fungi mikoriza, dapat terganggu atau musnah akibat kebakaran.
Kerusakan tersebut berpotensi menghambat pemulihan kesuburan tanah dan keseimbangan ekosistem. Pada saat bersamaan, kebakaran dapat melepaskan karbon yang tersimpan di vegetasi dan tanah gambut ke atmosfer.
Pelepasan karbon tersebut menambah konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer sehingga berkontribusi terhadap pemanasan global dan memperparah perubahan iklim.
Eko menilai, pemulihan kawasan terdampak karhutla harus dilakukan berdasarkan kajian ilmiah yang menyeluruh. Pendekatan biologi sistem diperlukan untuk memahami keterkaitan antara tanah, mikroorganisme, vegetasi, dan fungsi ekosistem dalam menjaga siklus karbon.
“Pemulihan tidak bisa dilakukan secara instan. Restorasi harus diarahkan untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan, termasuk kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembasahan kembali lahan gambut atau rewetting, penanaman kembali vegetasi lokal, serta pemulihan mikrobioma tanah menjadi bagian penting dalam upaya rehabilitasi pascakebakaran.
Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekosistem sekaligus mendukung upaya dekarbonisasi berbasis alam, yakni mengurangi dampak perubahan iklim dengan mengembalikan kemampuan lingkungan menyerap dan menyimpan karbon.
Untuk mencegah karhutla berulang, Fakultas Biologi UGM mendorong pemerintah dan otoritas terkait mengevaluasi tata kelola lahan secara menyeluruh. Penegakan regulasi pencegahan kebakaran juga dinilai perlu dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Upaya tersebut perlu ditopang keterbukaan data ilmiah (open science) serta sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan. Pemanfaatan teknologi diharapkan dapat membantu mendeteksi potensi kebakaran lebih dini dan memperkuat upaya mitigasi.
Eko juga menyoroti pentingnya peningkatan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk kesiapsiagaan serta penanggulangan bencana. Selain itu, pemerintah perlu memperjelas pembagian kewenangan dan memperkuat koordinasi lintas sektor, mulai dari tingkat pusat hingga desa.
Menurut dia, sejumlah langkah yang perlu diperkuat meliputi sistem peringatan dini berbasis data iklim dan hidrologi gambut, perlindungan hukum bagi ekosistem gambut, penguatan kelembagaan masyarakat peduli api, serta pemberian insentif bagi praktik pembukaan lahan tanpa bakar.
Pencegahan tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko kebakaran sekaligus menekan potensi pelepasan karbon dari kawasan hutan dan lahan gambut.
Fakultas Biologi UGM menyatakan siap berkolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam penanganan dampak karhutla. Kolaborasi itu mencakup evakuasi, identifikasi, dan rehabilitasi satwa yang terdampak kebakaran.
UGM juga membuka peluang riset untuk mengembangkan formulasi mikroorganisme yang dapat membantu memulihkan tanah pascakebakaran. Selain itu, fakultas siap mendukung penyediaan bibit unggul dari spesies lokal untuk restorasi hutan.
Dukungan lainnya mencakup pendampingan ilmiah dalam penguatan kelembagaan dan penyusunan regulasi mitigasi karhutla, serta pengukuran dan pemantauan stok karbon di kawasan restorasi.
Eko menegaskan, pemulihan ekosistem membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Pendidikan, pelatihan, penelitian, serta pelibatan mahasiswa dalam kegiatan pemulihan lingkungan menjadi bagian dari kontribusi yang dapat dilakukan perguruan tinggi.
Melalui pendekatan berbasis sains dan kerja sama lintas sektor, upaya penanganan karhutla diharapkan tidak hanya memulihkan kawasan yang rusak, tetapi juga menjaga fungsi hutan dan gambut sebagai penyerap karbon untuk menekan dampak perubahan iklim.*





