SATUMEDIA.ID – Di Sumatera Barat, rel kereta api bukan sekadar sarana transportasi. Jalur besi itu menyimpan jejak panjang sejarah tambang batu bara Ombilin, Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur, Lembah Anai, Sawahlunto, hingga Pariaman. Di saat yang sama, rel juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang bepergian ke sekolah, kampus, tempat kerja, bandara, dan kawasan wisata.
Jejak sejarah tersebut kini menemukan relevansi baru seiring gagasan besar penguatan konektivitas kereta api di Pulau Sumatra. Pemerintah melalui arahan Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan jaringan rel yang lebih terhubung dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Dalam peta besar itu, Sumatera Barat memiliki posisi penting karena menyimpan sejarah panjang perkeretaapian, memiliki aset prasarana yang luas, serta layanan yang masih digunakan masyarakat hingga kini.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Sumatera Barat menunjukkan bagaimana kereta api sejak awal berperan sebagai penghubung kawasan tambang, pelabuhan, kota, dan masyarakat. Fungsi tersebut terus berkembang menjadi bagian dari mobilitas harian, akses wisata, hingga distribusi barang.
“Sumatera Barat menunjukkan bagaimana kereta api sejak awal menjadi penghubung ekonomi, kota, pelabuhan, dan masyarakat. Jejak itu tetap relevan untuk membaca kebutuhan konektivitas Sumatra hari ini,” ujar Anne dalam siaran pers yang dikutip Kamis (18/6/2026).
Sejarah perkeretaapian Sumatera Barat bermula pada akhir abad ke-19 saat jalur rel dibangun untuk menghubungkan tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto dengan pelabuhan di Padang. Stasiun Padang mulai dibangun pada 6 Juli 1889 guna memperlancar pengangkutan batu bara menuju Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur. Selanjutnya, Stasiun Pulau Air dibangun pada 1891 oleh Staatsspoorwegen ter Sumatras Westkust dan diresmikan pada 1 Oktober 1892.
Dari Padang, jaringan rel kemudian berkembang menuju Kayu Tanam, Padang Panjang, Solok, Muaro Kalaban, Sawahlunto, Pariaman, hingga Naras. Jalur-jalur tersebut dibangun melintasi perbukitan, lembah, dan tanjakan yang menantang. Dari lintasan inilah masyarakat mengenal lokomotif uap bergerigi Mak Itam, ikon perkeretaapian Sawahlunto yang erat dengan sejarah tambang Ombilin.
Berdasarkan data prasarana Divre II Sumatera Barat, total panjang jalur kereta api mencapai 312,232 kilometer spoor (kmsp). Dari jumlah tersebut, sepanjang 110,910 kmsp masih aktif beroperasi, sedangkan 201,322 kmsp berstatus nonaktif. Wilayah ini juga memiliki 20 stasiun dan shelter penumpang serta empat stasiun barang.
Saat ini, layanan penumpang di Sumatera Barat dilayani oleh KA Pariaman Ekspres relasi Pauh Lima–Padang–Naras, KA Minangkabau Ekspres relasi Pulau Air–Padang–Bandara Internasional Minangkabau, KA Lembah Anai relasi Kayu Tanam–Duku–Padang, serta KA wisata Mak Itam relasi Muarokalaban–Sawahlunto yang beroperasi sesuai kebutuhan wisata sejarah. Untuk angkutan barang, KAI melayani relasi Indarung–Bukit Putus guna mendukung distribusi semen curah dan klinker.
Keberadaan layanan tersebut menunjukkan kereta api masih menjadi bagian dari kebutuhan mobilitas masyarakat. Pada Januari–Mei 2026, layanan kereta api penumpang Divre II Sumatera Barat melayani 913.674 pelanggan. Jumlah itu terdiri atas 172.548 pelanggan pada Januari, 151.768 pelanggan pada Februari, 188.425 pelanggan pada Maret, 202.282 pelanggan pada April, dan 198.651 pelanggan pada Mei.
Sementara itu, angkutan barang mencapai 492.220 ton pada periode yang sama, terdiri dari 299.070 ton semen dan 193.150 ton klinker. Angkutan berbasis rel berperan menjaga kelancaran distribusi industri, mengurangi beban kendaraan berat di jalan raya, serta mendukung rantai pasok dari kawasan produksi menuju titik distribusi.
Dalam lima tahun terakhir, pasar kereta api di Sumatera Barat juga menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten. Volume pelanggan meningkat dari sekitar 1,09 juta orang pada 2021 menjadi 1.978.241 pelanggan pada 2025. Artinya, terjadi pertumbuhan sekitar 81 persen dalam kurun empat tahun, atau rata-rata 16 persen per tahun.
KA Pariaman Ekspres menjadi salah satu layanan dengan pertumbuhan paling kuat. Pada 2025, jumlah pelanggannya mencapai 1.615.996 orang, meningkat 15,61 persen dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 1.399.691 pelanggan. Layanan ini menghubungkan kawasan permukiman, pusat kota, kampus, hingga destinasi wisata pesisir yang ramai dikunjungi masyarakat, terutama saat akhir pekan.
Respons positif juga terlihat pada KA Lembah Anai setelah perubahan relasi layanan. Pada Januari 2026, jumlah pelanggan mencapai 24.607 orang, meningkat dari 9.932 pelanggan pada Januari 2025. Pada Februari 2026 tercatat 22.136 pelanggan, naik dari 7.270 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara pada Maret 2026 jumlah pelanggan mencapai 28.515 orang, meningkat dibandingkan 6.363 pelanggan pada Maret 2025. Data tersebut menunjukkan penyesuaian layanan mampu memperluas akses sekaligus meningkatkan minat masyarakat menggunakan kereta api.
Menurut Anne, kekuatan utama kereta api di Sumatera Barat terletak pada kedekatannya dengan ruang hidup masyarakat. KA Pariaman Ekspres melayani perjalanan antarkawasan permukiman, pusat kota, kampus, dan wisata pantai. KA Minangkabau Ekspres menghubungkan Kota Padang dengan Bandara Internasional Minangkabau. KA Lembah Anai membuka akses menuju Kayu Tanam dan sekitarnya. Sementara Mak Itam menjaga memori Sawahlunto sebagai kota tambang bersejarah yang telah diakui dunia.
“Kereta api di Sumatera Barat dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia melayani perjalanan harian, akses bandara, wisata, sekaligus mendukung distribusi barang,” kata Anne.
.Potensi pengembangan juga terlihat dari sektor pariwisata. Data BPS Sumatera Barat menunjukkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara meningkat dari 8,4 juta perjalanan pada 2021 menjadi 20,7 juta perjalanan pada 2025. Destinasi unggulan seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, dan Bukittinggi berada dalam koridor yang dapat diperkuat melalui konektivitas kereta api.
Sawahlunto memiliki nilai strategis tersendiri karena menjadi bagian dari Warisan Tambang Batu Bara Ombilin yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 2019. Di kota ini, rel tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari warisan sejarah, pendidikan, pariwisata, dan memori kolektif masyarakat.
Dari sisi transportasi regional, moda jalan masih mendominasi distribusi penumpang dan barang. Data Dinas Perhubungan Sumatera Barat mencatat pangsa moda jalan mencapai sekitar 96 persen untuk penumpang dan 87 persen untuk barang. Adapun kereta api baru mengambil sekitar 8 persen pangsa distribusi barang. Kondisi ini menunjukkan masih terbuka ruang besar untuk meningkatkan peran angkutan berbasis rel.
Peluang tersebut didukung keberadaan jalur nonaktif yang cukup panjang. Beberapa lintas yang masuk dalam potensi reaktivasi antara lain Naras–Sungai Limau, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Limbanang, Muarokalaban–Sawahlunto, Padang Panjang–Batubual, Batubual–Solok, serta Solok–Muarokalaban. Pengembangan bertahap pada jalur-jalur tersebut berpotensi memperluas akses menuju kawasan wisata, pusat pendidikan, sentra ekonomi, dan simpul logistik di wilayah Minangkabau.
Salah satu lintas yang dinilai memiliki prospek kuat adalah Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Payakumbuh dengan panjang sekitar 67,363 kmsp. Jalur ini berpotensi menghubungkan sejumlah wilayah strategis, memperkuat akses wisata, serta mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi barang. Selain itu, gagasan pembangunan jalur pintas Padang–Solok juga dinilai penting karena dapat menjadi pintu konektivitas menuju Lubuk Linggau di Sumatera Selatan.
Dalam konteks yang lebih luas, pengembangan rel di Sumatra berkaitan dengan upaya memperpendek waktu tempuh antardaerah, menekan biaya logistik, membuka akses wisata, serta memperkuat mobilitas masyarakat. Kajian reaktivasi menunjukkan bahwa ketika jalur Lembah Anai terputus, kendaraan logistik harus menempuh rute alternatif yang lebih jauh sehingga biaya operasional dapat meningkat sekitar 22 persen dibanding kondisi normal.
“Sejarah rel Sumatera Barat memberi pelajaran bahwa konektivitas bukan hanya soal jalur transportasi, melainkan juga akses, pertumbuhan wilayah, dan pemerataan kesempatan bagi masyarakat,” ujar Anne.*





