Krisis Air Bersih Meluas di Bandung Barat, BPBD KBB Distribusikan 71.000 Liter Air Bersih

Sejumlah warga di Kabupaten Bandung Barat terpaksa harus mengangkut air bersih dengan jerigen pada musim kemarau.(Dok.Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Musim kemarau mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB mencatat permintaan bantuan air bersih terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Sejak 10 hingga 26 Juli 2026, BPBD KBB telah menyalurkan 71.000 liter air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Bantuan tersebut diberikan kepada 1.395 kepala keluarga (KK) atau sekitar 5.200 jiwa di sejumlah kecamatan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD KBB Duddy Prabowo mengatakan, distribusi air bersih dilakukan berdasarkan laporan masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

“Selama periode 10 sampai 26 Juli 2026, kami telah mendistribusikan 71.000 liter air bersih kepada 1.395 KK atau sekitar 5.200 jiwa di wilayah terdampak,” ujar Duddy, Selasa (28/7/2026).

Menghadapi potensi bertambahnya wilayah terdampak, BPBD KBB menyiagakan tiga armada truk tangki air yang siap mendistribusikan bantuan kapan pun dibutuhkan.

Selain itu, BPBD membuka akses pelaporan bagi masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih. Warga dapat menghubungi Call Center Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD KBB di nomor 0877-1661-2121 atau menyampaikan laporan melalui ketua RT/RW maupun pemerintah desa setempat.

Duddy juga mengimbau masyarakat mulai mengantisipasi dampak musim kemarau dengan menyiapkan cadangan air di rumah serta menggunakan air secara hemat.

“Kami mengajak masyarakat memanfaatkan air hanya untuk kebutuhan yang benar-benar penting agar cadangan air dapat bertahan lebih lama selama musim kemarau,” katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana yang berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2026. Status tersebut diberlakukan sebagai upaya mengantisipasi dampak kekeringan sekaligus meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BPBD juga mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar. Menurut Duddy, kondisi vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan.

“Jika membutuhkan bantuan air bersih atau menemukan potensi kebakaran hutan dan lahan, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani secepat mungkin,” ujar Duddy.*

Pos terkait