Karhutla Menimpa 12 Kecamatan di Bandung Barat, 197.205 Meter Persegi Lahan Terdampak

Kebakaran lahan terjadi di kawasan Gunung Batu, Kampung Sukamulya RT 01 RW 10, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (22/7/2026) siang.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah melanda 12 dari 16 kecamatan di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.

Artinya, tiga perempat wilayah kecamatan di KBB telah terdampak kebakaran berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB hingga awal September 2026.

Dalam periode tersebut, BPBD KBB mencatat 148 kejadian kebakaran dengan total luas lahan terdampak mencapai sekitar 197.205 meter persegi.Kebakaran tersebar di 70 desa yang berada di 12 kecamatan.

Kepala Pelaksana BPBD KBB Rega Wiguna mengatakan, secara umum tingkat risiko karhutla di Bandung Barat berada pada kategori sedang.

Namun, tingkat risiko tersebut tidak merata di seluruh wilayah. Berdasarkan pemetaan BPBD, terdapat wilayah yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya.

“Secara keseluruhan risikonya berada pada kategori sedang, tetapi kondisi setiap wilayah berbeda. Ada daerah yang tingkat bahayanya lebih tinggi karena dipengaruhi kerentanan dan kapasitas penanganannya,” ujar Rega, Kamis (17/9/2026).

Salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus adalah Kecamatan Cipongkor. Wilayah tersebut berdasarkan pemetaan BPBD masuk dalam kategori risiko tinggi terhadap karhutla.

Rega meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di sekitar kawasan hutan maupun lahan terbuka yang rawan terbakar.

Personel dan peralatan terbatas

Luas wilayah KBB dan sebaran kejadian menjadi tantangan tersendiri bagi BPBD dalam menangani karhutla.

Rega mengatakan, kemampuan penanganan masih terkendala keterbatasan personel serta sarana dan prasarana.

“Jumlah personel dan dukungan peralatan yang kami miliki belum sebanding dengan luas wilayah Bandung Barat. Ini menjadi salah satu kendala ketika terjadi kebakaran di beberapa lokasi,” kata dia.

Untuk mempercepat penanganan, BPBD mengandalkan kolaborasi dengan berbagai unsur, mulai dari masyarakat, aparat kewilayahan, TNI, Polri, hingga Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar).

Menurut Rega, keterlibatan lintas sektor diperlukan karena BPBD tidak dapat menangani seluruh kejadian seorang diri.

“Penanganan di lapangan dilakukan bersama dengan unsur kewilayahan, dinas terkait, TNI, Polri, Damkar, dan masyarakat. Sinergi ini penting agar api bisa segera dikendalikan dan tidak meluas,” ujarnya.

Dengan sebaran karhutla yang telah mencapai 12 kecamatan, BPBD KBB berharap mendapat dukungan anggaran lebih besar dari pemerintah daerah.

Rega mengatakan, tambahan dukungan diperlukan untuk memperkuat kemampuan penanganan sekaligus upaya mitigasi dan pencegahan.

“Masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, terutama dari sisi anggaran. Kami berharap ada perhatian lebih sehingga sarana, personel, serta upaya pencegahan karhutla dapat diperkuat,” tuturnya.

BPBD juga terus mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam melakukan aktivitas di kawasan yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya di tengah kondisi lahan yang mudah terbakar.*

 

Pos terkait