Paving Blok di Cimahi Disulap Jadi Kanvas, Warga Sambut HUT Ke-81 RI dengan Lukisan

Mewarnai dan melukis paving blok di sebuah gang lingkungan Hujung Kulon, RT 08/RW 05, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi dalam rangka menyambut HUT ke 81 RI.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Paving blok di sebuah gang lingkungan Hujung Kulon, RT 08/RW 05, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, tak lagi terlihat monoton.

Batu-batu yang selama ini hanya menjadi pijakan warga disulap menjadi media lukisan bertema kemerdekaan. Warna-warni cat menghiasi lorong sempit tersebut sebagai bentuk kreativitas warga menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ide mengecat paving blok itu muncul dari warga setempat, Iim Agus Salim. Ia mengaku awalnya hanya ingin mengubah suasana gang yang menurutnya terlihat kusam.

“Awalnya saya melihat paving di depan rumah dan berpikir, kenapa tidak dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih menarik. Akhirnya muncul ide untuk menjadikannya media lukis,” kata Iim, Selasa (11/8/2026).

Gagasan tersebut kemudian disampaikan kepada warga sekitar. Respons positif pun bermunculan. Para kepala keluarga yang tinggal di sepanjang gang sepakat ikut berkontribusi agar rencana tersebut bisa direalisasikan.

Pembiayaan dilakukan secara swadaya. Setiap keluarga menyumbangkan sekitar Rp 40.000 untuk membeli cat, kuas, dan perlengkapan melukis lainnya.

“Tidak ada paksaan. Warga ikut sesuai kemampuan. Yang terpenting, semua punya keinginan yang sama untuk membuat lingkungan lebih semarak menjelang kemerdekaan,” ujar Iim.

Pengerjaan lukisan dilakukan secara gotong royong. Tidak hanya orang dewasa, pemuda, ibu-ibu, hingga anak-anak turut mengambil bagian.

Mereka menggunakan paving blok sebagai bidang gambar. Berbagai motif kemudian dibuat, mulai dari logo HUT ke-81 RI, bendera Merah Putih, hingga karakter kartun yang disukai anak-anak.

Keterlibatan warga membuat proses pengecatan tidak sekadar menghasilkan perubahan visual. Aktivitas tersebut juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarwarga.

Sebagian warga membantu mengecat, sementara lainnya menyiapkan minuman dan makanan ringan. Aktivitas yang berlangsung di lorong tersebut membuat suasana lingkungan semakin ramai dan akrab.

Iim mengatakan, pemilihan paving blok sebagai media lukis sengaja dilakukan karena material tersebut mudah dibagi menjadi bidang-bidang gambar. Namun, lebih dari itu, ia ingin menunjukkan bahwa memaknai kemerdekaan tidak harus dilakukan melalui kegiatan besar.

“Menurut saya, merayakan kemerdekaan bisa dimulai dari lingkungan sendiri. Sesuatu yang sederhana seperti mengecat jalan pun bisa menjadi bentuk kepedulian kalau dilakukan bersama-sama,” katanya.

Seluruh kebutuhan kegiatan dibeli menggunakan uang hasil iuran warga. Tidak ada bantuan anggaran dari pemerintah maupun pihak lain.

Kondisi tersebut, menurut Iim, justru membuat warga memiliki rasa tanggung jawab lebih besar terhadap hasil karya mereka.

“Karena semuanya dibuat dan dibiayai sendiri, warga merasa ikut memiliki. Jadi setelah selesai pun ada keinginan untuk menjaga agar tidak rusak atau kotor,” ujarnya.

Perubahan itu juga dirasakan anak-anak. Jika sebelumnya mereka hanya beraktivitas di sekitar gang, kini sejumlah anak mulai memperhatikan gambar yang ada di bawah kaki mereka.

Tidak jarang, mereka bertanya kepada orang tua mengenai gambar dan simbol yang dibuat di paving blok.

Bagi warga, kondisi tersebut menjadi nilai tambah. Lorong yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai akses jalan kini sekaligus menjadi ruang bermain dan belajar informal bagi anak-anak.

“Anak-anak sekarang lebih tertarik melihat gambar dan bertanya tentangnya. Dari situ kami bisa menjelaskan soal bendera, kemerdekaan, dan kenapa setiap tahun kita memperingati 17 Agustus,” tutur Iim.

Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, warga Hujung Kulon tidak menggelar perayaan dengan kemeriahan berlebihan. Mereka memilih menghadirkan suasana berbeda melalui karya yang dibuat bersama.

Iim berharap, warna-warni yang menghiasi paving blok tersebut tidak hanya menjadi dekorasi sementara.

“Catnya mungkin suatu saat akan pudar karena hujan dan panas. Tetapi kami berharap kebersamaan yang terbentuk dari kegiatan ini tidak ikut hilang. Kalau nanti perlu dicat ulang, kami siap mengerjakannya bersama lagi,” kata dia.*

Pos terkait