SATUMEDIA.ID – Upaya mengurangi sampah dari sumbernya terus dilakukan warga RW 16, Desa Lengkong, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung.
Setelah berhasil mengembangkan Rumah Magot pertama, warga kini menghadirkan Rumah Magot kedua dengan kapasitas yang lebih besar. Fasilitas baru ini dirancang tidak hanya untuk mengolah sampah organik, tetapi juga mengembangkan potensi ekonomi dari hasil pengelolaan sampah.
Rumah Magot kedua akan dilengkapi sejumlah fasilitas, mulai dari teknologi pengolahan sampah, sistem bioflok hingga mini farm.
Konsep tersebut diarahkan untuk membangun pengelolaan sampah yang terintegrasi di tingkat RW. Langkah ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program Pemerintah Kabupaten Bandung dalam mewujudkan Kabupaten Bandung Bebas Sampah dan Gerakan Tanami Halaman.
Camat Bojongsoang Kankan Taufik mengapresiasi inovasi yang dilakukan warga RW 16 Desa Lengkong.
Menurut dia, keberhasilan pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai dari program berskala besar. Perubahan justru dapat dimulai dari lingkungan terkecil, bahkan dari setiap rumah.
“Kesadaran mengelola sampah harus dimulai dari rumah. Ketika masyarakat sudah terbiasa memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya, persoalan sampah di lingkungan akan lebih mudah ditangani,” kata Kankan dikutip Kamis (13/8/2026).
Untuk mendukung kebiasaan tersebut, warga RW 16 menempatkan tempat sampah terpilah di sejumlah titik. Meski demikian, proses utama tetap dilakukan sejak sampah dihasilkan di rumah warga.
Sampah anorganik yang masih bernilai ekonomi dikumpulkan dan disalurkan melalui bank sampah. Adapun sampah organik diolah menggunakan sejumlah metode, termasuk magotisasi, lubang cerdas organik, dan pengomposan.
Dengan sistem itu, sebagian sampah yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan dapat dimanfaatkan kembali.
Pengembangan Rumah Magot kedua juga memperluas konsep tersebut. Kehadiran bioflok dan mini farm memungkinkan hasil pengelolaan sampah diintegrasikan dengan kegiatan produktif lainnya.
Konsep ekonomi sirkular pun mulai dibangun di lingkungan RW. Sampah yang dikelola dapat menghasilkan sesuatu yang kembali dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
Inovasi RW 16 Desa Lengkong diharapkan tidak berhenti sebagai program lingkungan setempat. Rumah Magot kedua ditargetkan menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah mandiri yang dapat diterapkan di RW lain di Kabupaten Bandung.
Dengan pengelolaan yang dimulai dari rumah tangga, masyarakat diharapkan tidak lagi melihat sampah hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai dan manfaat.*


