SATUMEDIA.ID – Bank Indonesia (BI) terus mendorong pengelolaan uang Rupiah yang lebih ramah lingkungan dengan menerapkan prinsip ekonomi sirkular. Salah satunya dilakukan dengan memanfaatkan limbah hasil racik uang kertas yang sudah tidak layak edar agar memiliki nilai guna baru.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali mengatakan, limbah uang tidak lagi semata-mata dipandang sebagai material yang harus dimusnahkan. BI kini berupaya mengolah limbah tersebut menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.
“Ketika uang tidak lagi layak edar, persoalannya bukan hanya bagaimana memusnahkannya, tetapi bagaimana limbah tersebut dapat kembali memberikan nilai melalui pemanfaatan yang produktif,” ujar Ricky dalam siaran pers yang dikutip Rabu (19/8/2026).
Salah satu bentuk pemanfaatan dilakukan melalui kerja sama dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Limbah racik uang kertas diolah menjadi berbagai produk cendera mata.
BI juga menggandeng perusahaan pengolahan energi untuk memanfaatkan limbah racik uang sebagai bahan tambahan sumber energi, baik untuk pembangkitan listrik maupun kebutuhan industri.
Hingga saat ini, sebanyak 72 persen limbah racik uang kertas telah berhasil diolah melalui pendekatan sirkular. BI menargetkan seluruh limbah racik uang dapat dimanfaatkan dengan cara serupa pada 2027.
Ricky mengatakan, penerapan prinsip keberlanjutan menjadi bagian dari transformasi pengelolaan Rupiah. Upaya tersebut mencakup seluruh tahapan, mulai dari pencetakan, pengedaran hingga pengelolaan uang yang sudah tidak layak edar.
“Pengelolaan uang Rupiah harus mengikuti tuntutan keberlanjutan lingkungan. Karena itu, transformasi ramah lingkungan terus kami lakukan dalam setiap tahapan pengelolaan Rupiah,” katanya.
Transformasi tersebut mendapat pengakuan internasional. Inovasi BI dalam pengelolaan uang Rupiah meraih penghargaan International Association of Currency Affairs (IACA) Award 2026.
Belajar dari Negara Lain
Upaya menerapkan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan uang juga dilakukan sejumlah bank sentral di kawasan Asia.
Bank Negara Malaysia (BNM), misalnya, mengolah limbah racik uang menjadi berbagai produk. Sementara itu, Bank of Thailand memilih menggunakan material kertas yang lebih tahan lama untuk memperpanjang masa edar uang.
Penggunaan material yang lebih awet dinilai dapat mengurangi kebutuhan pencetakan ulang uang akibat kerusakan atau masa edar yang pendek. Langkah tersebut sekaligus mendukung efisiensi dan pengelolaan uang yang lebih berkelanjutan.
Berbagai praktik tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam BRIDGE 2026, forum dialog internasional mengenai ekosistem pengelolaan uang yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, 13 Agustus 2026.
Forum tersebut diselenggarakan Bank Indonesia sebagai bagian dari rangkaian FERBI 2026. BRIDGE 2026 mempertemukan sejumlah bank sentral dan otoritas moneter dari India, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Papua Nugini.
Pelaku industri pengelolaan uang tunai dari berbagai negara juga turut ambil bagian dalam forum tersebut.
Melalui forum ini, pengalaman dan inovasi antarnegara dibahas untuk memperkuat pengelolaan uang yang tidak hanya efisien dan aman, tetapi juga semakin memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan.*

