SATUMEDIA.ID – Jalan usaha tani (JUT) sepanjang 1,2 kilometer dengan lebar sekitar 3 meter menjadi akses penting bagi petani di Desa Langensari, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Jalan yang membentang di kawasan persawahan tadah hujan tersebut dibangun secara bertahap sejak 2014-2015 melalui swadaya masyarakat.
Namun, setelah lebih dari satu dekade digunakan, sejumlah bagian permukaan jalan mulai mengalami keretakan. Pemerintah Desa Langensari pun mengusulkan perbaikan agar akses tersebut tetap mendukung aktivitas pertanian dan distribusi hasil panen.
Kepala Desa Langensari Agus Kusumah mengatakan, pembangunan JUT tersebut berawal dari kepedulian masyarakat terhadap kebutuhan akses menuju lahan pertanian.
“Awalnya pembangunan ini murni dari swadaya masyarakat. Peletakan batu pertama dilakukan pada masa Bupati Bandung Dadang M. Naser sekaligus peresmian Jalan Muhamad Nur di Desa Langensari,” ujar Agus saat ditemui di Kantor Desa Langensari, Selasa (1/9/2026).
Menurut Agus, dukungan masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur pertanian cukup besar. Sebanyak 29 pemilik lahan bahkan menghibahkan tanah mereka dengan total luas mencapai 214 tumbak.
Lahan yang sebelumnya hanya memiliki akses berupa pematang sawah kemudian berubah menjadi jalan yang dapat dilalui kendaraan roda dua.
“Kalau dulu hanya bisa dilewati pejalan kaki karena masih berupa pematang. Sekarang kendaraan roda dua sudah bisa masuk sehingga hasil pertanian, terutama setelah panen, lebih mudah dibawa keluar,” katanya.
Agus mengatakan kondisi JUT tersebut kini membutuhkan perbaikan. Usia jalan yang telah mencapai lebih dari 10 tahun membuat beberapa bagian mengalami kerusakan, terutama berupa retakan pada permukaan.
Pemerintah Desa Langensari kemudian mengusulkan perbaikan melalui dana aspirasi Dadang M. Naser yang kini duduk sebagai Anggota DPR RI.
“Kami sudah mengusulkan agar jalan ini bisa diperbaiki melalui dana aspirasi. Harapannya dapat segera direalisasikan dan permukaan jalan bisa di-hotmix,” ujar Agus.
Selain berasal dari swadaya masyarakat, pembangunan JUT juga mendapat dukungan pemerintah melalui dana desa dan bantuan provinsi.
Menurut Agus, anggaran pemerintah digunakan untuk memperkuat pondasi, rabat beton, hingga pembangunan jembatan yang menjadi bagian dari akses tersebut.
“Pembangunan jembatan dilakukan menggunakan dana desa secara bertahap dalam tiga tahun anggaran dan selesai pada 2018,” tuturnya.
Pangkas Jarak Warga
Keberadaan JUT tersebut tidak hanya memudahkan petani mengangkut hasil produksi, tetapi juga membuka akses baru bagi warga di sejumlah wilayah Desa Langensari.
Agus menyebut jalan itu menghubungkan RW 12, RW 13, dan RW 14, termasuk Kampung Tanggeung.
Sebelum jalan tersebut tersedia, warga RW 14 harus menempuh jalur memutar melalui Rancaekek dan Solokanjeruk untuk menuju Desa Langensari.
“Sekarang warga bisa langsung menuju Desa Langensari tanpa harus memutar. Jalan ini menjadi penghubung antarkawasan dan membuat akses warga jauh lebih pendek,” katanya.
Selain perbaikan jalan, Pemerintah Desa Langensari juga mengusulkan pembangunan dua titik jaringan irigasi air tanah (JIAT) yang akan memanfaatkan energi tenaga surya.
Usulan tersebut ditujukan untuk menjaga ketersediaan air bagi persawahan, terutama ketika musim kemarau.
Agus mengatakan, selama ini lahan persawahan mengandalkan aliran Sungai Citarik sebagai salah satu sumber air. Ketika debit sungai menurun atau mengering, sawah tadah hujan berisiko mengalami kekeringan.
“JIAT ini kami usulkan di dua titik untuk mengantisipasi kondisi saat kemarau, ketika Sungai Citarik mulai kering. Ini penting karena sebagian lahan di sini merupakan sawah tadah hujan,” ucapnya.
Pemerintah Desa Langensari berharap pembangunan JIAT mendapat prioritas karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan produksi pertanian.
Desa, kata Agus, juga telah menyiapkan lahan sekitar 100 meter persegi untuk lokasi pembangunan sarana tersebut apabila anggaran dapat direalisasikan.
“Harapannya program JIAT ini diprioritaskan untuk sawah tadah hujan. Tujuannya jelas untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan,” pungkasnya.*




