1.370 Hotspot Terdeteksi, Karhutla Masih Mengancam Kalimantan Barat dan Tengah

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah di Kalimantan dan Sumatra.(Dok.Kemenhut).**

SATUMEDIA.ID – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan setelah pemantauan satelit menunjukkan tingginya konsentrasi titik panas di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kemenhut yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, sebanyak 1.370 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) terdeteksi secara nasional pada Selasa (1/9/2026) pukul 21.25 WIB.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan hasil pemantauan sehari sebelumnya. Dalam keterangan tertulis, Kemenhut menyebut dari enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla, Kalimantan Barat mencatat jumlah hotspot tertinggi dengan 570 titik, disusul Kalimantan Tengah sebanyak 488 titik.

Sementara itu, Kalimantan Selatan tercatat memiliki 64 hotspot, Sumatera Selatan 19 titik, sedangkan Riau dan Jambi masing-masing nihil hotspot high confidence.

Kondisi tersebut dinilai menjadi perkembangan positif bagi Riau dan Jambi. Namun, tingginya konsentrasi titik panas di wilayah Kalimantan membuat pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan dan memusatkan operasi pengendalian di dua provinsi tersebut.

Kemenhut mengingatkan bahwa hotspot bukan berarti secara otomatis menunjukkan adanya kebakaran. Titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit sehingga masih membutuhkan pemeriksaan langsung di lapangan.

Satu peristiwa kebakaran juga dapat menghasilkan lebih dari satu hotspot. Karena itu, setiap indikasi harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu dengan melibatkan Manggala Agni Kemenhut bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta sejumlah pihak lainnya.

Operasi di lapangan meliputi pemadaman darat, patroli, pengecekan titik panas, penyekatan penjalaran api, mopping up, hingga pendinginan untuk mencegah api kembali menyala.

Selain operasi darat, pemerintah mengerahkan 53 armada udara ke enam provinsi prioritas.

Sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara sekaligus mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 34 armada lainnya disiapkan untuk operasi water bombing.

Pengerahan armada udara dilakukan untuk mempercepat penanganan titik api dan mencegah kebakaran meluas.

OMC juga terus dilakukan di wilayah yang memenuhi persyaratan meteorologis dengan tujuan mendukung upaya pengendalian karhutla.

Di sisi lain, pemerintah memperkuat deteksi dini dengan memanfaatkan data cuaca, sistem peringatan dini, serta jaringan observasi untuk menentukan prioritas operasi di lapangan.*

 

Pos terkait