Becak Listrik Bandung Tak Gantikan Angkot, Pasar dan Destinasi Wisata Jadi Lokasi Operasi

Pemkot Bandung menyiapkan konsep Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Becak (SPKLB) untuk mendukung operasional kendaraan tersebut.(Dok.Diskominfo Kota Bandung).**

SATUMEDIA.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mendapat dukungan program berupa 200 unit becak listrik yang akan diperuntukkan bagi para penarik becak di Kota Bandung.

Selain becak listrik, dukungan tersebut mencakup tablet pintar untuk siswa sekolah dasar (SD) serta kacamata pintar bagi siswa tunanetra, Jumat (19/9/2026).

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengapresiasi perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat Kota Bandung, terutama penarik becak, pelajar, dan penyandang disabilitas.

Farhan mengatakan, bantuan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang menjadi penerimanya.

“Ini merupakan bentuk perhatian yang sangat berarti bagi masyarakat Kota Bandung. Kami tentu mengapresiasi dukungan yang diberikan, terutama bagi para penarik becak, pelajar, dan siswa penyandang disabilitas,” ujar Farhan dalam siaran pers dikutip Sabtu (19/9/2026).

Farhan menjelaskan, 200 unit becak listrik tersebut akan disalurkan kepada penarik becak yang memenuhi sejumlah kriteria.

Salah satu persyaratannya adalah penerima berusia minimal 55 tahun, masih aktif bekerja sebagai penarik becak, dan berdomisili di Kota Bandung.

Meski demikian, Pemkot Bandung masih menyiapkan mekanisme penyaluran serta pengoperasian becak listrik tersebut.

Pemkot Bandung juga akan berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan untuk menentukan wilayah operasional dan lokasi pengisian daya.

“Kami masih menyusun mekanismenya. Nantinya kami akan berkoordinasi dengan kecamatan untuk menentukan lokasi operasional sekaligus titik pengisian daya bagi becak listrik,” kata Farhan.

Menurut dia, Pemkot Bandung juga tengah menyiapkan konsep Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Becak (SPKLB) untuk mendukung operasional kendaraan tersebut.

Farhan menegaskan, becak listrik tidak diproyeksikan untuk menggantikan transportasi umum utama di Kota Bandung.

Kendaraan tersebut akan difungsikan sebagai moda transportasi penunjang yang beroperasi di kawasan tertentu.

Pasar dan sejumlah destinasi wisata menjadi lokasi yang dipertimbangkan karena memiliki karakteristik perjalanan yang relatif sesuai untuk becak listrik.

“Penggunaannya lebih diarahkan sebagai transportasi umum penunjang, misalnya di kawasan pasar atau destinasi wisata tertentu yang kondisi jalannya relatif tidak memiliki banyak tanjakan,” tutur Farhan.

Ia mengatakan, kondisi medan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi operasional.

Wilayah dengan banyak tanjakan dinilai dapat memengaruhi penggunaan daya listrik sehingga perlu diperhitungkan sebelum becak listrik dioperasikan.

Konsep becak wisata juga terbuka untuk dikembangkan apabila kendaraan tersebut nantinya dimanfaatkan untuk mendukung sektor pariwisata.

“Kalau kemudian dikembangkan menjadi becak wisata, tentu bisa dipertimbangkan. Nanti kami lihat konsep yang paling sesuai,” ujar Farhan.

Dukungan program tersebut tidak hanya menyasar sektor transportasi, tetapi juga pendidikan dan inklusivitas.

Sejumlah siswa SD mendapatkan tablet pintar yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan pembelajaran.

Sementara itu, siswa tunanetra memperoleh kacamata pintar yang dilengkapi kamera.

Farhan menjelaskan, perangkat tersebut memiliki teknologi yang memungkinkan kamera menangkap tulisan untuk kemudian menerjemahkannya menjadi suara.

“Pada kacamata pintar itu terdapat kamera yang bisa memindai tulisan. Hasil pemindaian tersebut kemudian diterjemahkan menjadi suara sehingga dapat membantu siswa tunanetra,” jelasnya.*

Pos terkait