Bumbu Kacang Diduga Jadi Pemicu Siswa Keracunan MBG di Bogor, BGN Tunggu Hasil Lab

Badan Gizi Nasional (BGN) mewajibkan relokasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banyudono, Ponorogo, setelah ditemukan sejumlah pelanggaran teknis.(Dok.BGN).**

SATUMEDIA.ID – Badan Gizi Nasional (BGN) membawa sampel makanan yang diduga berkaitan dengan gangguan kesehatan puluhan siswa di Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Hasil pengujian tersebut akan menjadi salah satu dasar untuk mengungkap penyebab kejadian yang berlangsung pada Selasa (27/10/2026).

Dugaan awal mengarah pada penggunaan bumbu kacang yang telah diolah oleh pihak ketiga sebelum digunakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Dramaga 4. Namun, BGN menegaskan bahwa dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan, tim dari BGN Pusat bersama KPPG Bogor dan tim asistensi telah diterjunkan untuk menyelidiki kejadian tersebut sekaligus memantau kondisi para siswa.

“Sampel makanan sudah kami kirim untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Kami perlu menunggu hasil pengujian secara terperinci agar penyebab kejadian ini bisa diketahui berdasarkan bukti,” kata Tysa dalam keterangan tertulis dikutip Kamis (29/10/2026).

Sebagai langkah antisipasi selama proses penyelidikan, BGN juga menghentikan sementara operasional SPPG Bogor Dramaga 4. Penghentian tersebut dilakukan untuk mendukung investigasi dan evaluasi terhadap pelaksanaan layanan pemenuhan gizi.

BGN memastikan penanganan terhadap siswa yang mengalami keluhan kesehatan tetap menjadi prioritas. Perkembangan kondisi mereka terus dipantau, sedangkan langkah selanjutnya akan ditentukan berdasarkan hasil investigasi dan pemeriksaan sampel makanan.

Tysa menjelaskan, informasi yang menyebut lebih dari 400 siswa terdampak tidak sesuai dengan data yang dihimpun petugas di lapangan.

Berdasarkan pendataan awal, sebanyak 40 siswa sempat menjalani observasi di Puskesmas Cangkurawok, RS Medika Dramaga, dan RS Karya Bhakti Pratiwi.

Jumlah siswa yang masih menjalani observasi kemudian berkurang seiring perkembangan penanganan. Berdasarkan data hingga pukul 23.42 WIB, tercatat 13 siswa masih menjalani observasi di RS Medika Dramaga dan RS Karya Bhakti Pratiwi.

BGN menyampaikan bahwa klarifikasi tersebut bertujuan memberikan informasi sesuai perkembangan data, bukan untuk mengabaikan dampak yang dialami para siswa.

Tysa juga menyampaikan keprihatinan dan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Ia memastikan tim BGN terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengawal penanganan siswa sekaligus menelusuri sumber masalah.

Hingga pemeriksaan laboratorium selesai, penyebab gangguan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan. Hasil pengujian sampel makanan dan investigasi di lapangan akan menjadi acuan untuk menentukan langkah evaluasi berikutnya.*

Pos terkait