SATUMEDIA.ID – Kejadian tragis akhir tahun 2023 lalu masih belum dilupakan oleh Kampung Sumur Bor, Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Di tempat tersebut kereta api (KA) Feeder menghantam sebuah minibus hingga menelan 5 korban jiwa, Kamis (14/12/2023) sekitar pukul 13.00 WIB.
Membicarakan perlintasan sebidang di Kampung Sumur Bor, tak akan bisa dilepaskan dari cerita masa lalu dari kawasan tersebut. Konon jalur kereta api sudah ada sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda.
Menurut Ujang Sumarna (51) penduduk asli Sumur Bor, dulunya kawasan tersebut berupa kebun atau hutan. Masih sangat jarang orang yang mau tinggal di kampung tersebut.
“Tidak ada jalan bagi kendaraan, hanya berupa jalan setapak. Sampai 1989 masih jalan setapak, hanya agak sedikit lebar bisa dilalui sepeda motor,” kata Ujang Sumarna warga Kampung Sumur Bor RT 3/RW 4, Desa Cilame, Selasa (10/9/2024).
Seiring dengan bermunculannya komplek perumahan di sekitar Cilame, sedikit demi sedikit jalan berupa tanah itu diperlebar hingga akhirnya seperti sekarang.
“Ditambah lagi sekarang ada kantor Pemkab Bandung Barat di Mekarsari, jalan ini semakin ramai. Malah oleh pemerintah, beberapa waktu dibeton jadi semakin mulus dan lebar,” kata pria yang sehari-hari menjaga pintu perlintasan tersebut.
Seiring dengan semakin bagusnya Jalan Sumur Bor, volume kendaraan yang lewat terus bertambah. Begitupun kereta api yang melintas semakin meningkat.
Kereta api yang melintasi Sumur Bor sangatlah padat. Bahkan, kurang dari 5 menit ada dua kereta api yang melintas. Baik jurusan Bandung-Jakarta, KRD, sampai kereta tujuan kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan ditambah Feeder.
Begitupun kendaraan yang melintas, baik mobil maupun sepeda motor dalam satu menit lebih dari 20 unit. Ironisnya, selama puluhan tahun perlintasan sebidang itu tanpa dilengkapi palang pintu.
Ujang yang sudah puluhan tahun suka rela menjaga area perlintasan tersebut, mengungkapkan sudah lebih dari 10 nyawa melayang dari insiden tabrakan kereta api dengan mobil dan motor.
Peristiwa paling buruk (sebelum kecelakaan melibatkan KA Feeder) terjadi tahun 1996 dimana empat orang penumpang mobil pengangkut genting tewas setelah kendaraan yang ditumpanginya ditabrak kereta api Parahyangan.
“Ada juga beberapa kecelakaan sepeda motor. Ya kalau dihitung dari tahun 1990-an sampai sekarang mungkin belasan orang meninggal,” ujarnya.
Malah dulu, pada tahun 1960-an juga terjadi kereta api terguling. Konon, kabarnya kecelakaan itu disebabkan sang masinis secara mendadak menghentikan laju kereta api lokomotif yang dikemudikannya, karena merasa melihat ular raksasa lewat.
“Orang dulu menyebutnya liong (ular raksasa). Tapi memang daerah ini dulunya angker, malah sampai sekarang pun masih ada orang yang melihat berbagai keanehan. Termasuk saya yang pernah melihat seperti bola cahaya,” tutur Ujang yang mendapat dinobatkan sebagai Local Hero Award oleh Polres Cimahi ini.
Apa yang diceritakan Ujang, dibenarkan Sukmawati atau yang akrab dipanggil Wati. Beberapa orang pernah melihat berbagai kejadian aneh yang diluar nalar.
“Saya pribadi enggak pernah melihat hal-hal aneh, tapi banyak orang yang cerita pernah melihatnya. Termasuk soal Liong, katanya masinis melihatnya hingga secara mendadak melakukan pengereman sampai membuat kereta api terguling. Banyak korban jiwa dari kejadian itu,” kata Wati.
Terlepas cerita mistis yang mewarnai lintasan kereta api di Sumur Bor tersebut, untuk mencegah terjadinya kecelakaan tidak cukup hanya dengan memasang palang pintu.
Tapi seperti yang pernah disampaikan Kepala Dishub KBB Fauzan Azima, ke depan perlu dibangun underpass sehingga tak ada lagi persinggungan antara kereta api dengan kendaraan lain.*





