SATUMEDIA.ID – Seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) meninggal dunia saat mencoba kabur dari kejaran sekelompok pelajar lain.
Informasi yang dihimpun, lokasi kejadian di Jalan Lama Kiara, Kiara Kidul, RT 03/RW 05, Desa Mandalawangi, Kecamatan Cipatat pada Rabu (4/12/2024).
Korban meninggal berinisial EZR yang tercatat sebagai siswa SMK Wiyata Cipatat.Tak hanya korban meninggal, salah seorang rekannya berisial FWZ mengalami luka di bagian dahi dan dagu.
Korban meninggal mengalami luka pada tangan kiri patah dan luka sobek di bagian kaki kiri. Saat dikonfirmasi, Kapolsek Cipatat AKP Iwan Setiawan membenarkan adanya peristiwa tersebut.
Kapolsek menuturkan peristiwa ini bermula ketika EZR menjemput temannya FWZ dengan tujuan untuk kumpul-kumpul. Namun ketika diperjalanan, keduanya didatangi sekelompok pelajar yang naik dengan tiga sepeda motor. Mereka meneriaki EZR.
“Dari pengakuan korban selamat, dengan berboncengan berupaya lari dari kejaran sekelompok pelajar tersebut. Dengan memacu sepeda motornya, justru membuat hilang keseimbangan dan menabrak pohon,” kata AKP Iwan Setiawan saat dihubungi, Kamis (5/12/2024).
Akibat kerasnya benturan membuat korban terpental sejauh 2 meter. Kecelakaan tunggal itulah yang diduga menjadi penyebab EZR meninggal dunia.
Berdasarkan hasil autopsi tidak ditemukan luka sayatan di tubuh korban. Sementara korban selamat mengalami luka di dahi dan dagu sebelah kiri. Kini korban masih dalam perawatan di rumah sakit.
“Korban meninggal dunia dengan kondisi tangan kiri patah, kemudian luka sobek di kaki kiri. Namun ada luka di dadanya. Itu yang belum bisa kita simpulkan karena hari ini masih berlangsung autopsi,” tuturnya.
Terkait dengan kejadian itu, polisi mengamankan 8 terduga pelaku yang didominasi oleh siswa SMK. Turut diamankan 4 sepeda motor termasuk satu milik korban dan sebuah samurai atau pedang panjang.
“Mereka yang kami amankan masih di bawah umur. Untuk motif masih dalam penyelidikan,” ucapnya.
Kapolsek menegaskan, kasus ini tidak ada unsur konflik antar sekolah atau bahkan geng motor. Pasalnya semua yang terlibat dalam peristiwa ini beda sekolah.
“Kejadian sama sekali bukan tawuran antar sekolah. Kedua korban bukan satu sekolah, begitupun dengan delapan pelajar yang mengejar berasal dari sekolah berbeda,” tukasnya.*





