SATUMEDIA – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat menyebut program pencetakan sawah baru yang digagas sejak Orde Baru dinilai gagal. Selama ini sebagian besar sawah yang dicetak terbengkalai.
“Banyak faktor yang menjadi penyebab kegagalan pencetakan sawah baru, salah satunya ketidaksesuaian lahan. Ini menunjukkan membikin sawah baru itu tidak mudah, hasilnya tak akan sama dari apa dibuat oleh alam,” kata Ketua DPD HKTI Jabar Nu’man Abdul Hakim, Rabu (24/4/2024).
Munculnya program pencetakan sawah baru, menurut Nu’man, sebagai upaya pemerintah untuk mengganti lahan sawah yang beralih fungsi menjadi bangunan dan sebagainya.
“Namun dalam praktiknya tak sesuai harapan. Dulu pada tahun 1980-an di wilayah Bandung Barat juga pernah dilakukan pencetakan sawah baru, tapi mengalami kegagalan. Penyebabnya dari ketidaksesuaian lahan hingga persoalan pengairan,” tuturnya.
Upaya mengganti lahan pertanian yang beralih fungsi, menurutnya, bukan sebuah solusi. Faktanya jutaan hektare lahan pertanian mengalami penyusutan.
“Pembangunan yang masif tanpa menjaga kelestarian lingkungan itulah yang menyebabkan Indonesia sebagai negara agraris, tapi kelap mengalami persoalan pangan,” ujar mantan Wakil Gubernur Jawa Barat ini.
Menurutnya, lebih bijak jika pemerintah mengeluarkan aturan soal lahan abadi
Hal tersebut untuk menghindari alih fungsi lahan pertanian produktif yang semakin marak.
“Melindungi lahan pertanian, salah satu caranya adalah dengan membuat lahan pertanian abadi yang tidak bisa diganggu untuk kepentingan lain,” tegasnya..
Imbas dari alih fungsi lahan tersebut lambat laun produksi gabah menjadi menurun. Tidak mengherankan jika kemudian banyak daerah yang kemudian mengalami kekurangan pasokan beras dan harus mendatangkan dari luar daerah.
“Yang terjadi sekarang seperti di Karawang, Bekasi, lahan pertaniannya mulai menyusut, saya tidak mau itu juga terjadi di Bandung Barat,” tandasnya.*
