Tempat Pembuangan Sampah di Kabupaten Bandung Barat Overload

Tumpukan sampah di Jalan Cihampelas, Desa Pataruman, KBB yang belum diangkut armada sampah.(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) yang ada di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) sudah mengalami overload.

Kondisi ini terjadi sebagai dampak dari dibatasinya pengiriman sampah ke TPA Sarimukti, Kecamatan Cipatat, KBB sejak beberapa bulan lalu. Untuk menormalkan kembali diperlukan penambahan ritase pembuangan.

Penumpukan terjadi di TPS-TPS RW di pasar, dan jalur protokol contohnya di Alam Sejuk yang tadinya bersih mulai kotor karena tidak semua sampah yang bisa terangkut.

Pemandangan serupa juga terjadi di UPT Kebersihan DLH yang berlokasi di Jalan Raya Gedong Lima Padalarang. Setiap harinya truk tronton mengangkut sampah di sejumlah wilayah di Bandung Barat ke tempat ini sebelum nantinya di buang ke Sarimukti.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPT Kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup KBB Syahria, mengatakan, Pemkab Bandung Barat sudah mengajukan penambahan ritase namun belum mendapat jawaban dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat.

“Pemkab Bandung Barat sudah mengajukan penambahan ritase ke Pemprov Jabar. Saat ini masih 17 ritase atau setara 85 ton per hari, belum ada kelanjutannya lagi,” kata Syahria saat dihubungi, Selasa (11/2/2025).

Ia mengatakan, penambahan kuota itu diajukan untuk mengatasi permasalahan sampah yang tidak terangkut sehingga menyebabkan terjadinya penumpukan di sejumlah titik.

“Kami berharap, minimalnya Bandung Barat mendapatkan kuota 30 ritase atau setara 140-150 ton pembuangan sampah di TPA Sarimukti. Dengan produksi sampah lebih banyak, tapi kuotanya justru disamakan dengan Kota Cimahi,” keluhnya.

Ia menyebut dengan produksi sampah KBB mencapai 760 ton per hari sangat sulit mengentaskan persoalan penumpukan sampah jika kuota yang diberikan hanya 17 ritase per hari.

“Paling tidak untuk bisa menuntaskan persoalan sisa sampah yang tidak terangkut harus dirambah ritasenya. Ya, butuh 30 ritase atau 20 persen dari total produksi. Sebagian sudah dikelola di beberapa kecamatan dengan bank sampah, maggot, dan sebagainya,” tuturnya.*

Pos terkait