SATUMEDIA.ID – Kementerian Pertanian memberikan target tanam padi pada lahan seluas 60.238 ribu hektare kepada Pemkab Bandung Barat melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Namun, target tanam padi tahun 2025 tersebut sulit tercapai. Pasalnya, lahan baku sawah di KBB berdasarkan pemetaan Badan Pertanahan Nasional (BPN) pada tahun 2023 hanya seluas 18.351 hektare maka indeks pertanaman di KBB angkanya sebesar 3,3, setahun.
“Itupun sawah irigasinya hanya seluas 3.856,49 hektare, dan sawah non irigasi 14.494,34 hektare yang pengairannya sangat bergantung pada air hujan,” kata Kepala DKPP KBB, Lukmanul Hakim di Ngamprah, Selasa (11/2/2025).
Ia menjelaskan, sawah irigasi terjamin pengairannya sehingga musim tanamnya bisa sampai tiga kali dalam setahun. Sementara sawah non irigasi masa tanamnya sangat bergantung pada musim hujan.
“Kalau tidak hujan lahan pertaniannya tak bisa ditanami padi. Rata-rata paling hanya satu sampai dua kali tanam,” sebutnya.
Lukman mengungkapkan, Kementerian Pertanian masih memasukan Irigasi Leuwikuya sebagai sawah irigasi dengan luasan 1.590 hektare di Kecamatan Cihampelas. Padahal areal persawahan di Cihampelas merupakan sawah tadah hujan.
“Air yang masuk ke Irigasi Leuwikuya hulunya di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Debit airnya 3,5 meter kubik per detik tapi tidak sampai masuk ke wilayah Cihampelas. Sehingga pengairan sawahnya sangat bergantung pada saat musim hujan,” ungkapnya.
Padahal, lanjutnya, berdasarkan data terbaru hasil pemetaan BPN luas areal persawahan padi di Kecamatan Cihampelas tinggal 1.010 hektare. Berkurang karena sebagian sudah berubah fungsi menjadi perumahan dan industri.
“Dengan demikian target tanam padi 60 ribu hektare lebih perlu dikoreksi. Jika tidak berubah, saya pesimistis target bisa dipenuhi. Terkecuali saluran irigasi diperbaiki dan dinormalisasi supaya kebutuhan air areal persawahan terjamin,” ujarnya.
“Perlu juga membangun jaringan irigasi baru baik sekunder maupun tersier, penambahan pompanisasi, pipanisasi dan irigasi perpompaan, dan embangun jalan usaha tani (JUT) dan prasarana pertanian lainnya,” tuturnya.
Selain itu, dibutuhkan benih yang unggul, pupuk yang berkualitas, obat-obatan yang baik, serta menambah alat mesin pertanian (traktor dll).
Terkait kondisi itu, lanjut Lukman, pihaknya telah mengusulkan perbaikan sejumlah daerah irigasi yang jadi kewenangan provinsi ataupun kabupaten.
Lukman menyebut, DPKK KBB hanya menyanggupi target tanam seluas 44.465 hektare, itu pun sudah ditambah dengan padi gogo/padi ladang sekitar 326 hektare dari 304 hektare lahan yang ada.
“Itu berarti ada selisih kekurangan sekitar 15.772 ha dari target pemerintah pusat,. Sebenarnya, kesanggupan target tanam kami melebihi target dari provinsi seluas 31.291 hektare atau setengah dari target Kementerian Pertanian,” tuturnya.
Lebih jauh Lukman mengungkapkan, sebenarnya KBB sudah berhasil swasembada pangan pada 2024. Dimana total produksi gabah kering (GKG) tahun 2024 mencapai 303.871 ton GKG yang jika dikonversi ke beras sekitar 64,11%
“Diperkiraan produksi beras di KBB hingga tahun 2024 sebanyak 194.811,7 ton. Sementara untuk konsumsi beras per kapita per tahun sebesar 82,3 kg. Dengan jumlah penduduk di KBB sebanyak 1.884.191 maka proyeksi konsumsi beras rumah tangga sebanyak 155.048 ton beras per tahunnya.
“Dengan demikian produksi beras di KBB surplus 39.763,7 ton,” pungkasnya.*






