SATUMEDIA. ID -Menunggu angkutan umum di pinggir jalan sering kali menjadi pengalaman yang melelahkan bagi masyarakat. Setelah menanti puluhan menit di bawah terik matahari atau terpaan debu kendaraan, angkutan yang ditunggu belum tentu dapat membawa penumpang.
Kondisi itu terjadi ketika bus, angkot, atau moda transportasi umum lainnya datang dalam keadaan penuh. Penumpang yang sudah menunggu terpaksa kembali menanti kendaraan berikutnya setelah sopir memberi tanda bahwa armada tidak lagi dapat mengangkut penumpang.
Situasi tersebut dinilai menunjukkan masih adanya persoalan kepastian layanan dalam sistem transportasi umum. Sebenarnya persoalan kapasitas angkutan umum dapat diatasi dengan memanfaatkan teknologi.
Masyarakat saat ini sudah terbiasa mendapatkan informasi secara cepat dan real-time melalui teknologi digital.
Pergerakan pengemudi ojek daring maupun pesanan makanan, misalnya, dapat dipantau melalui telepon seluler. Namun, informasi mengenai ketersediaan ruang di dalam angkutan umum masih sulit diketahui sebelum kendaraan tiba di titik jemput.
Ketidakpastian tersebut berpotensi membuat masyarakat enggan menggunakan transportasi umum.
Pasalnya, penumpang bukan hanya mempertimbangkan waktu perjalanan, tetapi juga kepastian bahwa kendaraan yang ditunggu masih mampu mengangkut mereka.
Sensor dan AI
Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah memasang kamera atau sensor berdaya rendah di dalam kabin bus maupun angkot.
Sensor tersebut dapat dipadukan dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menghitung jumlah kursi yang terisi serta memperkirakan ruang berdiri yang masih tersedia secara real-time.
Teknologi itu tidak harus digunakan untuk merekam identitas penumpang. Sistem dapat dirancang hanya untuk membaca tingkat keterisian kabin sehingga aspek privasi pengguna tetap diperhatikan.
Informasi mengenai kapasitas kendaraan selanjutnya dapat ditampilkan melalui indikator sederhana pada bagian depan armada.
Misalnya, lampu berwarna hijau menandakan kendaraan masih memiliki banyak ruang. Warna kuning menunjukkan kapasitas mulai terbatas, sedangkan warna merah berarti armada sudah penuh.
Dengan sistem tersebut, calon penumpang dapat mengetahui kondisi kendaraan dari jarak sekitar 30 hingga 50 meter sebelum armada tiba di titik jemput.
Armada yang sudah penuh pun tidak perlu berhenti hanya untuk memberi tahu calon penumpang bahwa kendaraan tidak dapat mengangkut mereka.
Terhubung ke aplikasi
Informasi kapasitas kendaraan juga dapat dikembangkan lebih jauh dengan menghubungkannya ke aplikasi mobilitas pada telepon pintar.
Dengan demikian, calon penumpang tidak perlu menunggu kendaraan datang untuk mengetahui apakah masih tersedia ruang di dalam kabin.
Masyarakat dapat melihat informasi tersebut sebelum menuju halte atau titik pemberhentian.
Jika kendaraan yang mendekat terpantau penuh, penumpang dapat memilih alternatif lain, seperti menunggu armada berikutnya, menuju halte selanjutnya, atau menggunakan moda transportasi berbeda.
Pemanfaatan teknologi tersebut pada akhirnya bukan sekadar persoalan digitalisasi transportasi.
Kepastian informasi juga dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kenyamanan pengguna angkutan umum.
Upaya mendorong masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi dinilai tidak cukup hanya melalui imbauan. Transportasi umum juga perlu memberikan layanan yang nyaman, mudah diprediksi, dan mampu menghargai waktu penumpangnya.
Dengan informasi kapasitas yang dapat diketahui sebelum kendaraan tiba, waktu tunggu yang berujung pada penolakan di pinggir jalan diharapkan dapat dikurangi.
*Penulis Jerry Kresna Rhamdani, Taruna Manajemen Transportasi Jalan Semester III Politeknik Transportasi Darat Indonesia (PTDI)-STTD melalui program Polbit Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi
