Taruna STTD Dorong Smart Bus Tracking, Penumpang Bisa Pantau Posisi Bus secara Real-Time

Ilustrasi penerapan Smart Bus Tracking and Passenger Information System dalam pelayanan angkutan umum. (Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Ketidakpastian waktu kedatangan masih menjadi salah satu persoalan yang dapat memengaruhi kenyamanan masyarakat saat menggunakan angkutan umum.

Penumpang kerap harus menunggu tanpa mengetahui secara pasti keberadaan bus, apakah kendaraan masih dalam perjalanan, terlambat, atau bahkan belum berangkat.

Kondisi tersebut mendorong Muhammad Faiz Mawardi, taruna PTDI-STTD Jurusan Manajemen Transportasi Jalan Semester 3, mengusulkan penerapan Smart Bus Tracking and Passenger Information System dalam pelayanan angkutan umum.

Menurut Faiz, sistem tersebut dapat memberikan informasi perjalanan bus secara real-time sehingga penumpang tidak lagi hanya mengandalkan jadwal keberangkatan yang bersifat statis.

“Teknologi digital bisa dimanfaatkan untuk memberikan kepastian informasi kepada penumpang, mulai dari posisi bus, rute, jadwal hingga perkiraan waktu kedatangan,” kata Faiz dalam gagasannya.

Bus Dipasangi GPS

Dalam konsep yang ditawarkan, setiap armada bus dilengkapi perangkat Global Positioning System (GPS) untuk mendeteksi lokasi kendaraan.

Data posisi bus kemudian dikirim melalui jaringan internet ke server untuk diproses. Informasi yang telah diolah selanjutnya dapat ditampilkan melalui aplikasi telepon pintar, situs web, maupun layar digital di halte.

Alur sistem tersebut secara sederhana adalah GPS bus → internet → server → pengolahan data → aplikasi atau display → penumpang.

Dengan mekanisme itu, penumpang dapat mengetahui posisi bus yang sedang beroperasi sekaligus memperoleh perkiraan waktu kedatangan.

Informasi yang tersedia juga dapat mencakup identitas bus, rute perjalanan, halte yang akan dilewati, jadwal keberangkatan, estimasi waktu tiba, kondisi perjalanan, keterlambatan, hingga gangguan pelayanan.

Jika didukung perangkat dan data yang memadai, sistem tersebut bahkan dapat memberikan informasi mengenai tingkat keterisian bus.

Tak Hanya untuk Penumpang

Faiz menilai digitalisasi tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi pengguna transportasi umum.

Operator juga dapat memanfaatkan sistem melalui dashboard pemantauan armada. Dari sana, operator dapat melihat posisi kendaraan, memantau perjalanan, mendeteksi keterlambatan, serta mengevaluasi kinerja pelayanan.

Data perjalanan yang terkumpul juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui pola operasional bus.

Misalnya, operator dapat mengidentifikasi ruas atau waktu tertentu yang kerap mengalami keterlambatan. Informasi itu kemudian dapat digunakan untuk mengevaluasi jadwal maupun pola pelayanan.

“Data perjalanan bisa menjadi dasar evaluasi operasional. Dengan begitu, keputusan pengelolaan armada tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi dapat menggunakan data aktual di lapangan,” ujar Faiz.

Waktu Tunggu Bisa Lebih Terukur

Dalam konsep yang disusunnya, Faiz juga memberikan ilustrasi penerapan sistem pada rute Cikarang-Bekasi.

Data simulasi menunjukkan rata-rata waktu tunggu yang sebelumnya digambarkan 19 menit menjadi 10 menit setelah sistem diterapkan. Informasi posisi bus yang sebelumnya tidak tersedia juga menjadi dapat dipantau secara real-time.

Sementara itu, indikator kepuasan penumpang dalam simulasi tersebut meningkat dari 3,1 menjadi 4,2 dari skala 5.

Faiz menegaskan, angka tersebut bukan hasil survei lapangan, melainkan data simulasi untuk menggambarkan potensi penerapan sistem.

Apabila diterapkan secara nyata, pengukuran harus menggunakan data GPS kendaraan, survei penumpang, catatan operasional operator, serta observasi langsung di lapangan.

Perlu Infrastruktur Pendukung

Meski menawarkan kemudahan, penerapan sistem pelacakan bus secara real-time tidak dapat hanya mengandalkan aplikasi.

Menurut Faiz, diperlukan infrastruktur pendukung seperti perangkat GPS, jaringan internet, server, sumber daya manusia, sistem keamanan data, serta pemeliharaan teknologi.

Akurasi informasi juga menjadi hal penting. Sistem yang tidak diperbarui atau mengalami gangguan justru dapat menimbulkan informasi yang keliru bagi penumpang.

Karena itu, penerapannya dapat dilakukan secara bertahap dengan memilih satu atau beberapa trayek sebagai proyek uji coba.

Evaluasi kemudian dilakukan untuk mengukur akurasi posisi bus, ketepatan estimasi waktu kedatangan, kemudahan penggunaan aplikasi, hingga tingkat kepuasan pengguna.

Jika hasil evaluasi memenuhi kebutuhan penumpang dan operator, sistem dapat diperluas ke trayek lainnya.

Faiz berpandangan, pemanfaatan teknologi dalam transportasi pada akhirnya bukan sekadar menghadirkan sistem digital baru.

Teknologi tersebut harus mampu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat dalam menggunakan angkutan umum.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat teknologi, tetapi memanfaatkannya untuk memberikan informasi perjalanan yang lebih mudah diakses, terukur, dan responsif terhadap kebutuhan penumpang,” kata dia.*

 

Pos terkait