SATUMEDIA.ID – Himpunan Mahasiswa Tjiandjur (HIMAT) sebagai organisasi kemahasiswaan primordial yang didirikan pada tanggal 24 Juni 1962 di Kota Cianjur berarti sekarang sudah berusia 64 tahun lebih . Usia sejajar lansia, tentu dipertanyakan kiprahnya selama ini.
Dengan tema menantang “Arah Gerak HIMAT ke Depan”.Perhelatan yang digagas Pengurus Pusat HIMAT di Cianjur pada penanggalan 21 s/d 22 November 2026 nanti tentu menyisakan pertanyaan , “Sebenarnya organisasi ini mau kita bawa ke mana?” Pertanyaan itulah yang menurut saya tetap relevan sampai sekarang. Karena sebuah organisasi tidak cukup hanya bertahan hidup.
Organisasi harus mempunyai arah. HIMAT jangan hanya dipandang sebagai tempat berkumpulnya mahasiswa yang berasal dari Cianjur. HIMAT seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh. Tempat mahasiswa belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Belajar memimpin. Belajar berkomunikasi. Belajar menghargai perbedaan. Belajar bertanggung jawab. Dan yang tidak kalah penting, belajar memahami bahwa sebagai mahasiswa Cianjur kita mempunyai tanggung jawab moral terhadap daerah asal kita. Karena pada akhirnya, mahasiswa tidak selamanya menjadi mahasiswa.
Suatu saat kita akan memasuki dunia kerja, dunia profesional, dunia usaha, pemerintahan, pendidikan, organisasi, atau berbagai bidang kehidupan lainnya. Yang kita bawa bukan hanya ijazah. Kita juga membawa karakter dan pengalaman yang kita dapatkan selama menjadi mahasiswa. Dan organisasi seperti HIMAT merupakan salah satu tempat yang sangat penting untuk membentuk karakter tersebut.
Kalau kita membandingkan HIMAT pada masa penulis menjadi mahasiswa dengan HIMAT sekarang, tentu banyak sekali perubahan. Dulu kita belum mengenal media sosial seperti sekarang. Komunikasi masih banyak dilakukan secara langsung. Mencari informasi tidak semudah sekarang.
Sekarang dunia berubah sangat cepat. Ada internet, media sosial, teknologi digital, dan sekarang kita memasuki era Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) atau AI. Informasi bisa diperoleh dalam hitungan detik. Tetapi di sinilah tantangannya. Teknologi boleh semakin maju, tetapi kualitas manusianya juga harus semakin maju.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang sangat cepat mendapatkan informasi, tetapi lambat dalam berpikir. Jangan sampai kita pintar menggunakan teknologi, tetapi kehilangan kemampuan berkomunikasi secara manusiawi. Karena itu, kemampuan komunikasi tidak cukup hanya dengan menyampaikan pesan secara cepat.
Kita juga perlu mempertimbangkan konteks, kebenaran informasi, serta dampaknya terhadap orang lain. Penulis juga masih teringat pada pemikiran Martin L. Hoffman, seorang psikolog yang banyak mengembangkan kajian tentang empati dan perkembangan moral.
Menurut Hoffman, empati bukan sekadar memahami apa yang dirasakan orang lain, tetapi juga kemampuan untuk merespons keadaan orang lain dengan mempertimbangkan apa yang mereka alami. Dalam perkembangannya, empati melibatkan unsur perasaan sekaligus kemampuan kognitif untuk memahami perspektif dan kondisi orang lain.
Hoffman juga menjelaskan bahwa empati dapat menjadi dorongan bagi perilaku prososial, yaitu perilaku yang mendorong seseorang untuk peduli, membantu, dan memperhatikan kepentingan orang lain. Jika kita kaitkan dengan Arah Gerak HIMAT Ke depan, pemikiran tersebut menurut penulis masih sangat relevan. Sebelum memberikan komentar, meneruskan informasi, atau mengunggah sesuatu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Bagaimana perasaan orang lain dan apa dampaknya bagi mereka?
Dengan demikian, kemampuan berkomunikasi bukan hanya tentang bagaimana kita menyampaikan pesan dengan cepat , tetapi juga bagaimana kita memahami orang lain. Dengan empati, komunikasi dapat membangun hubungan sosial yang lebih kuat, manusiawi, dan bermakna. Ini tantangan nyata bagi Pengurus dan anggota HIMAT.
Jangan sampai media sosial membuat kita semakin banyak mempunyai teman di dunia maya, tetapi semakin jauh dari lingkungan nyata.Karena itu HIMAT ke depan menurut penulis harus mampu menjawab perubahan zaman tersebut. Lalu kemana arah HIMAT bergerak?.
Menurut penulis ada beberapa arah yang penting. Pertama: Membangun kualitas sumber daya manusia. HIMAT harus menjadi tempat mahasiswa Cianjur meningkatkan kemampuan. Bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga leadership, komunikasi, kreativitas, kewirausahaan, teknologi dan kemampuan bekerja sama.
Kalau perlu, HIMAT mempunyai program seperti: pelatihan public speaking, pelatihan kepemimpinan, diskusi profesi, pelatihan digital, pengenalan AI, kewirausahaan mahasiswa dan sharing dengan alumni. Dengan demikian, ketika seorang anggota keluar dari HIMAT, dia membawa sesuatu. Bukan hanya kenangan. tetapi juga kemampuan.
Kedua: HIMAT harus memperkuat jaringan alumni. Ini menurut penulis sangat penting. Pengurus dan anggota HIMAT jangan melihat alumni hanya sebagai orang-orang yang sudah selesai kuliah. Alumni adalah aset organisasi.
Alumni HIMAT mungkin sekarang berada di berbagai bidang. Ada yang menjadi pengusaha. Ada yang menjadi profesional. Ada yang menjadi dosen atau guru. Ada yang menjadi birokrat. Ada yang menjadi politisi. Ada yang menjadi wartawan, penulis, pekerja sosial, dan berbagai profesi lainnya.
Bayangkan kalau jaringan tersebut dapat disatukan. HIMAT bisa mempunyai jejaring alumni yang kuat. Mahasiswa bisa belajar dari pengalaman senior. Alumni juga bisa memberikan mentoring, membuka jaringan, memberikan informasi pekerjaan, magang, kewirausahaan, maupun berbagai peluang lainnya.
Dengan demikian terjadi hubungan yang saling menguatkan: Mahasiswa mendapatkan pengalaman dari alumni, sementara alumni mendapatkan energi baru dari generasi muda.
Ketiga: HIMAT harus mempunyai kepedulian terhadap Cianjur. Menurut penulis , identitas sebagai mahasiswa Cianjur jangan berhenti pada identitas daerah. Harus ada kontribusinya. Pertanyaannya: “Apa yang bisa dilakukan mahasiswa HIMAT untuk Cianjur?”
Tidak harus selalu dengan kegiatan besar. Bisa dimulai dari hal sederhana.Misalnya Pendidikan, Literasi, Lingkungan, Kewirausahaan masyarakat, Pengembangan UMKM, Pendampingan anak-anak sekolah, Kegiatan sosial atau pemanfaatan teknologi untuk membantu masyarakat. Yang penting adalah ada keberlanjutan. Karena penulis percaya: HIMAT tidak harus menyelesaikan semua persoalan Cianjur. Tetapi HIMAT harus menunjukkan bahwa mahasiswa Cianjur peduli dan mau berbuat sesuatu.
Keempat : Dunia sekarang tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Organisasi mahasiswa juga demikian. HIMAT tidak harus merasa mampu melakukan semuanya sendiri. Bisa bekerja sama dengan organisasi mahasiswa lain. Bisa bekerja sama dengan kampus. Bisa bekerja sama dengan pemerintah daerah.
Bisa bekerja sama dengan dunia usaha. Dan tentu saja dengan alumni. Prinsipnya sederhana: Kolaborasi akan menghasilkan kekuatan yang lebih besar daripada berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, ke depan saya berharap HIMAT mempunyai semakin banyak jejaring. Bukan hanya banyak kegiatan, tetapi banyak mitra dan kolaborasi.
Kelima : Kita sekarang hidup dalam era digital. HIMAT harus masuk ke ruang digital. Media sosial jangan hanya digunakan untuk mengumumkan kegiatan. Tetapi bisa digunakan untuk membangun branding HIMAT. Tampilkan kegiatan positif. Tampilkan prestasi anggota. Tampilkan profil alumni. Tampilkan potensi Cianjur. Bahkan HIMAT dapat membuat konten edukasi yang bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat. Dan sekarang ada AI. AI bisa membantu membuat materi, mencari ide, mengolah informasi, membuat desain, dan banyak hal lainnya.
Tetapi saya ingin mengingatkan: Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir. Mahasiswa harus tetap mampu membaca, menganalisis, berdiskusi dan mengambil keputusan. Teknologi harus membuat kita lebih produktif, bukan membuat kita malas berpikir. Mengenai AI yang lagi tranding ini penulis mengutip hasil penelitian.
Menarik disimak apa yang disampaikan Prof. Stella Christie, PH.D. ( Wamen Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknolog) ketika dalam sebuah wawancara di salah satu Podcast, menceritakan apa yang terjadi dengan mahasiswa dari tiga universitas ternama di Amerika yang merupakan hasil periset MIT. Ketika ingin mendapatkan data ilmiah mengenai AI, maka dilakukan riset kepada sejumlah mahasiswa yang kemudian dibagi menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama, diberikan tugas-tugas menulis essay selama sebulan dan para mahasiswa diperbolehkan menggunakan ChatGPT dan fasilitas digital lainnya. Kemudian kelompok mahasiswa kedua diberi tugas yang sama namun tidak diperkenankan menggunakan ChatGPT tapi boleh melakukan search engine seperti penggunaan Google. Dan kelompok mahasiswa yang ketiga yang disebut dengan kelompok yang menggunakan brain only dengan tugas-tugas yang sama.
Hasil riset tersebut, Prof. Stella menjelaskan bahwa ternyata mahasiswa kelompok yang ketigalah yang disebut kelompok brain only-lah yang essay-nya dinilai terbaik, bahkan pada riset ini dilakukan FMRI yang menjelaskan bagaimana otak para mahasiswa itu bekerja. Wamen Diktisaintek ini memang mengakui terjadi perdebatan mengenai penggunaan AI di kalangan mahasiswa, ada yang setuju ada pula yang tidak setuju, secara logika memang hal ini cukup logis.
Lalu AI sebagai alat bantu, mewajibkan mahasiswa mendeklarasikan penggunaan sebagai bagian dari etika akademik. Pada akhirnya AI adalah sebuah pilihan yang merupakan alat bantu pekerjaan akademik di dunia perguruan tinggi yang tetap menjunjung integritas dan etika dalam penggunaannya.
Penulis ingin menyampaikan satu hal yang sangat urgent. Kadang-kadang ukuran keberhasilan organisasi dilihat dari berapa banyak kegiatan yang dilakukan. Menurut penulis, ukuran itu perlu diperluas. Jangan hanya bertanya: “Berapa kegiatan yang sudah dilakukan HIMAT?”Tetapi tanyakan juga: “Berapa orang yang mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut?”“Apa kemampuan anggota yang meningkat?”“Apa kontribusi HIMAT kepada masyarakat?”“Apa jaringan baru yang berhasil dibangun?”“Apa perubahan positif yang ditinggalkan?”Karena organisasi yang baik bukan organisasi yang paling banyak kegiatannya.
Tetapi organisasi yang kegiatannya memberikan manfaat dan meninggalkan dampak. Penulis sebagai mantan Ketua HIMAT tentu mempunyai harapan.Tetapi penulis juga sadar bahwa HIMAT sekarang adalah milik generasi sekarang.Karena itu, jangan merasa harus menjalankan HIMAT dengan cara kami dahulu. Zaman sudah berbeda. Tantangan berbeda pula.
Silakan membuat inovasi baru.Silakan mempunyai gagasan baru.Silakan menggunakan teknologi baru.Silakan membuat format organisasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan generasi sekarang.
Tetapi ada beberapa nilai yang menurut penulis jangan pernah hilang.Yaitu: persaudaraan, integritas, tanggung jawab, kepedulian, dan semangat untuk memberikan manfaat. Jangan sampai perbedaan pendapat membuat kita menjadi bermusuhan. Jangan sampai perbedaan pilihan membuat persaudaraan hilang. Dalam organisasi, perbedaan pendapat itu biasa.
Yang penting adalah bagaimana kita menyelesaikan perbedaan tersebut dengan kedewasaan. Karena pada akhirnya, kita semua mempunyai satu identitas: kita adalah bagian dari keluarga besar mahasiswa Cianjur. Pesan kami HIMAT jangan hanya menjadi tempat kita berkumpul.
Jadikan HIMAT tempat kita bertumbuh. Jangan hanya menjadi tempat kita berorganisasi. Jadikan HIMAT tempat kita belajar memimpin. Jangan hanya menjadi tempat kita berdiskusi tentang Cianjur. Jadikan HIMAT bagian dari solusi bagi Cianjur.Dan jangan hanya berpikir: “Apa yang bisa saya dapatkan dari HIMAT?”Tetapi biasakan bertanya:“Apa yang bisa saya berikan melalui HIMAT?”Kalau setiap anggota memiliki pemikiran seperti itu, saya yakin HIMAT akan mempunyai masa depan yang baik.
Karena masa depan HIMAT sebenarnya bukan hanya ditentukan oleh ketua. Bukan hanya oleh pengurus.Tetapi ditentukan oleh semangat seluruh anggotanya.
“HIMAT boleh berganti generasi, zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi semangat untuk belajar, bersaudara dan memberikan manfaat bagi Cianjur harus tetap hidup.”
*Riwayat Penulis:
1. Ketua Umum Pengurus Pusat HIMAT Periode 1983-1985
2. Lulusan Fakultas Publisistik/Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Bandung (S1, 1986 )
3. Lulusan Program Magister Ekonomi Pembangunan FEB Universitas
Gajah Mada Yogyakarta (S2, 2012