PSSI Tegas Tolak Rasisme, Erick Thohir: Sepak Bola Harus Junjung Karakter dan Toleransi

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir.(Dok. PSSI).**

SATUMEDIA.ID – Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan sikap tanpa kompromi terhadap segala bentuk rasisme di sepak bola nasional. Ia menekankan, setiap ucapan, ungkapan, maupun tindakan bernuansa diskriminatif harus ditindak secara serius dan tegas oleh seluruh pemangku kepentingan.

Menurut Erick, komitmen ini berlaku di semua level kompetisi, baik pembinaan usia muda maupun liga profesional. Ia meminta operator kompetisi dan klub tidak lengah dalam menjaga nilai-nilai sportivitas dan penghormatan antar pemain.

“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk rasisme di sepak bola, baik di level internasional maupun nasional. Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit,” ujar Erick dikutip dari laman PSSI, Minggu (26/4/2026).

Lebih lanjut, Erick menyoroti pentingnya keseimbangan antara kemampuan teknis dan pembentukan karakter dalam pembinaan pemain muda. Ia mengingatkan, prestasi tidak cukup hanya ditopang oleh skill, tetapi juga oleh sikap dan watak yang baik.

Karena itu, ia meminta operator kompetisi seperti I-League—yang mengelola Elite Pro Academy (EPA), Liga 1, dan Liga 2—bersama klub peserta untuk terus memperkuat edukasi nilai-nilai anti-rasisme, anti-kekerasan, serta kepatuhan terhadap aturan pertandingan.

PSSI juga mendorong peningkatan pengawasan selama pertandingan agar kompetisi, khususnya di level usia muda, benar-benar menjadi ruang belajar yang aman, sehat, dan mendidik.

“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang matang, tidak hanya secara kemampuan, tetapi juga secara mental dan karakter,” kata Erick.

Dalam kesempatan itu, Erick turut mengapresiasi langkah Bhayangkara FC dan Dewa United yang berinisiatif mempertemukan serta mendamaikan dua pemain muda, Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis, usai insiden yang terjadi.

Ia menilai langkah tersebut mencerminkan semangat persatuan yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.

“Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan. Ini harus menjadi pelajaran bagi semua pemain bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan disatukan demi Indonesia,” pungkasnya.*

Pos terkait