SATUMEDIA.ID – Tunisia akan mengawali perjuangannya di Piala Dunia 2026 dengan menghadapi wakil Eropa, Swedia, dalam laga perdana Grup F yang berlangsung pada Senin (15/6/2026) pukul 09.00 WIB di Estadio Monterrey, Meksiko. Stadion berkapasitas lebih dari 53 ribu penonton yang menjadi markas klub C.F. Monterrey tersebut akan menjadi tempat dimulainya misi Elang Kartago untuk mencetak sejarah baru di pentas sepak bola dunia.
Persaingan di Grup F dipastikan tidak mudah. Selain Swedia, Tunisia juga harus bersaing dengan dua kekuatan besar lainnya, yakni Belanda dan Jepang. Kondisi tersebut membuat setiap poin menjadi sangat berharga jika mereka ingin menjaga peluang lolos ke babak gugur.
Piala Dunia 2026 menjadi penampilan ketujuh Tunisia di putaran final. Sejak menjalani debut pada edisi 1978 di Argentina, negara Afrika Utara tersebut memang belum pernah melampaui fase grup. Penampilan terbaik mereka sejauh ini masih sebatas memberikan perlawanan sengit kepada tim-tim besar tanpa mampu menembus babak knockout.
Meski demikian, Tunisia datang ke Amerika Utara dengan modal yang jauh lebih meyakinkan dibanding beberapa edisi sebelumnya. Mereka tampil luar biasa sepanjang kualifikasi Zona Afrika dan berhasil keluar sebagai juara Grup H dengan catatan yang nyaris sempurna.
Dari 10 pertandingan yang dijalani, Tunisia meraih sembilan kemenangan dan satu hasil imbang tanpa sekalipun merasakan kekalahan. Mereka mengumpulkan 28 poin, mencetak 22 gol, dan yang paling mengesankan adalah tidak kebobolan satu gol pun sepanjang fase kualifikasi.
Rekor tersebut menunjukkan betapa solidnya organisasi permainan yang dibangun oleh pelatih Sabri Lamouchi. Mantan pelatih Pantai Gading itu berhasil membentuk tim yang disiplin, sulit ditembus, dan sangat efektif ketika mendapatkan peluang.
Kekuatan utama Tunisia memang terletak pada kolektivitas tim. Mereka mungkin tidak memiliki banyak pemain berstatus bintang dunia, tetapi skuad yang dibawa ke Piala Dunia 2026 dihuni sejumlah pemain yang berpengalaman di kompetisi Eropa.
Di lini serang terdapat Elias Saad yang bermain untuk Hannover 96 serta Hazem Mastouri yang memperkuat Dinamo Makhachkala. Kreativitas permainan banyak bertumpu pada Elias Achouri dari FC Copenhagen dan Ismael Gharbi yang membela Augsburg.
Sementara itu, lini tengah akan dikomandoi Hannibal Mejbri dari Burnley dan Rani Khedira yang berpengalaman bersama Eintracht Frankfurt. Kombinasi tenaga, disiplin, dan kemampuan bertahan dari kedua pemain tersebut menjadi fondasi penting dalam sistem permainan Tunisia.
Jika dibandingkan dengan Belanda, Jepang, maupun Swedia, kualitas individu Tunisia memang masih berada satu tingkat di bawah. Namun justru status sebagai underdog sering kali membuat mereka menjadi lawan yang sulit diprediksi.
Secara taktik, Tunisia dikenal sebagai tim yang sangat disiplin dalam bertahan. Mereka kerap menggunakan blok pertahanan rendah hingga menengah, menjaga jarak antarlini dengan rapat, serta memaksa lawan kesulitan menemukan ruang di area berbahaya.
Ketika kehilangan bola, seluruh pemain akan segera turun membantu pertahanan. Sebaliknya, saat berhasil merebut penguasaan bola, Tunisia mampu melancarkan serangan balik cepat yang memanfaatkan kecepatan para pemain sayap dan ketajaman penyerang mereka.
Selain itu, bola mati menjadi salah satu senjata andalan Elang Kartago. Banyak gol yang mereka ciptakan berasal dari situasi tendangan sudut maupun tendangan bebas, sesuatu yang patut diwaspadai oleh Swedia.
Kehadiran Sabri Lamouchi juga membawa warna baru bagi permainan Tunisia. Ia berusaha menciptakan keseimbangan antara pertahanan yang solid dan transisi menyerang yang lebih efektif. Hasilnya terlihat jelas selama kualifikasi, ketika Tunisia mampu tampil konsisten tanpa kehilangan identitas permainan mereka.
Meski peluang lolos dari Grup F tidak akan mudah, Tunisia memiliki alasan untuk percaya diri. Rekor impresif di babak kualifikasi membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pelengkap turnamen.
Laga melawan Swedia akan menjadi ujian pertama sekaligus kesempatan besar bagi Tunisia untuk menunjukkan bahwa mereka siap bersaing dengan tim-tim terbaik dunia. Jika mampu mempertahankan soliditas pertahanan yang menjadi ciri khas mereka, Elang Kartago berpeluang menciptakan kejutan dan menjaga mimpi lolos ke fase gugur tetap hidup.*





