SATUMEDIA.ID – Proyek pembangunan Eiger Camp menjadi polemik sejak viral di media sosial, kemudian disegel oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Eiger Camp berlokasi di kawasan perkebunan teh Sukawana, Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Posisinya berada di perbatasan antara Desa Karyawangi dengan Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong.
Diketahui, luas areal perkebunan teh Sukawana itu 250 hektare dimana area yang dikerjasamakan oleh PTPN dengan Eiger Adventure ini sekitar 48 hektare dan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) baru 1,45 persen.
Salah seorang tokoh masyarakat Desa Cihideung, H.Subianto (54) berharap kepada PT Eiger Adventure dapat segera menyelesaikan revisi site plan. Diketahui, ada ketidaksesuaian site plan dari salah satu proyek yang rencananya bakal dibangun untuk Decking View Panggung Budaya Eiger Camp dengan luas lahan 1.200 meter.
“Harapannya site plan segera direvisi agar proyek pembangunan Eiger Camp dapat kembali dilanjutkan,” kata Subianto warga Kampung Kancah, RT 03/RW 15, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Minggu (13/4/2025).
Subianto yang juga menjabat sebagai Ketua RW 15 ini berpendapat bahwa keberadaan Eiger Camp sangat berdampak pada ekonomi masyarakat setempat.
“Ini fakta, bahwa sejak ada proyek Eiger Camp sudah bisa menyerap lapangan pekerjaan. Sekarang ada tujuh orang warga yang direkrut menjadi petugas keamanan,. Nanti ketika sudah beroperasi akan semakin terbuka bagi warga sini untuk bekerja,” kata Subianto.
Menurutnya, bukan hanya membuka lapangan pekerjaan juga memperbaiki infrastruktur Jalan Kancah yang menjadi akses bagi warga lima RW di Cihideung dan Karyawangi.
“Jalan Kancah diperbaiki, jadi diperlebar. Kanan kirinya dibuatkan saluran air sehingga ketika turun hujan tak lagi meluber ke jalan. Ini jawaban dari impian warga. Padahal di sini ada BUMN PTPN dan Perhutani, juga PDAM tapi tidak pernah bisa mewujudkan harapan warga,” tuturnya.
Menurutnya, di masyarakat keberadaan Eiger Camp tak memicu polemik. Termasuk soal dampak lingkungan dan sosial masyarakat setempat.
“Pihak perusahaan selalu berkoordinasi dengan warga sehingga tidak ada yang komplain, baru dibangun jalan saja warga sudah senang karena impian sejak dulu. Apalagi jika sudah beroperasi warga meyakini akan memberi efek domino bagi ekonomi masyarakat,” tuturnya.*




