SATUMEDIA.ID – Pegiat Lingkungan Kampoeng Tjibarani membagikan video kondisi anak Sungai Cikapundung di Kanal Tjibarani berwarna cokelat pekat.
Video memperlihatkan limbah kotoran sapi yang diduga berasal dari wilayah Lembang, mencemari sungai yang melintasi kanal Tjibarani, sekitar (Watervang) Leuwilimoes, Kota Bandung.
Disebutkan, warna cokelat pada anak Sungai Cikapundung yang mengalir ke wilayah Kota Bandung berasal dari kotoran hewan (kohe) sapi.
Menurut keterangan mereka, pencemaran ini sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun dengan tingkat pencemaran yang semakin parah dari hari ke hari. Pencemaran ini sudah terindikasi sejak 2024.
Pegiat Lingkungan Kampoeng Tjibarani juga mengakui pemerintah sudah turun tangan untuk mengatasi limbah kotoran yang mengalir ke kanal Tjibarani. Namun apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah selama ini terutama yang berkaitan dengan Citarum belum begitu serius.èßßa
Sementara itu, Kepala Bidang Tata Kelola Lingkungan Hidup pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KNB, Zamilia Moreta membenarkan limbah kotoran sapi yang melintasi Kanal Tjibarani berasal dari wilayah Lembang.
Hal tersebut berdasarkan tinjauan langsung Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH) dari DLH bersama petugas Dispernakan, pada Rabu, (16/5/2025).
“Memang benar karena sungainya memang daerah aldari Lembang dan sekitarnya. Jadi dimungkinkan dari peternak yang ada di peternak sekitar itu,” kata Zamalia, saat dikonfirmasi, Jumat (18/5/2025).
Ia mengklaim pihaknya bersama Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB telah melakukan pembinaan terkait sanitasi dan pengolahan limbah kohe, sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat, terutama di sekitar aliran sungai.
“Bantuan pengolahan limbah kohe dengan alat agar dibuat biogas, tapi mereka (peternak) enggak mengoptimalkan alat-alat yang diberikan tersebut. Pembinaan juga sosialisasi sudah disampaikan,” tuturnya.
Terkait perizinan dampak lingkungan saat mendirikan peternakan hewan, Zamilia mengatakan di beberapa wilayah di Bandung Barat masih didominasi oleh peternak perorangan. Sehingga tidak bisa serta merta di data semuanya.
Berdasarkan data dari Dispernakan KBB,
sekitar 70 persen peternakan sapi di KBB belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Mereka membuang kotoran hewan ternak langsung ke irigasi terdekat tanpa melalui proses pengolahan.
.
Berdasarkan data dari Dispernakan KBB mencatat ada sekitar 6.000 peternak sapi di tiga wilayah di Bandung Barat, meliputi Cisarua, Parongpong dan Lembang. Dari ribuan peternak tersebut, hanya 30 persen diantaranya yang mengelola limbah kotoran hewan. Ironisnya, sebagian besar masih menggunakan sistem buang tanpa pengolahan.
“Dilihat dari data yang ada hanya 30 persen limbah yang sudah diolah. 70 persennya masih dibuang ke perairan dari 6.000 peternakan. Sementara untuk Lembang sebanyak 5.000 peternak,” kata Pelaksanaan Tugas (Plt) Kepala Dinas Dispernakan KBB, Wiwin Aprianti.
Ia menambahkan, untuk mengantisipasi peternak yang membuang limbah kotoran sapi langsung ke sungai, Dispernakan akan melakukan pengawasan secara ketat. Disebutkan Wiwin pihaknya juga telah menempatkan petugas di sejumlah titik, untuk melihat dimana saja potensi pengeluaran limbah paling banyak.
“Kami bakal membuat pengolahan limbah dan mengimbau para peternak dan memanfaatkan agar tidak mencemari perairan umum. Kewajiban kami di Dispernakan membina peternakan agar tidak mencemari lingkungan,” tandasnya.*





