Taman Main Milimili Mengubah Kegelapan Malam Menjadi Gemerlap Keindahan

Taman Main Milimili merupakan wahana wisata baru yang ada di Terminal Wisata Grafika Cikole (TWGC) Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Fantasinya hanya bisa dinikmati pada kegelapan malam.(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Jauh sebelum Bumi Ghaia menjadi seperti sekarang, perang dahsyat berkecamuk di antara empat Elemental—Air, Batu, Angin, dan Api. Pertempuran mereka mengguncang dunia, membawa kehancuran dan bencana berkepanjangan yang jejaknya masih terasa hingga hari ini.

Pada akhirnya, keempat Elemental menyesali kehancuran yang mereka sebabkan. Mereka bersepakat untuk mengakhiri pertikaian dan mengorbankan sebagian dari diri mereka demi masa depan Bumi Ghaia yang lebih baik.

Di setiap lokasi para Elemental berkorban, terbentuklah berbagai kehidupan baru. Di bukit selatan Hutan Mycelia ini adalah lokasi Raksasa Batu bernama Graphi merelakan separuh tubuhnya. Pengorbanannya menjadi perisai yang menahan tanah ini dari bencana gempa yang amat dahsyat.

Dari serpihan kristal ajaib yang tersisa di tubuh Graphi, kehidupan baru bermekaran: Suku Milimili, jamur-jamur purba yang dikenal sebagai Para Perintis Hutan. Mereka adalah Fermento si Koki, Elder Gano sang Penyembuh yang Bijaksana, Lic si Petani, Lumos si Penunjuk Jalan, dan Liora si Penjaga Pengetahuan. Meski mereka telah menjaga wilayah ini sejak lama, mereka belum menyadari kekuatan yang tersembunyi di dalam bebatuan kristal tempat mereka tinggal.

Kini, para Petualang, dunia magis ini menantimu. Temui Suku Milimili, bantu mereka mengungkap rahasia kristal yang mereka warisi dan mengaktifkan kembali kekuatan Graphi. Hanya dengan itu suku Milimili akan memahami peran mereka sebagai perawat Bumi Ghaia dan bisa menjaga keseimbangan alam.

Siapkan dirimu untuk petualangan malam yang seru. Setiap langkah akan membawamu semakin dekat pada misteri, keajaiban, dan kekuatan tersembunyi di dalam Taman Main Milimili.

Begitulah narasi panjang yang terpampang dari pintu masuk menuju Taman Main Milimili. Lalu apakah itu Taman Main Milimili?

Taman Main Milimili merupakan wahana wisata baru yang ada di Terminal Wisata Grafika Cikole (TWGC) Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Fantasinya hanya bisa dinikmati pada kegelapan malam.

Ketika wisatawan masuk ke Taman Main Milimili serasa berada di dunia entah berantah. Semua yang ada di sana, batu, pepohonan, dan langit-langit mengeluarkan cahaya.

General Manager TWGC, Sapto Wahyudi mengatakan, Taman Main Milimili merupakan inovasi yang terus dikembangkan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan khususnya di Lembang, umumnya Bandung Barat.

“Wisatawan yang berkunjung ke Lembang tak perlu buru-buru balik pulang. Kami menawarkan wahana wisata malam yang berbeda dari yang sebelumnya,” kata Sapto pada Sabtu (31/5/2025) malam.

Dijelaskannya, Taman Main Milimili
sebagai pengembangan dari Hutan Mycelia yang sudah dibuka sekitar 1,5 tahun lalu.

“Ide Taman Main Milimili ini merupakan bentuk kepedulian dari Ketua PHRI yang juga Direktur PT Putra Karya Grafika, Eko Supriyanto yang berkeinginan untuk meningkatkan ekupansi kunjungan hotel dan restoran yang ada di kawasan Lembang,” ujarnya.

Berbeda dengan Mycelia, Sapto menyebut Taman Main Milimili mengajak pengunjung melakukan interaksi dengan suara, gerakan, maupun pukulan yang bisa merespon lampu-lampu menyala dengan indah.

“Buka pukul 18.00 WIB sampai 22.30 WIB,” ucapnya.

CEO PT Sembilan Matahari, Adi Panuntun mengatakan, Taman Main Milimili merupakan hasil kolaborasi antara Sembilan Matahari dan TWGC.

“Taman Milimili ini menghadirkan wisata edukasi yang mengedepankan pengetahuan, pengalaman dan kreativitas,” kata Adi Panuntun.

Kabid Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB, David Oot mengapresiasi terobosan, kreativitas, dan inovasi yang dilakukan TWGC. Dengan adanya Taman Main Milimili maka KBB memiliki 159 atraksi wisata.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada manajemen TWGC dengan kreativitas dan inovasi dari rekan-rekan semua, menjadikan destinasi wisata Lembang khususnya selalu terdepan di Jabar. Tinggal kita secara bersama, kompak membentuk ekosistem kepariwisataan daerah,” kata David.

Ia juga mengimbau kepada pengelola destinasi wisata untuk memperhatikan penambahan jam operasional sampai malam.

“Perlu disertai SOP tata kelola destinasi yang jelas terutama dalam faktor keamanan dan kenyamanannya serta selalu siap dalam mitigasi kebencanaan,” pungkasnya.*

Fantasi cahaya nan memukau di Taman Main Milimili.(Dicky Mawardi/Satumedia).**

Pos terkait