SATUMEDIA.ID – Terbitnya Surat Edaran Pj Gubernur Jawa Barat Nomor : 64/PK.01/Kesra tentang Study Tour Pada Satuan Pendidikan menimbulkan polemik.
Ada kalangan yang mengkhawatirkan SE tersebut bisa mematikan industri pariwisata. Apalagi dalam beberapa pekan ke depan mulai memasuki liburan sekolah yang merupakan masa marema bagi pengusaha pariwisata bakal terkena imbasnya.
Diketahui, salah satu poin dari SE Gubernur yaitu agar study tour dilaksanakan dalam lingkungan Provinsi Jawa Barat. Siswa bisa berkunjung ke pusat perkembangan ilmu pengetahuan, pusat kebudayaan, dan destinasi wisata edukatif lokal.
Ternyata, tak semua destinasi wisata merasakan dampak negatif dari terbitnya SE Gubernur Jawa Barat tersebut. Seperti yang dirasakan destinasi wisata
Terminal Wisata Grafika Cikole (TWGC) Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang malah banyak dikunjungi rombongan sekolah.
“Pasca kejadian kecelakaan bus yang membawa rombongan siswa di Ciater, kemudian terbitnya SE Gubernur tentang Study Tour pada awalnya sempat menimbulkan kekhawatiran. Seperti kami alami sendiri, ada sekitar 7 rombongan siswa dari kabupaten/kota di Jawa Barat yang membatalkan kunjungan. Padahal mereka sudah membayar DP (down payment/uang muka). Kami memaklumi, makanya DP kita kembalikan 100 persen,” kata General Manajer (GM) TWGC Lembang, Sapto Wahyudi, Selasa (21/5/2024).
Pembatalan juga dilakukan 4 rombongan sekolah asal Lampung. Sementara yang melakukan penjadwalan ulang atau rescheduling sekitar 5-6 rombongan sekolah.
“Setelah sempat terjadi sejumlah pembatalan, Alhamdulilah sekarang mulai kembali pulih. Malah pada 22 Mei 2024 kami sudah full untuk makan siang di Restoran TWGC. Ada 22 rombongan atau grup sekolah yang berasal dari Jawa Barat, Jabodetabek ,dan beberapa daerah di Jawa Tengah yang datang ke TWGC,” ungkapnya.
Rombongan sekolah yang study tour ke TWGC, lanjut Sapto, salah satunya dari sekolah di Cirebon. Sebelum berangkat, pihak sekolah tersebut memberlakukan aturan ketat kepada pengusaha bus.
“Kemarin saya sempat ngobrol dengan pimpinan rombongan sekolah asal Cirebon itu, mereka menerapkan aturan ketat, sebelum berangkat pihak bus harus menjamin kelaikan kendaraan dengan memperlihatkan hasil uji kir,” tandasnya.
Diakuinya, ada sisi positif dengan larangan study tour keluar Jawa Barat. Dimana sekolah akan memilih daerah tujuan study tour di dalam wilayah Jawa Barat. Sehingga destinasi wisata bakal ramai dikunjungi siswa.
“Saya juga dapat informasi dari rekan di daerah Priangan Timur. Sejumlah sekolah di Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran yang biasanya akan study tour ke Yogyakarta akan dialihkan ke Bandung Raya. Tentunya ini jadi kabar positif bagi kami, destinasi wisata di sekitar Bandung bisa tetap menggeliat,” tandasnya.
Ia pun memberikan catatan, bahwa kecelakaan lalu lintas bisa menimpa siapa saja, tak terkecuali bus pariwisata. Penyebabnya tak hanya karena kondisi kendaraan, tapi faktor pengemudi.
Oleh karena itu, lanjut Sapto, pihaknya selalu memperhatikan kru bus baik sopir maupun kondekturnya. Dengan menyiapkan tempat istirahat yang nyaman, makanan dan minuman yang sehat, dan lahan parkir yang memadai.
“Bahkan TWGC Lembang memiliki koneksi dengan sejumlah bengkel. Sehingga manakala ada kendala pada mesin kendaraan, kami bisa membantu mendatangkan mekanik. Dengan berbagai fasilitas ini, diharapkan ikut meminimalisir terjadinya kecelakaan lalu lintas,” tukasnya.*





