SATUMEDIA.ID – Puluhan ribu pekerja tambang di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terancam kehilangan mata pencaharian, akibat perusahaan tepatnya bekerja kesulitan mendapat bahan baku batu kapur atau gamping.
Pasalnya, banyak perusahaan tambang tak mendapat perpanjangan izin usaha penambangan (IUP). Sehingga para pengusaha tambang tak berani melakukan eksplorasi atau penambangan ketika IUP tak keluar.
“Yang paling terpukul adalah UMKM yang bergerak di sektor pengolahan batu kapur atau gamping. Usaha tidak jalan karena ketiadaan bahan baku,” kata salah satu pelaku UMKM olahan batu kapur, Radi Rochyadi asal Kampung Cibogo RT05/RW 04, Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, KBB, saat ditemui Jumat (27/6/2025).
Radi menyebut, tidak beroperasi dan ditutupnya sebagian besar galian batu kapur berpengaruh pada pasokan bahan baku. Hasil penambangan menjadi sangat terbatas sehingga tidak memadai untuk diproduksi sesuai volume kebutuhan.
Ia mengungkapkan, pabrik olahan batu mulai dari perusahaan skala besar, menengah dan home industry (UMKM) sebagian besar berada di Desa Citatah, Gunung Masigit masuk Kecamatan Cipatat, serta Desa Ciburuy dan Padalarang di Kecamatan Padalarang.
“Terdapat sekitar 42 perusahaan besar dan menengah. Terbanyak industri rumahan atau UMKM yang jumlahnya mencapai ratusan. Di sektor tambang ini, mampu menyerap tenaga kerja sekitar 10 ribuan orang,” ungkapnya.
Namun sejak perusahan galian batu kapur tidak beroperasi karena ditutup, mengakibatkan industri olahan batu kapur banyak yang menghentikan usahanya. Paling merasakan dampaknya pelaku UMKM.
“Satu persatu UMKM di sektor pengolahan batu kapur atau gamping menghentikan usahanya. Bila ini terus dibiarkan, 10 ribu pekerja bakal kehilangan pekerjaan. Bila itu terjadi, lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Dampak ekonomi dan sosialnya harus dipertimbangkan,” tandasnya.
Bahkan, menurutnya, angka pengangguran bisa jauh lebih besar karena hasil olahan batu kapur sangat dibutuhkan untuk
industri pakan ternak (feed mill), stabilisator pH tanah untuk pertanian dan perkebunan.
“Batu kapur ini mengandung unsur kimia kalsium sehingga juga digunakan untuk
smelter baja, industri rafinasi gula, industri bata ringan, roster, semen dan bahan bangunan lainnya, pengolahan crude palm oil (CPO) dan berbagai industri turunan lainnya. Itu artinya, banyak sektor yang terpukul dan mengancam gelombang PHK,” tuturnya.
Ia menyebut, dampak dari kesulitan bahan baku sudah dirasakan imbasnya oleh pabrik bahan bangunan di Citeko, Plered, Kabupaten Purwakarta.
“Pabrik pembuat roster di Citeko itu bahan baku batu kapurnya dari Cipatat. Saya pun sudah tak bisa memasok kapur yang sudah diolah ke Citeko karena memang bahan bakunya tidak ada,” keluh Radi.
Keluhan sama disampaikan Iyan Sopian (36), pelaku UMKM olahan batu kapur di Kampung Cisaladah RT03/RW 10 Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat.
Ia menyebut terdapat 40 UMKM pengolahan batu kapur di Cisaladah. Namun dalam sebulan terakhir sudah tiga UMKM yang tutup karena tidak mendapat pasokan bahan baku.
“UMKM yang sekarang masih berproduksi karena masih memiliki sisa bahan baku. Seperti saya, hari ini sudah habis. Itu berarti besok sudah tidak bisa beroperasi lagi. Terus terang saya bingung dengan nasib 14 karyawan ke depan,” kata Iyan pemilik CV SLJP ini.
Ia mengaku, jika besok tidak beroperasi dirinya masih bisa bertahan satu sampai dua bulan ke depan. Tapi bagi 14 karyawannya untuk menyambung hidup satu atupun dua hari ke depan akan kesulitan.
“Mereka itu tidak memiliki keahlian di bidang lain, pendidikannya pun tidak ada yang tinggi. Bahkan, ada yang buta huruf karena tidak pernah mengenyam pendidikan,” sebutnya.
Oleh karena itu, Iyan menegaskan keberatan dengan langkah penutupan tambang di wilayahnya. Gelombang pengangguran dan angka kemiskinan bakal mengalami lonjakan.
“Kita keberatan, ini usaha komoditas dan semua saling bergantung mulai dari kakek sampai cucu, termasuk pekerja. Memang berbicara kesejahteraan masih jauh, tapi minimal cukup untuk makan mereka. Kalau sampai mata pencaharian ditutup, lalu dari mana mereka bisa menyambung hidup,” tandasnya.*



