SATUMEDIA.ID – Keresahan kini tengah melanda pekerja tambang di Kabupaten Bandung Barat. Ancaman kehilangan mata pencaharian akibat perusahaan tempatnya bekerja kesulitan mendapatkan bahan baku batu kapur atau batu gamping sejak satu bulan terakhir.
Kampung Cisaladah, RT03/RW10, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat merupakan salah satu lokasi industri rumahan atau UMKM tambang batu kapur di Bandung Barat.
Tercatat ada 40 industri kapur rumahan. Namun, sudah tiga UMKM yang sudah menghentikan aktivitas produksinya akibat kesulitan mendapat bahan baku.
Informasi yang dihimpun, setiap satu UMKM rata-rata mempekerjakan 15 orang pekerja. Jika sudah tiga tempat usaha yang tutup maka sekitar 45 orang sudah tak bisa bekerja.
Salah seorang pekerja tambang, Suhendar (50) mengaku bingung ketika mengetahui perusahaan tempatnya bekerja sudah mulai mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku. Itu artinya, jika sampai tidak bekerja maka secara otomatis dirinya tak bisa lagi menafkahi istri dan dua anaknya.
“Saya punya istri dan tiga anak. Tinggal dua anak yang masih tinggal serumah. Entahlah jika saya berhenti bekerja, mau bagaimana nasib keluarga ke depan,” lirih Suhendar, Sabtu (29/6/2025).
Ya, Suhendar adalah salah satu pekerja tambang yang sudah belasan tahun menekuni profesi. Diakuinya, ia hanya memiliki modal kekuatan otot dan ketekunan yang selama ini menjadi sumber penghasilnya.
Bekerja di perusahaan tambang batu kapur sudah turun temurun. Begitupun dengan anak sulungnya, kini juga berprofesi sebagai pekerja tambang di perusahaan berbeda.
“Pendidikan saya rendah, tidak punya keahlian lain. Menjadi petani tidak punya lahan. Jadi kekuatan saya hanya otot dan semangat bekerja,” ujar pria yang wajahnya menghitam karena sengatan matahari.
Dia tinggal di Kampung Cihalimun RT03/RW22, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat. Untuk sampai ke tempatnya bekerja, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak.
Itupun harus melewati sejumlah bukit yang memakan waktu 1,5 jam. Namun ketika hujan mengguyur membuat perjalanan menjadi bertambah berat.
“Kalau turun hujan bisa memakan waktu 2-2,5 jam,” ucapnya.
Tempat tinggal Suhendar memang berada di pelosok melewati sejumlah perbukitan batu kapur. Setiap hari harus melewati Gunung Cihalimun, Bojong Honje dan Pumarin.
Penambang lainnya, Erpin (27) juga khawatir jika tempatnya mencari nafkah berhenti beroperasi. Padahal dirinya masih butuh biaya untuk menyekolahkan dua anaknya yang masih sekolah.
“Yang paling besar baru mau masuk SMP, dan anak nomor dua masih duduk di bangku SD,” ucap Erpin.
Berbeda dengan Suhendar, Erpin merupakan lulusan SMA. Sejak lulus, sudah tak terhitung berapa lamaran yang dibuatnya. Namun tak ada satupun yang menerimanya.
Hingga akhirnya, dia memilih bekerja di perusahaan tambang. Meski debu setiap hari menyelimuti tempat kerjanya, namu tetap setia dilakoninya.
“Sulit sekali mencari pekerjaan, siapa sih yang tidak ingin kerja kantoran. Tapi harapan itu hanya tinggal impian. Pada akhirnya saya menjalani hidup sebagai pekerja tambang dari pada menganggur,” kata Erpin melanjutkan jejak orangtuanya.
Tapi kini, Erpin tengah dihadapkan pada kenyataan yang sewaktu-waktu bisa membuatnya kehilangan pekerjaan.
“Kalau boleh saya bersuara, tolong jangan tutup tempat penambangan. Saya khawatir dengan masa depan anak-anak, takut putus sekolah. Kalau sudah begitu, cita-cita bisa memperbaiki kehidupan anak-anak malah terasa suram,” lirihnya.*


