Pencipta Karatagan Bandung Barat dan Hymne Bandung Barat Sakit Hati, Lagunya Kerap Dilombakan Tanpa Izinnya

Pencipta lagu Karatagan Bandung Barat dan Hymne Bandung Barat, H. Ase Rukmantara (72).(Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Pencipta lagu Karatagan Bandung Barat dan Hymne Bandung Barat, H. Ase Rukmantara (72) sakit hati lantaran dua karya fenomenalnya itu kerap dilombakan namun tanpa meminta izin darinya.

“Ya, saya sakit hati setiap mendengar kedua lagu itu dilombakan tapi saya gak dikasih tahu,” kata H. Ase Rukmantara saat ditemui di rumahnya di Kampung Pabuaran RT 03/RW13, Desa Mandalawangi, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (30/7/2025).

Di balik lagu yang kerap dinyanyikan pada setiap acara besar Pemkab Bandung Barat itu, H.Ase mengaku belum pernah mendapat kejelasan baik terhadap karyanya seperti royalti, Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk perlindungan hukum atas karya-karyanya maupun nasib kehidupannya.

Pria yang bersahaja ini, menegaskan
dirinya bukan orang yang tamak dan rakus. Namun, hanya meminta keadilan dari Pemkab Bandung Barat.

“Saya bukan orang tamak dan rakus, tapi tolong munculkan keadilan sesuai lirik lagu. Kami ingin melihat kepedulian Pemkab Bandung Barat sesuai harapan dari makna lagu itu,” tegasnya.

Dia mengaku, selama 18 tahun Bandung Barat berdiri tidak pernah mendapat apresiasi maupun atensi dari Pemkab Bandung Barat.Termasuk, HAKI atau bantuan untuk dirinya sebagai pencipta lagu Karatagan Bandung Barat dan Hymne Bandung Barat.

“Dulu pernah ada yang ngasih Rp2 juta waktu Hari Jadi KBB ke-2, tupun bukan dari pemerintah,” sebutnya.

Ia menceritakan, perlakuan berbeda didapatnya dari Pemkab Bogor. H.Ase dan (Alm) Tedja Sukmana merupakan pencipta Mars Kabupaten Bogor yang berjudul, Tegar Beriman (1993).

Pada era Bupati Bogor Eddie Yoso Martadipura (1988-1998) karyanya langsung dipatenkan dan mendapatkan atensi dari Pemkab Bogor hingga saat ini.

“Alhamdulillah lagu Tegar Beriman yang jadi Mars Kabupaten Bogor yang saya ciptakan bersama pak Tedja Sukmana langsung dipatenkan hak ciptanya oleh Pemkab Bogor pada tahun 1994,” sebutnya.

Ia dan (Alm) Tedja Sukmana pernah mendapat kadeudeuh sebesar Rp350 juta dari Pemkab Bogor yang saat itu dipimpin Bupati Agus Utara Efendi (1998-2008).

“Kadeudeuh sebagai bentuk penghargaan kepada kami. Hanya saja pak Tedja gak sepenuhnya bisa memanfaatkan apresiasi itu karena beliau meninggal dunia,” sambungnya.

Ia mengungkapkan, setiap peringatan Hari Jadi Kabupaten Bogor dirinya dan Tedja masih mendapatkan atensi dari Pemkab Bogor.

“Kalau setiap hari jadi Kabupaten Bogor juga alhamdulillah masih sering ngasih Rp10 juta.Hanya memang dua tahun terakhir belum ada lagi,” ujarnya.

Diusianya yang sudah renta, juga sakit karena penyakit paru-parunya sudah dibor masih memiliki semangat untuk terus berkarya dan bermimpi bisa menghidupkan kembali Sanggar Pasewakan Seni Bandung Purwa yang sudah lama tak aktif.

“Karena paru-paru harus dibor pada 2014, saya terpaksa menjual peralatan sanggar dengan harga murah. Mestinya Rp90 juta dijual Rp15 juta, Belum lagi sebagian ada yang mencuri,” ungkapnya.

Kini, ia memiliki obsesi untuk kembali menghidupkan sanggar yang udah lama tutup agar seni dan budaya di Bandung Barat bisa terus diwariskan dan terus lestari.

Diketahui, Sanggar Pasewakan Seni Bandung Purwa dibangun oleh Gubernur Jawa Barat di masa kepemimpinan Ahmad Heryawan. Awalnya memiliki 60 murid dan fokusnya di seni tari.

Satu lagi, H. Ase juga tengah berjuang untuk membantu menyelesaikan pembangunan masjid di kampung halamannya.

“Tak jauh dari rumah saya, ada masjid yang lagi dibangun. Sekarang mau pasang kanopi biar kalau hujan tidak basah ke dalam,” ucapnya.*

Pos terkait