Pengerjaan Proyek Bundaran Jati Kota Cimahi Menyisakan Waktu Tiga Minggu

Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudistira meninjau Proyek pembangunan bundaran Jati di Jalan Raden Demang Hardjakusumah dan Jalan Jalan Daeng Moh Ardiwinata, belum lama ini.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Proyek pembangunan bundaran Jati di Jalan Raden Demang Hardjakusumah dan Jalan Daeng Moh Ardiwinata sesuai jadwal rampung pada 1 September 2025.

Proyek dengan alokasi anggaran Rp 2,2 miliar tersebut, dimulai pada 4 Juni 2025. Dikerjakan CV. Satia Anugerah meliputi pengerjaan pengembangan saluran drainase, trotoar dan pembentukan bundaran dengan skema baru atau perubahan desain.

Pejabat Fungsional Teknik Jalan dan Jembatan Ahli Muda dari Dinas Bina Marga, Made Wardana, mengatakan proyek pelebaran jalan di kawasan Pemkot Cimahi merupakan bagian dari optimalisasi infrastruktur.

“Secara kontrak memang tinggal tiga minggu lagi. Tapi karena adanya keinginan dari pimpinan untuk menjadikan bentuk bundar yang simetris, kami sedang lakukan penyesuaian sikansi-nya,” terang Made Wardana, akhir pekan kemarin.

“Sebenarnya, bentuk awalnya bukan bundaran simetris. Hanya saja, atas arahan pimpinan bentuknya disempurnakan lebih bundar dan simetris,” tambahnya.

Ia menjamin, material yang digunakan dalam proyek ini, mencerminkan pendekatan kualitas dan ketahanan. Untuk trotoar jalan pihaknya menggunakan sandstein, material pabrikan yang diklaim lebih kuat daripada batu andesit.

Dijelaskannya, sandstein ini seperti tegel lantai, warnanya menyerupai andesit namun buatan pabrik, kualitasnya lebih baik karena kekuatannya telah teruji. Produk ini berasal dari PT Cisangkan, Cijerah, Bandung.

“Untuk salurannya menggunakan lilit box dan saluran prefab dari Beton Elemindo Perkasa yang berlokasi di Jalan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Salurannya ada dua jenis, yakni U-ditch dan box culvert. Untuk duckting kita ambil diameter 80×80 cm,” tuturnya.

Menurutnya, saluran tersebut bisa menampung debit air meski pada kondisi hujan ekstrem tetap berpotensi menimbulkan genangan.

“Tapi dengan dimensi sebesar itu, air bisa lebih cepat surut,” ucapnya.

Ia menambahkan, proyek pelebaran jalan tersebut memanfaatkan sistem perkerasan lentur yang berbasis aspal dan bukan jalan beton (rigid pavement) mempunyai struktur yang berbeda dengan perkerasan jalan aspal.

Ia menyebut digunakan LPB setebal 30 cm, LPA 15 cm dan ditutup AC-BC setebal 7,5 cm. Itu model hotmix yang menjadi penahan kekuatan. Karena jalan baru, wajib ada AC-BC-nya.

“Secara keseluruh konstruksi telah memenuhi standar teknis dan spesifikasi yang berlaku untuk perkerasan lentur, termasuk pada tahap akhir yang akan dilakukan hotmix.,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, dimensi jalan baru mencapai 45 meter x 7,5 meter, dengan tambahan pelebaran jalan 6 meter yang terbagi ke dalam dua lajur. Trotoar yang mengapitnya memiliki lebar 2 meter.

Jalan baru memiliki panjang 45 meter, lebarnya 7,5 meter. Sementara yang pelebaran dua lajur ini totalnya sekitar 70 meter, dengan masing-masing lajur selebar 3 meter,” ungkapnya.*

 

Pos terkait