SATUMEDIA.ID – Memiliki rumah besar, halaman luas dengan arsitektur yang modern dan wah, lengkap dengan kolam renangnya, tentunya menjadi impian setiap orang. Tapi bagaimana jika lokasinya berada di daerah rawan bencana, seperti dekat dengan gunung berapi, daerah patahan atau rawan gempa maupun rawan banjir.
Bagaimana pun juga, struktur bangunannya harus cocok dengan kondisi atau lokasi tempat tinggal. Seperti wilayah Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) selain berada di kaki Gunung Tangkubanparahu juga dilintasi patahan atau sesar aktif.
Sesar Lembang menyimpan potensi gempa yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) per tanggal 14 Agustus 2017, patahan Lembang berpotensi menimbulkan gempa dengan magnitudo maksimum 6,8.
Gempa sebesar itu pernah terjadi pada 2.000 tahun lalu, dan 6,7 SR terjadi sekitar 500 tahun lalu.
Bukti aktifnya patahan Lembang terjadinya gempa berkekuatan 3,3 SR yang menimpa Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, KBB pada 28 Agustus 2011. Sedikitnya 103 rumah rusak akibat gempa bersumber dari patahan tersebut.
Salah seorang warga Lembang, Raden Bagja Mulyana (48) menyadari bangunan panggung atau berbahan material kayu sangat cocok diterapkan di Lembang, Keinginan membangun rumah kayu, tidak didasarkan hanya ingin beda saja dengan rumah pada umumnya.
Namun didasarkan pada informasi yang sangat penting bahwa wilayah Lembang merupakan salah satu wilayah rawan gempa. Hal itu dikarenakan adanya patahan Lembang.
”Itu salah satu alasan kuat untuk membangun rumah kayu,” kata Raden warga Kampung Pangragajian RT 01/RW 12, Desa Kayuambon, Kecamatan Lembang, Jumat (22/8/2025).
Dengan membuat konsep rumah panggung dengan material kayu, Raden berharap tentunya bisa meminimalisir kerusakan bangunan jika terjadi gempa. Paling penting bisa meminimalisir jatuhnya korban karena material digunakan relatif ringan.
”Pernah dulu ada gempa kecil, bangunan depan hanya bergoyang saja (ngenyod), tapi untuk bagian belakang rumah setelah dicek ada retakan-retakan kecil di dinding bangunan,” urainya.
Lebih jauh Raden mengatakan, rumah dibangun bertujuan untuk menjadi tempat tinggal keluarga yang harus dipikirkan secara matang. Pasalnya, rumah harus bisa dirasakan nyaman dan aman oleh anggota keluarga.
“Atas dasar tersebut maka diputuskan atas persetujuan istri, dibuatlah rumah panggung dengan menggunakan material kayu. Kami juga melakukan penelurusan di internet untuk mendapatkan referensi tentang rumah kayu,” paparnya.
Konsep rumah yang dibuat cukup sederhana untuk bagian inti rumah yang meliputi teras, ruang tamu dan dua kamar tidur. Keseluruhan bangunan material kayu seluas 5 meter x 7 meter. Sedangkan untuk bagian tengah dan belakang yang meliputi ruang keluarga, dapur dan kamar mandi menggunakan material kayu campuran bahan seperti rumah biasa.
”Untuk bagian belakang terutama dapur sengaja tidak menggunakan full kayu karena pertimbangan keamanan,” jelasnya.
Raden mengungkapkan, ide untuk membangun rumah kayu mengundang banyak pertanyaan dari saudara dan tetangga. Mereka menganggap bahwa rumah kayu sudah tidak zaman lagi dan tidak terlihat megah seperti rumah modern yang lagi ngetren saat ini.
Bahkan mereka menganggap membuat rumah kayu sangat rumit dan membutuhkan waktu lama. Apalagi melihat bahan yang dibutuhkan tidak “beli jadi” di toko bangunan.
”Kalau ingin menekan biaya, ya harus ambil risiko dengan tidak membeli bahan jadi langsung. Bagi saya, selain nyaman rumah itu harus aman. Apalagi berada di dekat daerah rawan bencana, sudah seharusnya dibangun sesuai dengan kondisi lingkungan setempat,” ungkap Raden.
Berubah
Ia menceritakan, dulu di Lembang banyak berdiri rumah panggung atau kayu. Tapi sekarang, semuanya sudah berubah. Orang Lembang lebih memilih rumah beton, bahkan tak sedikit yang membangun bertingkat-tingkat.
“Mindset orang Lembang sudah berubah. Tadinya tinggal di rumah panggung, tapi mungkin karena zaman berubah banyak yang dibongkar dan diganti rumah beton,” kata Raden.
Menurut salah seorang pemerhati bangunan, Dani Prianto Hadi, bangunan di Lembang harus tahan gempa mengingat posisinya berada di daerah patahan. Secara umum ada 2 cara membuat bangunan menjadi tahan gempa, pertama adalah membuat struktur dan komponen bangunan yang kuat terhadap gempa, dan kedua dengan meredam getaran gempa itu sendiri.
“Meredam getaran gempa bisa dilakukan dengan memberikan lapisan elastomer pada bagian sloof dan pondasi,
atau dengan membuat bantalan karet dan pelat baja. Dalam beberapa kasus gempa, bantalan karet ini dapat meredam getaran gempa sebesar 75 persen, sisanya yang 25 persen diteruskan ke
struktur bangunan bagian atas,” kata Dani.
Sebenarnya, lanjut Dani, bangunan tradisional berupa rumah panggung sudah memenuhi beberapa persyaratan tahan gempa, di antaranya berbahan ringan dan berdacktilitas tinggi, ada ikatan antar struktur yang kuat, atap langit-langitnya rendah, simetris, dan diletakan di atas batu pondasi langsung di atas tanah.
“Rumah panggung maupun rumah yang terbuat dari kayu lebih cocok dibangun pada daerah yang sering mengalami
gempa,” tukasnya.*





