SATUMEDIA.ID – Menyebut Kota Baru Parahyangan pasti terpateri dalam ingatan sebagai kota mandiri berwawasan pendidikan. Memiliki fasilitas lengkap pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi.
Kota Baru Parahyangan berdiri pada tahun 2000, menjadikannya kota mandiri pertama dan terluas di Bandung dengan luasan sekitar 1.250 hektare.
Diusianya sekarang yang menginjak ke 25 tahun, terus berkembang pesat. Layaknya, sebuah kota mandiri, berbagai fasilitas mulai hotel, perbankan, pusat perbelanjaan, wisata, hingga kuliner sudah ada di sana.
Menarik dibahas soal kuliner. Bagaimanapun juga, kini, Kota Baru Parahyangan yang disingkat KBP ini telah menjelma menjadi destinasi kuliner terlengkap di Bandung.
Dari resto lokal hingga kelas internasional sudah berdiri di KBP. Uniknya, tidak hanya penghuni KBP, atau warga sekitar KBB yang datang.
Bahkan, dari Kota Bandung, Kota Cimahi, Cianjur, Purwakarta, Subang, Garut, Tasikmalaya, Jakarta dan luar kota lainnya sengaja berwisata kuliner ke Kota Baru Parahyangan.
Mengapa pilih KBP untuk berwisata kuliner? Jawabannya sederhana, mudah di akses dari tol. Ditambah kondisi lingkungan ikut membuat orang betah.
Tak hanya itu, dengan seribu satu kuliner yang ada di satu kawasan memberikan banyak pilihan bagi pengunjung. Contohnya, begitu masuk gerbang KBP ditandai dengan jam matahari alias sundial hanya berjarak kurang lebih 200 meter sudah disambut KFC dan Bale Pare yang menyajikan beberapa tenant dengan beragam kuliner.
Masih di jalur utama KBP, di sepanjang jalan utama terdapat beberapa resto dan kafe. Sebut saja Rumah Makan Padang Bu Mus, Excelso, McDonald’s, Starbucks, Ambrogio, dan sebagainya.
Belum lagi ada La Pantry yang terkenal dengan steaknya, Karnivor, Kopi Nako, Kedai Anak Binjai alias Kabin. Ada pula Bumi Hejo dengan Payung Madinah-nya yang menyajikan keanekaragaman kuliner.
Ada pula menu makanan ala Swedia di IKEA, Sate Senayan di Hejo Square, dan masih banyak lagi. Tentunya, sekarang yang lagi viral adalah tempat nongkrong di Bumi Luhur yang memang lokasinya berada di atas bukit.
Di Bumi Luhur, pengunjung tak hanya sekadar menikmati kopi, juice, maupun makanan ringan tapi juga dimanjakan dengan keindahan panorama alam. Terhampar genangan waduk Saguling yang memesona dengan sekeliling rumah-rumah elit. Seolah bukan di Kabupaten Bandung Barat. Belum lagi areal perbukitan di sekeliling Bumi Luhur.
Direktur PT Belaputera Intiland Kota Baru Parahyangan, Ryan Brasali mengatakan, lebih dari 100 kuliner yang berada di kawasan Kota Baru Parahyangan. Bakal terus bertambah seiring dengan pengembangan kawasan Kota Baru Parahyangan.
“Jumlahnya bisa lebih dari seratus, bahkan dapat terus bertambah. Seiring dengan pengembangan kawasan Kota Baru Parahyangan,” kata Ryan.
Salah seorang pengunjung, Adly (20) asal Kopo, Kota Bandung mengaku, sengaja ke Bumi Luhur karena terpesona dengan lokasinya yang eksotik.
“Saya tadi pesan kopi dan makanan camilan kentang goreng dan sosis. Cocok disantap sambil menikmati keindahan alam,” ucap Adly.
Ia datang bersama tiga orang temannya, memang sengaja ke Kota Baru Parahyangan di sore hari ingin melihat matahari terbenam (sunset).
“Pernah datang pagi, sengaja jogging ke sini. Tapi panas ya mendekati siang, makanya saya balik lagi sengaja sore. Ternyata lebih mengasyikkan,” tandasnya.
Begitu halnya dengan Mariana (36) warga Sekelimus, Buah Batu, Kota Bandung, sengaja ke Kota Baru Parahyangan untuk jalan-jalan sambil mencari kuliner yang cocok.
“Di KBP ini, banyak sekali pilihan kulinerannya. Dari harga terjangkau sampai mahal, semua lengkap. Lokasinya nyaman, parkirnya juga gratis,” kata Mariana.
Kini, KBP memang telah menjelma menjadi surga kulinernya di Bandung Raya. Kota seribu satu kuliner.*
Keberadaan kuliner melengkapi keragaman fasilitas kota yang sudah terlebih dulu ada. Mulai dari pendidikan, kesehatan, olahraga, hingga rekreasi. Semuanya ada di Kota Baru Parahyangan, kota mandiri, madani dan alami.*






