Insiden Keracunan Massal, DPRD KBB Pertanyakan Peran Ahli Gizi di Dapur SPPG

Komisi IV DPRD KBB mengecek kondisi pasien keracunan makanan program MBG di RSUD Cililin, Kamis (25/9/2025).(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Kasus keracunan makan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berulang di Kabupaten Bandung Barat (KBB), mengundang tanda tanya besar Komisi IV DPRD KBB. Dari dua lokasi, Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas lebih dari 1.000 siswa yang menjadi korban keracunan.

“Dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penyedia makanan bagi para siswa, kan ada Standar Operasional Prosedur (SOP) Sanitasi dan Keamanan Makanannya. Jelas, di setiap SPPG harus ada ahli gizinya. Timbul pertanyaan, kalau ada ahli gizi tentunya tidak perlu kejadian keracunan massal seperti ini,” kata Ketua Komisi IV DPRD KBB, Nur Djulaeha saat mengecek kondisi pasien keracunan di RSUD Cililin, Kamis (25/9/2025).

Rombongan anggota Komisi IV DPRD KBB terbagi dua, ada yang meninjau ke Cipongkor dan RSUD Cililin. Di RSUD Cililin dipimpin Ketua Komisi IV Nur Djulaeha.

“Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya sebatas kepada SPPG yang sedang bermasalah.  Makanya kami akan memanggil seluruhnya, dikhawatirkan jangan-jangan banyak yang tidak ada ahli gizinya,” tutur Nur.

Menurutnya, peran ahli gizi sangat vital dalam program MBG ini. Tidak hanya bertugas untuk memastikan kebersihan dan kelayakan, tapi  kandungan menu MBG yang akan disuguhkan.

“Saya berharap kejadian pertama di KBB ini, menjadi yang terakhir,” tandasnya.

Anggota Komisi IV DPRD KBB, Jajang Sukmahari menambahkan, evaluasi ini harus dilakukan untuk mencegah adanya orang-orang yang bermain dengan program ini.

“Saya berharap kejadian keracunan di KBB ini menjadi trigger bagi yang lainnya. Jangan sampai mengejar keuntungan satu aspek dikorbankan,” kata Jajang.

Jumlah pasien

Sementara itu, Direktur RSUD Cililin, Neng Siti Djulaeha mengungkapkan total pasien keracunan MBG yang masih dirawat sebanyak 47 orang.

“Periode pertama kejadian di Cipongkor, kami menangani 41 pasien, dimana 13 dirawat. Sekarang tersisa 5 pasien yang dirawat,” kata Neng Siti Djulaeha.

Sementara pada kejadian kedua, terdapat 128 pasien  yang ditangani RSUD Cililin dan 45 orang harus dirawat.

“Sampai Kamis siang ini, tinggal 47 pasien yang masih menjalani rawat inap,”  tandasnya.

Ia mengungkapkan, mayoritas pasien mengeluhkan mual hebat, nyeri perut, bahkan beberapa di antaranya sempat mengalami kejang-kejang hingga kesulitan bernapas.

“Kalau pasien periode pertama sebagian sudah diperbolehkan pulang, tapi periode kedua masih harus dirawat. Bahkan, masih ada tambahan dua pasien yang akan masuk,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, penanganan medis dilakukan berbeda, menyesuaikan gejala yang dialami pasien. Semua korban wajib diinfus, lalu diberikan obat sesuai keluhan. “Kalau mual kita beri anti mual, kalau nyeri kita beri anti nyeri. Untuk yang sesak kita beri oksigen, bahkan ada juga yang perlu terapi uap atau nebulizer,” paparnya.

Meski jumlah korban terus bertambah, RSUD Cililin memastikan kebutuhan pasien tetap terpenuhi. Mulai dari obat-obatan, sarana prasarana, hingga kesiapan tenaga medis.

“Alhamdulillah semua masih aman dan siap, meski kami berharap korban tidak bertambah. Saat ini, total tenaga kesehatan yang kami siagakan ada 75 orang,” tegas Neng Siti.*

Ketua Komisi IV DPRD KBB Nur Djulaeha simbolis memberikan paket makanan ringan kepada salah satu orangtua siswa korban keracunan makanan yang dirawat di RSUD Cililin, Kamis (25/9/2025).(Dicky Mawardi/Satumedia).**

Pos terkait